Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Ini Alasan Tiap Dokter Residen Penyakit Dalam FK UNSRI Wajib Ikut Sepak Bola Minggu Pagi

1 Juli 2017   00:19 Diperbarui: 1 Juli 2017   00:25 1034 2 2
Ini Alasan Tiap Dokter Residen Penyakit Dalam FK UNSRI Wajib Ikut Sepak Bola Minggu Pagi
dari FB Buya Hamzah al Assad

Dulu, saat menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) I Penyakit Dalam UNSRI (Universitas Sriwijaya) tahun 2001-2006 ada kewajiban semua residen laki-laki yang baru sampai tahap pertama untuk datang ke lapangan bola tiap minggu pagi, sementara yang wanita juga datang untuk mengurus konsumsi. Kalau sudah mau tamat, biasanya tidak wajib sekali, yang 'hobby' saja.

Apa hubungannya pendidikan spesialis dengan main bola, futsal atau tenis lapangan, badminton dan jenis olahraga lainnya? Sekilas kegiatan ini seperti mengada-ada dan membuat susah saja, salah satu bentuk perploncoankah? 'Bully'? Ternyata tidak.

Di beberapa pusat pendidikan spesialis di Palembang seperti bedah juga 'wajib' harus bisa main bola dan dokter umum yang mau masuk ke pendidikan itu lebih dipertimbangkan masuk kalau jago main bola, tetapi memang nilai akademiknya jangan parah sekalilah.

Di UGM, UI pun sama, kalau tidak bola kaki, tenis lapangan atau bulu tangkis menjadi olah raga 'wajib' atau yang disarankan dan tentu saja menyesuaikan dengan para pengajarnya senang olah raga mana yang terbanyak. Bahkan akhir-akhir ini olahraga golf juga sudah mulai dijadikan menu kegiatan ekstrakurikuler.

Selain sebagai salah satu cara berkomunikasi dan mempererat hubungan dosen-murid, olahraga juga secara tidak langsung cara menjadi cara 'screening' untuk memisahkan peserta didik dengan fisik yang tangguh dan yang lemah. Beberapa sejawat yang nyata-nyata susah berlari, mudah lelah dan tersengal-sengal di lapangan walau baru 10 menit bermain disarankan lebih sering olahraga, tetapi saat jaga malam juga kita maklum kalau mereka tidak bisa dipaksa beberapa hari terus menerus jaga, pasti disarankan ada kelang waktu istirahat.

Karena pekerjaan dokter itu sekilas enak, hanya memeriksa pasien, memikirkan obatnya, memikirkan pemeriksaannya dan memberi nasehat pola makan, pola hidup dan lain-lain, namun harus juga diperhitungkan kegiatannya berjalan ke masing-masing tempat tidur pasien, naik tangga, terkadang mengangkat pasien, 'stress' pikiran kalau ada pasien yang tidak puas, atasan tidak puas, perawat yang keberatan dengan kata-kata kita, serta tentu saja dehidrasi dan hipoglikemia kalau minuman dan makanan sulit dijangkau di tempat pemeriksaan.

Saran saya, bagi dokter umum, dokter peserta didik spesialis maupun konsultan, kalau ada kewajiban ikut acara olahraga seperti ini, sebaiknya dijalani dengan ikhlas dan gembira, ada kebahagiaan tersendiri bila mampu menjalaninya, namun kalau toh tidak sanggup, maka secara fisik kita tahu ada keterbatasan yang tidak mungkin dilewati, Tiap dokter harus tahu batas kemampuan fisiknya dan mencari kerja sesuai 'term and condition' yang tepat.

Menolong pasien adalah penting, namun menolong diri sendiri lebih penting. Olahraga teratur 5 kali seminggu masing-masing minimal 30 menit dengan jalan kaki, lari santai, berenang, bersepeda baik untuk jantung. Sementara ikut sepakbola atau olahraga 'kompetitif' lainnya seminggu sekali dapat dipakai sebagai cara memperlihatkan kemampuan fisik si dokter atau sebaliknya memberitahukan kepada sejawat lain bahwa fisiknya tidak bisa dipaksakan, supaya yang lain maklum.

'Do no harm and don't cross the line'...

dari FB Kompal
dari FB Kompal