Prabu Bathara Kresno
Prabu Bathara Kresno PNS

Dalam Asa, Rasa, Cipta, Karsa dan Karya Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Lain Sisi: Yang Sabar Ya Bos - Karena Surat, Uangku Bisa Cair

17 Juni 2017   01:50 Diperbarui: 17 Juni 2017   02:07 816 0 0
Lain Sisi: Yang Sabar Ya Bos - Karena Surat, Uangku Bisa Cair
Rizal Rahman Disela-sela tugas sebagai Pendamping PKH

Tibalah pertengahan tahun ini Kantor PKH Kabupaten mulai disibukkan dengan segudang aktivias bisnis proses, tepatnya hari ini adalah saat untuk kroscek data bayar yang ke dua tahun ini.

“Alamak....., bagaimana bisa punyaku ada yang nol?? Padahal uda aku cek semua nih, kok bisa masih ada saja yang nol” gumam Salim sambil menggenggam ponselnya.

Untuk mengecek hasil kroscek tidaklah sesulit dulu, dulu mau download file kroscek kalau tidak buka modem ya ke warnet. Seolah-olah dulu Pendamping susah banget mau online, apalagi seperti Salim ditugaskan di wilayah yang minim sinyal dan jarang dijangkau program-program peningkatan teknologi baik dari Pemerintah ataupun swasta.

Tanpa pikir panjang Salim segera melompat dari tempat duduknya, menghubungkan ponselnya dengan laptop jadulnya yang tak sanggup hidup lebih lama dengan tenaga baterai. Mata Salim meneliti dengan seksama setiap baris data kroscek tersebut. “Filter..... trus pilih yang nominal terimanya 0 trus.......” ucapnya dengan pelan.

“Nah.... ini dia kelihatan sudah siapa yang nol itu...” ucap Salim tiba-tiba.

“Mesnami ama Supiatun..... Perasaan, anak Ibu-ibu ini rajin sekolahnya....” Salim segera mengemas laptopnya dan beberapa berkas ke dalam tas berlogo PKH. Motor bututnya dinyalakan dengan stiker “atas Doa Ibu “ disebelah kiri dan “Buronan Mertua” di sebelah kanan tangki bensin sepedanya. Entah apa maksud kedua stiker itu.

Setelah ia selesai mengenakan sepatu, suara motor Salim pun terdengar di sepanjang gang rumahnya, dengan asap mengepul. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk bisa sampai ke Kantor PKH Kabupaten dengan jarak tempuh sekitar 40 km.

Salim melewati jalan 2 lajur yang kondisinya semakin memprihatinkan, bagaimana tidak sejak sebuah Pabrik dibangun di kawasan rumah Salim, tiap hari kendaraan besar melewati jalan yang tinggal ¼ lebar jalan kalau kendaraan besar itu lewat. Kiri dan ke kanan Salim melewati jalanan yang lumayan padat oleh kendaran besar dan motor-motor warga.

Dalam hati Salim mengingat dan mengatur dahulu apa yang harus dilakukan saat sampai Kantor Kabupaten, karena dari nama-nama Ibu KPM yang mendapatkan 0 rupiah tadi anaknya ternyata sekolah di luar wilayah dampingannya. Sehingga Salim mesti koordinasi dengan Operator dan Pendamping yang ketempatan sekolah anak Ibu KPM dampingannya. Ia masih ingat dulu sekitar 2 tahun lalu, Salim pernah mengalami kejadian seperti ini jadi ia tahu betul apa yang harus dilakukan.

Sampailah Salim di Kantor PKH Kabupaten dan “Alamak..... ternyata Kantor Kabupaten sudah diserbu pendamping lain yang juga mau kroscek dan pemutakhiran...” gumam Salim.

Salim termasuk pendamping yang rajin, ia selalu berhati-hati dengan yang namanya Pemutakhiran, tanpa perlu menunggu hasil Temporary Closing dirilis ia selalu menjaga data KPM dampingannya selalu mutakhir. Namun ada saja cerita yang akhirnya, Salim harus ikutan repot saat kroscek.

“Coba kemarin aku periksa betul-betul, mungkin aku tidak akan ada di tempat ini. Kantor PKH mirip pasar dadakan kalau gini, jadi males mau masuk...” ucap Salim. Ia pun meletakkan tas punggungnya yang penuh itu di teras kantor dan menarik nafas panjang sambil berpikir kira-kira pakai siasat apa biar cepat kelar masalah ini. Salim mondar-mandir di teras itu, lalu perlahan mendekati pintu kantor lalu menyusup diantara tubuh-tubuh pendamping yang berdesakan di kantor yang memang kurang memadai ini.

“Mbak, saya pinjam verifikasi sekolah MI Burhan 13 Soli-solian dan SMKN Kota Amru” ucap Salim pada seorang perempuan yang tengah asyik dengan komputernya.

“Bentar mas, aku carikan....” jawab perempuan itu yang kebetulan Operatornya Salim sekarang.

Salim kembali ke teras tempat dia tadi mondar-mandir sambil menunggu lembar verifikasi yang diminta tadi, dan tak lama perempuan tadi menghampiri Salim dan menyerahkan beberapa lembar verifikasi. “Yang ini mas ya, dicek dulu... Emang tumben mas ikutan kroscek biasanya tiap kroscek mas Salim bilang sudah sesuai” tanya perempuan tersebut yang kebetulan operator KPM dampingan Salim.

“Ya itu juga yang saya bingung mbak, kok bisa ada saja yang kena sanksi padahal saya pastikan data komponen pendidikan saya sudah up to date lho mbak.... Ini tadi buka kroscek malah keluar 0 rupiah” jawab Salim sambil tangannya sibuk membuka satu per satu lembar verifikasi yang dia minta tadi.

“Ya sudah mas, aku balik ke dalam dulu ya… Masih banyak nih yang belum selesai “ operator itu pamitan balik ke dalam kantor dan Salim melanjutkan pencariannya.

“Naaaah!!!!!.... ketahuan kan kenapa “ Salim langsung berdiri dan mengangkat ponselnya. Dia menekan nomor telepon kolega yang ia punya di Sekolah-sekolah yang tadi ia sebutkan.

Setelah dua kali 5 menit ia telepon pihak sekolah tadi , Salim segera mengemasi barang-barangnya dan beranjak pergi dari teras kantor. Ia segera menyalakan mesin motornya dan melesat kembali ke rute yang tadi ia tempuh. Salim balik lagi Kecamatan wilayah kerjanya yang juga tempat ia tinggal.

Sesampainya di tujuan, “druuut….druuuut” suara ponsel Salim seperti menerima banyak pesan Whatsapp sejak perjalanannya. Salim menghentikan motornya di Kantor Kecamatan lalu segera masuk ke sekretariatnya. Tas penuh berisi beban hidup dan dokumen-dokumen ia hempaskan di mejanya, lalu Salim membuka ponselnya. Group besar, group kecamatan ia lewati saja, namun mendadak ia tercengang dengan salah satu pesan japri yang masuk.

“Alamak…… “ teriak Salim sambil membuka dengan cepat tasnya dan diambilah 2 dokumen yang tak lain adalah verifikasi yang ia pinjam ke Operator tadi. “Haduuuh kok bisa lupa sih aku, ooohhhh….. berkilo-kilo lagi aku mensti tempuh untuk kembalikan verifikasi ini” suara Salim melemah.

Ternyata pesan japri tadi adalah dari Operator yang tadi bersedia meminjamkan verifikasi, Salim lupa kalau verifikasi itu harus kembali ke Kantor PKH Kabupaten. Sudah tidak ada belas kasihan untuk masalah dokumen di Kantor PKH Kabupaten, setelah BPK melakukan pemeriksaan administratif secara menyeluruh sekarang dokumen 1 lembar pun harus dikembalikan. Rupanya sifat Salim yang tergesa-gesa membuat ia lupa akan aturan tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan Salim selain meminta maaf dan berjanji untuk mengembalikan sesegera mungkin.

“Aduuuh mana jatah uang bensin sudah menipis….. Nasib!” keluh Salim sambil mengemasi barang-barnagnya lagi.

Kali ini masalah dokumen terbawa dilupakan sebentar oleh Salim, ia memprioritaskan untuk mencari kebenaran akan masalah yang ia hadapi. Bagaimana bisa KPM-nya kena sanksi padahal proses pemutakhiran kemarin ia cek dan ricek berkali-kali, tapi masih ada saja yang salah.

Pihak sekolah tadi menjelaskan bahwa komponen anak sekolah dari KPM-nya yang kena sanksi itu tidak ada lagi di sekolah, bisa dibilang nama anak tersebut dicoret dengan tinta merah oleh pihak sekolah. Padahal baru closing tahap kemarin nama anak itu masih diakui dan diverifikasi oleh pihak sekolah,

Bagaimana bisa bagaimana bisa…

Salim melanjutkan perjalanan ke desa dampingannya yaitu Desa Ambigu, ia pun segera mengikuti peta wilayah yang ia buat sendiri untuk menemukan KPM yang dimaksud. Sesampainya di alamat yang dituju, ia hanya menemukan rumah kosong seperti lama tak berpenghuni.

“Assalamualaikum….” suara Salim memecah keheningan suasana disitu, tetapi tidak ada satu pun suara yang membalas salamnya. Mondar-mandir ia mengelilingi rumah tapi tak ada satu pun batang hidung manusia.

Sampai akhirnya, “Pak Salim….” Sebuah suara keluar dari semak-semak dekat rumah itu.

Salim kebingungan mendengar suara itu, memang dia tipe penakut dan wajar kalau dia agak ketakutan disitu. “Pak Salim, Ibu Mesnami sudah pindah pak di seberang sungai sana…” ternyata suara itu keluar dari mulut seorang wanita tua yang keluar dari semak-semak dengan kayu bakar di punggungnya.

“Oh begitu ya bu, waduh saya salah alamat dong…” jawab Salim sambil ia mengingat harus segera mengganti petanya yang sudah kusut mirip peta harta karun. Salim sadar terakhir ia kesini adalah setahun kemarin jadi wajar kalau ada perubahan ia kurang tahu.

“Iya pak, sudah lama Ibu Mesnami pindah kesana….” Wanita tua itu meneruskan ucapannya.

Salim pun segera berpamitan kepada wanita tua itu dan melanjutkan perjalanan ke seberang sungai, padahal untuk mencapai daerah seberang sungai itu harus berjalan memutar dengan rute semula. Dengan nafas mulai terengah-engah Salim pun berjalan memutari sungai melewati jembatan dari kayu bambu yang apabila diinjak suaranya agak seram. Tapi karena sebagai Pendamping PKH harus siap dan membiasakan diri dengan keadaan yang sangat ekstrim seperti ini.

Akhirnya Salim pun sampai di rumah yang dimaksud wanita tua tadi, ia menyayangkan kenapa tadi tidak menuju rumah Ketua Kelompok dulu untuk menanyakan alamat yang benar. Tapi semua sudah terlanjur, Salim pun menemui KPM dampingannya tanpa ditemani Ketua Kelompok.

“Bu Mesnami, assalamualikum….” Salim mendekati rumah dari Mesnami tersebut.

“Iya pak…. Waalaikumsalam. Lho Pak Salim kok tumben kesini ada apa ya…” suara Ibu Mesnami terdengar bersama dirinya keluar dari rumah.

Salim mengamati kondisi rumah tersebut dan memang rumah itu sebenarnya tidak layak huni, mulai dari dinding yang terbuat dari kayu sampai lantai yang masih berupa tanah. “Ibu Mesnami, saya kesini ada yang mau saya sampaikan ke ibu. Itu lho masalah bantuan PKH tahap ini bu” kata Salim sambil duduk di kursi yang disediakan di depan teras rumah.

“Lho memang kenapa pak? Apa uda mau dibayarkan? Atau mau ditambah lagi ya pak?” Ibu Mesnami mencoba mengajak Salim bercanda.

“Bukan bu, ini anu….” Salim mulai kebingungan untuk mengatakan sesuatu ke Ibu Mesnami.

“Pak, jangan mirip ludruk dong pak…. Ayo cerita ada apa? Kita kan uda kenal lama, kan nggak sulit buat ngomong…” kata Ibu Mesnami.

Salim mengerutkan alisnya, ia teringat percakapan adegan film ABG waktu mau mengatakan sesuatu. “Begini bu, tadi pagi saya kan dapat data yang isinya nominal uang yang akan diterima setiap orang PKH, namun nama ibu perolehannya nol rupiah…” kata Salim sambil membuang pandangannya ke kertas yang ia pegang.

“Apaaaaa??????...” Ibu Mesnami tiba-tiba berkata dengan nada tinggi, yang menurut Salim seperti adegan di sinetron India yang tiap hari ditonton istrinya.

“Tenang dulu bu, jangan kaget dulu…. Saya juga masih bingung kenapa bisa begitu, dan alasan saya kemari mau mencari kebenaran..” jawab Salim merendah.

“Tidak Pak! Tidaaak…… Uang PKH nanti mau saya buat bayar hutang di sekolah pak. Bapak tahu? Anak saya menunggak uang SPP sampai 3 bulan pak…. Kenapa bisa terjadi pak, apa salah saya kepada Bapak Jokowi kok bisa-bisanya dana PKH saya tidak dibayarkan, saya orang kecil pak jangan sekali-kali bermain dengan nasib orang kecil… sakitnya tuh disini” sahut Ibu Mesnami sambil memegang dadanya.

“Bu, tahan dulu dong jangan bawa-bawa Bapak Presiden. Beliau tidak tahu apa-apa bu” Salim pun berusaha menenangkan Ibu Mesnami.

Tiba-tiba Ibu Mesnami berdiri dan berkata, “Pak, anda ini dibayar dengan uang rakyat lho pak. Saya tidak pernah telat membayar pajak tanah dan rumah saya, listrik juga saya nggak pernah sampai telat. Walaupun lama-kelamaan harga bahan pokok semakin naik… Tarif listrik juga mirip upacara tujuh belasan, benderanya naik terus. Ini namanya penistaan pak…”

Mimpi apa semalam Salim, sudah capek-capek ke Kantor Kabupaten untuk lihat verifikasi, lalu balik lagi untuk mencari rumah Ibu Mesnami sampai ia harus membunuh ketakutannya lewat jembatan bambu tadi. Sekarang bukannya kejelasan yang dapat malah KPM yang alay menanggapi sesuatu.

“ Begini bu, saya jelaskan dulu. Ibu jangan terlalu panjang berpikir sampai-sampai upacara tujuh belasan bu…” Salim masih sabar.

“Pak, sebagai rakyat Indonesia kita itu harus selalu ingat dengan upacara tujuh belasan pak. Walaupun terakhir saya ikut waktu kelas 5 SD, sekarang Cuma liat di TV gendut itu paaaaaak….” Sahut Ibu Mesnami sambil menunjuk TV tabung dan usang miliknya.

“Aduuuh… iya iya bu saya paham. Kita bangsa Indonesia harus selalu mengingat jasa-jasa pahlawan kita bu. Tapi ini masalah bantuan PKH bu jangan kepanjangan ngomongnya…” kata Salim dengan tetap sabar menghadapi KPM-nya yang unik.

“Wah…. Bapak ini yang kepanjangan ngomongnya, tadi kan bapak bilang kalau uang PKH saya bakal tidak cair. Lha kok bapak ngajak ngomongin kemerdekaan sih pak…” jawab Ibu Mesnami sambil duduk lagi di kursinya.

“Lha makanya itu bu, dengarkan dulu penjelasan saya jangan asal nyolot aja. Saya jauh-jauh kesini buat ngurusin bantuannya Ibu, saya nggak ada niat ngajak ibu mengenang jasa-jasa pahlawan kita. Kita sudah merdeka bu…” jawab Salim.

“Merdeka??? Pak, orang seperti saya ini bagaimana bisa dikatakan merdeka. Saya banting tulang pak, buat kerja. Suami saya merantau ke luar jawa cuma demi anak saya agar tetap sekolah, seperti kata bapak. Gitu sekarang semuanya harganya naik, kita ini terjajah pak terjajaaaaah…” Ibu Mesnami mulai meneteskan air matanya.

Tambah kebingungan Salim dengan arah pembicaraan ini, semakin ngelantur dan nggak tau mau ngomong apa, Ibu Mesnami tidaklah semudah KPM lainnya yang rata-rata diam dan nurut apa kata Salim. Berdiri lalu duduk kemudian berdiri lagi, Salim semakin ingin segera pulang.

“Begini Bu, saya jelaskan dulu bagaimana prosedur dalam PKH…” kata Salim mulai mengembalikan arah pembicaraan.

“Saya nggak akan mundur pak dengan kondisi saya, camkan itu pak!!!” tegas Ibu Mesnami.

“Waduuh prosedur bu prosedur…. Itu adalah cara kerjanya di PKH mulai pemutakhiran kemudian verifikasi hingga sampai pada penghitungan bantuan, gitu lho bu maksudnya saya…” Salim mulai kehilangan kesabaran.

Ibu Mesnami adalah satu dari ibu-ibu di Indonesia yang kecanduan dengan film sinetron di TV, yang terkadang tak sadar ia bawa adegan film tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ada seorang sutradara yang melihat tingkah Ibu Mesnami pasti langsung diminta ikut casting.

“Pokoknya saya nggak mau tahu pak, yang penting duit saya harus dibayar… Anak saya sudah sekolah pak, pertemuan kelompok juga sudah saya ikuti, sekarang kok tiba-tiba Bapak bilang uang saya tidak cair, saya tidak terima pokoknya tidak terima” Ibu Mesnami kembali meninggikan suaranya, sampai tetangga di sebelah rumahnya ikutan nimbrung dari jendela.

“Lho gini lho dengarkan penjelasan saya dulu, anak ibu kan sudah sekolah tapi pihak sekolah menyatakan anak ibu tidak sekolah.” Salim menjelaskan.

“Bagaimana bisa pak, anak saya itu sekolahnya aktif. Dulu kan Bapak tahu sendiri, waktu apa itu pemutihan? Kan sudah saya jelaskan anak saya sekolah pak” jawab Ibu Mesnami.

“Pemutihan? Pemutakhiran mungkin maksud ibu, tapi pihak sekolah menyatakan seperti itu bu, tahap kemarin memang anak ibu aktif sekolahnya tapi tahap ini tidak ada” jawab Salim ambil menunjukkan lembar verifikasinya.

“Anak saya sekolah pak, sekolaaaaaaaah……itu apa kertas, kok dibawa kesini, saya nggak bisa baca pak, coba ngeledekin saya ya pak” mata Ibu Mesnami melotot ke verifikasi yang dibawa Salim.

“Ini lho bu, ini lho buktinya…..” Salim menyodorkan verifikasinya, tapi percuma juga kalau ngomong ke KPM dampingan yang buta huruf padahal biarpun tidak bisa membaca KPM seperti ini tahu berapa jumlah uang yang diterima dan kalaupun kurang pastinya langsung protes ke pendamping.

Perbincangan panas dan sengit sudah tidak bisa dihindarkan, antara Salim dan Ibu Mesnami, Salim sudah kehilangan kesabaran. Bukannya kejelasan yang didapat malah alur cerita yang semakin rumit. Ia menyadari betapa susahnya menjadi pendamping kalau menghadapi masalah seperti ini, biarpun sudah 8 tahun jadi pendamping tetap juga kadang kesulitan. Pendamping PKH adalah ujung tombak dari program dari Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, dan terhadap kondisi di lapangan seperti ini Salim juga yang harus menghadapi. Setumpuk materi yang dia dapat dari diklat pendamping dulu seolah tidak ada gunanya kalau di lapangan, mau setinggi apapun ijazahnya tetap yang dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan.

“Oke bu, kalau Ibu tetap ngotot kalau anaknya sekolah, saya akan minta keterangan sekali lagi dari pihak sekolah. Sebentar ya bu saya akan mencoba menelepon lagi pihak sekolah” kata Salim.

Kemudian Salim mengambil ponselnya dan menghubungi pihak sekolah, namun karena lokasi dari rumah Ibu Mesnami cukup terpencil jadi sinyal ponsel pun jadi kendala. Salim harus keluar rumah lalu mondar-mandir mencari posisi yang bisa menangkap sinyal, sampai akhirnya ia memanjat pohon.

“Halo… halo pak. Iya ini Salim pak, halo halooooo…” suara Salim terdengar dari atas pohon dan Ibu Mesnami menunggu di bawahnya dengan cemas.

“Halooooooo……” Salim pun menunduk ternyata panggilannya tidak bisa menjangkau nomor yang dimaksud, dan dalam hati ia sangat merasa malang. Sudah masalah belum selesai dan masih ada KPM yang harus didatangi, sekarang alur permasalahnnya semakin rumit.

“Gimana pak? Kok malah diam? Uang saya gimana? Apa jadi cair apa tidak?” tanya Ibu Mesnami penasaran.

Salim akhirnya turun dari pohon dengan nafas terengah-engah, lalu menghampiri Ibu Mesnami, “Nggak tahu bu, ini malah gak bisa telepon. Disini sinyalnya gak ada.”

“Lagian ngapain telepon pak? Orang sekolahnya ada di dekat sini, ayo sama saya kesana” kata Ibu Mesnami.

“Apa???” mata Salim melotot ke Ibu Mesnami.

“Iya pak, sekolahnya disini dekat banget. Ayo kita ke gurunya biar jelas” jawab Ibu Mesnami.

“Lho anak ibu kan sekolah di Mi Burhan 13 kan?” tanya Salim.

“Anak saya sekolah di SD pak, kan sudah pindah 2 bulan lalu” Jawab Ibu Mesnami.

“Lho kok nggk bilang bu??” Salim mulai ngotot dengan mata memerah, seolah dia baru menemukan sebab musababnya.

“Jangan marahlah pak, anak saya sudah pindah 2 bulan lalu, saya sudah melaporkan ke ketua kelompok” sambil mengambil lipatan-lipatan kertas dari lemari pakaian yang ada di ruang tamu rumahnya. Memang Ibu Mesnami punya rumah yang sangat tidak layak huni, dengan kondisi yang parah sampai lemari pakaian pun yang reyot ia taruh di ruang tamu karena memang tidak ada tempat lagi.

“hmmmmm…. Saya sudah naik pitam nih bu. Trus kalau pindah sekolah, surat keterangannya mana???????” suara salim serak seperti dalang wayang dengan karakter antagonis.

“Ini puaaaaaaaaaaak…….” Ibu Mesnami ikutan ngotot sambil menyerahkan surat keterangan yang sudah dilipat selama 2 bulan.

“Tidaaaaaaaaak….. itu surat kok masih disini buuuuu…….” Salim tetap dengan suara serak, sambil menujuk surat keterangan itu.

“Iyaaaaa paaaak, surat keterangan sekolahnya ada di saya pak, saya simpan biar nggak hilaaaaaang…” sahut Ibu Mesnami dengan suara yang juga ikutan serak.

“Alamaaaaak, surat itu harusnya diserahkan ke saya biar saya buatkan form pemutakhiran lalu saya serahkan ke kantor kabupaten biar data anak ibu dipindah sekolahnya…. Haduuuuh prosedurnya seperti itu bu di PKH” Salim sekarang suaranya semain serak dan memalingkan pandangannya ke hijaunya rerumputan.

“Maaaf paaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak, saya tidak tahu porsidurnyaaa paaaak” teriak Ibu Mesnami.

“Prosedur bu, proseduuuuuur….” jawab Salim sambil mengambil surat keterangan itu dan mengemasi barang-barangnya.

“Bapak mau kemana paaaaak?” tanya Ibu Mesnami.

“Cari prosedur bu….” Jawab Salim dengan muka masam.

Tapi setelah itu Salim akhirnya tersenyum karena sekarang tahu kenapa Ibu Mesnami kena sanksi dan anaknya dinyatakan tidak sekolah oleh Pihak Sekolah MI Burhan 13. Ibu Mesnami tidak memberi tahu kepadanya kalau anaknya sudah pindah sekolah, makanya di sekolah yang lama anak itu disanksi.

Sambil tertawa saat meninggalkan rumah Ibu Mesnami, “Maaf ya bu, sudah merepotkan ibu. Saya akan pergi ke sekolahan anak ibu yang baru, biar anak ibu diverifikasi dan Ibu tidak jadi kena sanksi. Nah kalau sudah selesai mengurusnya, dana ibu dapat dibayarakan.” pamit Salim ke Ibu Mesnami.

“Ya pak, saya juga minta maaf walaupun saya masih bingung kok gara-gara surat ini uang saya bisa cair. Bapak ngomong dong dari tadi kalau kesini minta surat keterangan biar langsung saya kasih, jadi kita nggak perlu panjang berdebat” kata Ibu Mesnami.

“Hmmm….” Dalam hati Salim berkata pada dirinya Yang Sabar Ya Bos.(Rizal Rahman/Pendamping PKH)

 

Editor: KAS/JSK