Cerpen

Kuantar Kau ke Peristirahatan Terakhirmu

1 Juli 2016   10:10 Diperbarui: 1 Juli 2016   10:25 227 12 7
Kuantar Kau ke Peristirahatan Terakhirmu
capslocknet.com

Suasana kelas hening, murid-muridku sedang menyelesaikan tugas yang aku berikan. Bermacam ekspresi raut wajah mereka, ada mengernyitkan dahi, ada yang menghela nafas, ada pula yang senyum-senyum sendiri. Semua tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Tiba-tiba pintu diketuk, ada seorang siswa meminta izin masuk.
"Masuk" jawabku.
Permisi bu, ibu diminta bapak kepala sekolah keruangannya" kata siswa yang membawa pesan.

Kutinggalkan kelas menuju ruang kepala sekolah. Sambil menyusuri koridor sekolah aku bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan yang membuat kepala sekolah memanggilku, sedangkan proses belajar mengajar masih berlangsung. Tentu ada sesuatu yang penting sehingga tidak bisa ditunda hingga jam istirahat tiba.

Aku masuki ruang kepala sekolah yang memang telah terbuka, Ada seorang petugas kepolisian di ruangan itu.
Kepala sekolah mendekatiku, ketika melihatku tiba diruangannya.

"Bu Nita, ini ada bapak dari kepolisian mengabarkan tentang suami ibu" jelas kepala sekolah. Sebelum hilang keterkejutanku melihat petugas tersebut.

"Ada apa dengan suami saya, Pak?" tanyaku pada petugas.
"Suami ibu kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit" jelasnya
"Mari saya antar ke rumah sakit untuk memastikannya" lanjut bapak tersebut.

Sesampai dirumah sakit, benarlah sosok yang terbujur kaku tersebut adalah suamiku. Ayah dari kedua buah hatiku.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, perasaan apa yang bersemayam dihati. Kujalani saja semua garis takdir yang menyapaku. Kuselesaikan administrasi rumah sakit, kemudian membawa pulang jenazah dari ayah anak-anakku.

Dirumah sudah berkumpul ibu mertua dan saudara-saudara suamiku. Begitu juga ibu dan bapakku serta saudara-saudaraku. Banyak kerabat dan teman-teman serta tetangga yang hadir mengibur dan menguatkan aku. Bagaimanapun ini semua adalah takdir Allah, usia manusia sudah ditentukannya.

Tiba-tiba semua orang yang hadir terkejut, dengan kedatangan seorang perempuan yang menangis dan menjerit-jerit memanggil nama suamiku, ketika memasuki halaman rumahku. Dia menerobos masuk dalam rumahku dan menangis meraung sejadi-jadinya didepan jenazah suamiku.

Aku tak bergeming dengan kejadian yang tengah berlangsung. Hampir semua orang mengatakan betapa tegar dan kuatnya aku. Mereka tidak tahu, mengapa air mataku tak bisa menetes saat kuketahui lelaki itu telah pergi menemui Sang Khalik. Air mataku telah habis sepuluh tahun yang lalu semenjak perselingkuhan demi perselingkuhannya dimulai.

Semenjak saat itu kami bagai orang asing yang tinggal satu atap. Terlihat seperti pasangan yang begitu harmonis didepan keluarga dan kerabat. Aku melihat perempuan itu begitu kehilangan.

"Aku sudah lama kehilangan dirimu" batinku sambil memandang jenazahnya yang terbujur kaku.
"Maafkan aku sudah tak ada air mata melepas kepergianmu" bisikku.