Prabu Bathara Kresno
Prabu Bathara Kresno PNS

Dalam Asa, Rasa, Cipta, Karsa dan Karya Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Lain Sisi; Yang Sabar Ya Bos-Delematika Rumah Tangga

16 Juni 2017   23:18 Diperbarui: 16 Juni 2017   23:59 771 1 1
Lain Sisi; Yang Sabar Ya Bos-Delematika Rumah Tangga
Rizal Rahman bersama buah hati (Dokumentasi Pribadi)

"Keok keoook keoook...." suara ayam ditangkap tak jauh dari jendelanya Solikin yang tertawa kecil membaca berita di ponselnya.

"Mas, Haji Munip tadi kesini menanyakan mas… " istri Solikin bicara sambil mencuci piring sarapan anaknya.

"Kamu ngomong apa bu? " jawab Solikin dengan pandangan mata ke ponsel android 4.0 miliknya yang sudah mulai ketinggalan jaman.

"Ya aku jawab Ya Pak Haji nanti saya sampaikan…" istri Solikin meneruskan ceritanya.

"Ini sudah tiga hari lho mas, aku gak enak keluar ke kampung. Belum lagi kalau ketemu ama Bu Sri, duh pengen aku sembunyikan aja muka ku mas " suara Istri Solikin agak meninggi.

Solikin tetap tak menoleh ke istrinya, rupanya berita penistaan agama terlalu asyik untuk dilewatkan ketimbang mendengar istrinya mengeluh. Sebagai informasi Haji Munip adalah tuan tanah dan rumah di tempat Solikin tinggal, kalau dia datang artinya ada 2 kemungkinan. Yaitu menanyakan uang sewa atau melihat-lihat asetnya di sekitaran Dusun Sarijati Desa JatiKarang.

Solikin tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju kamar, "Seragamku sudah disetrika bu?" tanya Solikin ke istrinya.

Istrinya menyahut dengan nada agak tinggi "Ya belum dong? Baru kemarin dipakai saharian bau keringat. Pagi tadi aku cudi sekarang masih dijemur dibelakang"

Solikin segera menuju halaman belakang rumah dan menarik baju basah itu kemudian membawanya untuk disetrika.

"Mas mau kemana? " tanya istri Solikin dengan melipat tangannya.

"Anu, ada perintah buat merapat ke Pendopo Kabupaten, ada pelantikan pengurus apa gitu lho aku lupa bu "jawab Solikin dengan tidak sekali pun memasang pandangan ke istrinya.

"Mas itu bagaimana sih? Aku cerita Kaji Munip kesini itu ada sebabnya malah dicuekin, seragam basah malah disetrika, ditanyain mau pergi mau ngapain juga nggak tahu... Mas itu kerja jadi apa sih? " nampaknya istri Solikin semakin geram.

“Ya Pendamping PKH bu kok masih tanya. Masa masih jadi guru, orang kita nggak boleh double job kok.... " jawab Solikin sambil menggosok setrika di seragam basah miliknya.

Suasana waktu itu adalah waktu dhuha, dimana keindahan alam begitu mempesona. Sinar matahari tidak begitu panas dan aroma tai ayam yang mengelilingi rumah Solikin tiap hari semakin menambah suasana semakin tegang.

"Lho kan nggak boleh Dobel Job? Kok mas ikut pelantikan? Mau jadi apa lagi mas?.... " tanya istri Solikin sambil melanjutkan mencuci piring.

“Bukan aku yang dilantik bu, tapi PKH diminta merapat kesana, kalau nggak datang nggak enak aku bu" Solikin berusaha menjelaskan.

"Iya terus yang dilantik siapa mas? " istri Solikin bertanya lagi.

“Nggak tahu aku bu, pokoknya diminta merapat ke Pendopo ada Bupati mau melantik. Sudah jangan ikut mikirin kerjaan suami, ini urusan laki-laki Ibu dirumah saja. Doakan dapat rejeki bisa mencukupi semua kebutuhan dan hutang" jawab Solikin merendah.

“Cukup apanya mas? Kemarin seharian mas PK, aku nggak tahu apa itu PK. Kemarin lusa seharian ikut penanaman pohon, aku ditinggali uang lima belas ribu. Dapat apa mas? Beras mahal " istri Solikin menggerutu sambil menarik sapu dan mengayun-ayunkannya dengan keras.

“Emang Ibu itu nggak pernah cukup, dulu waktu aku jadi guru sukwan gajian Cuma tiga ratus lima puluh ribu sebulan ya cukup. Sekarang jadi Pendamping gajian dua juta lebihmasih mengeluh aja. Ibu ngerti dong sekarang aku ini pekerja sosial, nggak bisa semua dihitung dengan materi. Harus ikhlas, harus nurut sama atasan, harus niat berkerja. Gitu lho bu" kali ini Solikin yang meninggi nada bicaranya.

“Lho mas kok bilang ikhlas??? Beras tinggal dikit, uang saku anak-anak udah mepet, jatih tempo kontrakan rumah lewat 3 hari, tiap hari lauknya tahu dan tempe, hutang ke tokonya Bu Sri uda menumpuk, jadi minta ikhlas aku " ayunan sapu istri Solikin semakin kencang membuat debu di lantai semakin amburadul.

Sebagai informasi seminggu ini Solikin padat kegiatan sedangkan untuk jualan buku sebagai sampingannya sudah jarang. Dia mengira dengan gaji lebih besar dari sebelumnya waktu dia masih menjadi guru akan mencukupi kebutuhannya, jadi dia tidak perlu lagi jadi agen marketing buku dari percetakan yang kurang jelas kredibilitasnya.

Waktu Solikin habis dengan pekerjaan barunya sebagai Pendamping, seperti diketahui Bisnis Proses PKH yang menjadi agenda utama juga harus diprioritaskan dan kegiatan lain dari Pemerintah Daerah pun harus juga diselesaikan. Kemarin baru saja Solikin selesai dengan jadwal PK di Desa dampingannya, yang juga lokasinya jauh dari rumahnya. Sekarang waktu dia buka Group Besar (begitu istilahnya untuk group yang isinya seluruh pelaksana PKH di Kabupaten), beritanya tentang Bupati melantik Pengurus yang Solikin sendiri tidak tahu mengurusi apa.

“Mas itu harus paham, kalau kerja itu dapat uang bukannya malah abisin uang buat ini, buat itu, buat apa aja. Gaji mas jadi pendamping lho kadang juga nggak tentu kapan datangnya, masih harus ke Kantor Pos buat ngambil. Aku jadi takut menjamin, sekarang ada perintah suruh kumpul Mas ud buru-buru berangkat. Dapat uang transport kah nanti? " istri Solikin mulai merendahkan nada bicaranya.

Solikin hanya diam sambil mengenakan seragam setengah basah miliknya, kemudian mengambil PIN yang baru dia beli dengan sisa uang bensinnya lalu menyematkannya di seragam kebanggaannya.

“Maaas kok diem sih, omonganku kan bener, ada yang salah kah? " tanya Istri Solikin sekali lagi.

“Aku berangkat bu, uang bensin kemarin sisa sepuruh ribu, cukuplah kalau buat ke Pendopo. Ini udah diminta segera berangkat " jawab Solikin sambil memasang sepatu setengah butut di teras rumahnya.

Istri Solikin hanya termenung melihat suaminya berangkat dengan uang sepuluh ribu, hatinya terkoyak menatap pria yang ia cintai meninggalkannya dengan beribu pertanyaan.

Tanggal sudah tua, persediaan sembako sudah menipis, di dompetnya tinggal satu lembar uang seratus ribu yang ia harus bayarkan listrik hari ini. Nafas panjang ia hembuskan sambil dalam hati dia berkata, "Yang sabar ya….” Sambil menepuk dadanya.

Kemudian istri Solikin membereskan tempat tidur anaknya yang masih berantakan walaupun tiap pagi ia ajari anaknya untuk berbenah. Separuh hidupnya memang ia habiskan untuk mengabdi di keluarga, sepeninggal Ibunya dulu ia harus ikut membantu ayahnya membanting tulang demi kehidupan adik-adiknya. Lalu disaat usianya telah cukup, Solikin datang di hidupnya untuk meminang dan menjanjikan kebahagiaan di depan mata.

Namun apakah telah datang kebahagiaan itu? Selepas Solikin lulus kuliah dari universitas swasta di kota, Solikin melamar menjadi guru sukwan dengan gaji yang sangat minim dibawah UMK. Tetapi Solikin dengan jiwa besarnya selalu menenangkan dan mencoba menyenangkan istrinya, walaupun setiap ulang tahun pernikahannya Solikin hanya bisa mengajak makan istrinya di Cabang Purnama yang tersebar dimana-mana.

Lalu Solikin memutuskan untuk melamar menjadi Pendamping PKH dan kehidupan keluarga Solikin sedikit berubah. Dari sebelumnya mengkontrak satu kamar sekarang bisa kontrak satu rumah. Dari sebelumnya kemana-mana Solikin hanya bisa naik sepeda pancal, sekarang sudah naik motor walaupun masih kredit. Dari sebelumnya dia adalah manusia offline, sekarang dia bisa beli ponsel online walaupun bekas tapi cukup buat instal Whatsapp yang saat sudah terinstal lemotnya minta ampun. Namun tampaknya di balik kebahagiaan menjadi Pendamping PKH, Solikin pun harus melakukan pengabdian tiada tara. Entah bawa uang berapa pun sampai harus dimarahin istri, tapi Solikin tetap memprioritaskan instruksi PKH Kabupaten.

Beginilah keluarga Solikin Sang Pendamping PKH, dia adalah pria penyabar makanya dia cocok apabila diberi tugas mendampingi Keluarga Penerima Manfaat PKH. Dia dikenal sangat tenang dan pintar saat menghadapi setiap permasalahan di PKH. Seolah Solikin itu memiliki kemampuan sangat berlebihan apabila dia harus dijadikan pendamping, setidaknya ini penilaian istri Solikin atas suaminya. Apalagi seperti barusan, Solikin pergi terburu-buru hanya untuk menghadiri kegiatan yang Solikin sendiri tidak tahu dan parahnya kegiatan itu diluar urusan PKH. Istri Solikin hanya bisa memendam seribu tanya dan mencoba sabar. Semoga dari apa yang suaminya lakukan akan ada penghargaan, akan ada kompensasi atau setidaknya penghasilan tambahan. Istri Solikin sangat sedih saat menyadari suaminya begitu memiliki dedikasi tinggi hingga mau berangkat menjalankan perintah walaupun uang yang dibawa cukup untuk bensin satu liter.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bila suaminya tersayang itu ada apa-apa di jalan sedangkan uangnya tidak cukup. Namun cukup sampai disini istri Solikin berburuk sangka atas kondisi yang ia alami, ia pun meneruskan kembali aktifitas sebagai ibu rumah tangga. (Rizal Rahman/Pendamping PKH)

Editor: KAS/JSK