Prastiwo Anggoro
Prastiwo Anggoro Karyawan swasta

SARJANA TEKNIK SIPIL

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Pilihan

Bangga Menjadi Bangsa Indonesia (Momen Idul Fitri)

17 Juni 2018   10:11 Diperbarui: 17 Juni 2018   14:15 1077 0 0
Bangga Menjadi Bangsa Indonesia (Momen Idul Fitri)
bersama keluarga angkat dari etnis bugis


Indonesia negara yang besar, terbentang dari Sabang (aceh) sampai ke merauke (papua) sekitar 5248 km (lebih panjang dari  London ke Mekkah (4788 km). dengan kisaran 746 bahasa daerah dan 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. dan negara yang mempunyai garis pantai sepanjang  99.093 kilometer (Badan Informasi Geospasial (BIG)- 2013).

Sebuah surga yang turun di muka bumi.  dan saya beruntung berada di dalam nya serta merasakan keanekaragaman dari budaya indonesia. 

Ibu saya beretnis keturunan tionghoa, yg menjadi muslim dari sejak kecil karena menjadi anak angkat dari suku melayu. bapak saya beretnis jawa (keraton solo hadiningrat).

Masa kecil saya di habiskan di lingkungan suku bugis, bahkan saya mempunyai nenek angkat dari suku bugis. masih segar dalam ingatan saya, ketika makan bersama semua lauk pauk di hidangkan dalam satu tempayan besar dan masing2 tidak boleh mengambil lauk nya kedalam piring masing2, jadi satu lauk di makan rame2 dan makan dengan jari tangan tidak menggunakan sendok. hal ini menunjukkan rasa kepercayaan sesama keluarga, percaya akan kebersihan dan percaya bahwa rejeki itu milik bersama, dari semua kepentingan, kepentingan keluarga lah yang paling besar.

Kemudian masa remaja, saya bergaul di lingkungan etnis melayu (keluarga angkat dari ibu saya). akan tetapi kawan2 saya di sekolah kebanyakan dari etnis tionghoa. dan sampai saat ini kami masih berkawan akrab setelah lebih dari 20 tahun (dari SMP).

Walaupun masing2 dari kami sudah mempunyai anak, komunikasi tetap terjaga. dari mereka, saya belajar tentang kejujuran dan rasa saling menghormati satu sama lain. di saat imlek (hari raya China) saya sempatkan untuk berkunjung.  dan begitu juga saat momen idul fitri, mereka yang berkunjung ke rumah. tante saya (kakak kandung ibu saya) yang beretnis tionghoa masih juga menjalin silaturahmi dengan ibu saya.

Keakraban mereka menembus batas agama dan tradisi. itu pun mengalir ke kami, para anak2 nya, walaupun berbeda agama dan tradisi, kami saling menghormati.

mengunjungi rumah tante saat imlek
mengunjungi rumah tante saat imlek
bersama teman2 alumni SMP dan SMA
bersama teman2 alumni SMP dan SMA

Pada saat saya kuliah, saya kembali ke kampung halaman bapak saya yaitu solo. di keluarga jawa, saya belajar sopan santun ala kraton. eyang saya, mengajarkan bahasa kromo inggil, bahasa jawa paling halus yang banyak di gunakan di lingkungan kraton.

Eyang saya, masih memegang adat istiadat jawa yang begitu kental. sopan santun, menghormati yang lebih tua, cara bertutur kata yang di sesuaikan dengan lawan bicara dan selalu menjaga martabat keluarga, adalah hal-hal yang menghiasi hari-hari saya saat di solo.  dan itu juga yang menambah keanekaragaman budaya yang saya dapatkan.  sepupu-sepupu saya serta om dan pakde keluarga  banyak membantu saat awal saya beradaptasi dengan lingkungan keluarga jawa. sampai saat ini, saya masih menjalin komunikasi yang intens dengan mereka-mereka semua, walaupun eyang saya telah berpulang ke rahmatullah. 

bersama keluarga besar eyang hadi supono (di solo)
bersama keluarga besar eyang hadi supono (di solo)

 di momen hari raya 1439 H, keakraban itu terus terasa. saling bertukar ucapan dan doa walaupun jarak terbentang dari keluarga etnis bugis, etnis melayu, etnis tionghoa dan etnis jawa.

saat idul fitri ini, makin merasa bangga menjadi bangsa indonesia. bangsa yang menghargai keanekaragaman, yang tumbuh dengan dinamika tradisi dan adat istiadat. 

bersama keluarga dari etnis melayu (buka puasa bersama)
bersama keluarga dari etnis melayu (buka puasa bersama)