Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Polisi, Teroris, dan Islam Menurut Clifford Geertz

1 Juli 2017   08:43 Diperbarui: 1 Juli 2017   09:14 271 17 7

Polisi, Teroris, dan Islam Menurut Clifford Geertz

Profisiat Polri atas HUT-nya, semakin profesional, tepercaya, dan humanis

Duka yang menyelimuti kisaran hari ulang tahun ini, semoga tidak menjadi teror psikis yang berkelanjutan. Ketakutan yang berlebihan seperti di era lampau menambah suka ria teroris. Bagaimana tidak, ketika pos polisi diberi teralis besi, polisi berdua-dua dalam tugasnya, berangkat tidak boleh sendiri, dan sebagainya, bagaimana mau memberi rasa aman masyarakat, kalau mereka sendiri ketakutan. Teroris sukses dengan baik mempengaruhi psikis polisi jika demikian.

Miris dan memprihatinkan sebenarnya jika menilik apa yang dikatakan sebelum penikaman adalah ungkapan pujian kepada Sang Pencipta yang dilanjutkan dengan “pembunuhan”, ditempat ibadah, sedang beribadah lagi.  Apa yang terjadi tentu sangat memprihatinkan. Jelas ini bukan soal agama, namun kedok agama.

Teroris dan Radikalis

Beberapa tahun lalu, gereja dan tempat ibadah lain justru menjadi tempat pesta pora kematian mereka. Sangat mudah dipahami jika model ini, bukan mau membenarkan, namun jelas sangat mudah diterima akal sehat. Kemudian bergeser ke arah fasilitas dan  kawasan yang banyak orang asing. Lagi-lagi, bisa dimaklumi keadaan ini. jelas bahwa asing terutama barat khususnya Amerika Serikat ada pada kubu yang berbeda dan berseberangan. Akhir-akhir ini, malah polisi dan masjid menjadi tempat pertumpahan darah. Sama sekali tidak bisa diterima nalar waras, bagaimana bisa orang beribadah, bersama lagi, bisa dengan penuh amarah dan dendam kemudian membunuh.

Lingkaran Kekerasan, Korban Malah Keluarga dan Diri Sendiri

Dendam yang sering didengungkan ketika pelaku teror masih selamat dan ditangkap. Jika dendam karena polisi menembak, menahan, dan memenjarakan mereka, apakah mereka tidak pernah berpikir pada sisi korban, keluarga yang menderita atas perilaku mereka, ini bukan “musuh” mereka lho, anakistri-suami, keluarga mereka sendiri. Pola pikir egoisme sendiri yang membawa mereka pada perbuatan bodoh. Baik, bisa dipahami, kalau mereka bisa masuk surga dengan cara mereka, namun ingat tidak tanggung jawab mereka di dunia ini, keluarga yang telantar, sedang mereka enak-enakan di dunia yang berbeda itu? Dendam kepada polisi, lembaga, dengan mengorbankan keluarga sendiri. Coba minta para petinggi pelaku itu melakukan sendiri terlebih dahulu. Apa juga ada jaminan keluarganya sejahtera? Pihak kepolisian jelas ada negara yang menjamin kehidupan keluarga yang ditinggalkan.

Islam Menurut Clifford Geertz

Ingat ini bukan soal rasa atau sentimen, namun penelitian mendalam oleh ahlinya, di dua bangsa yang berbeda, Indonesia dan Maroko. Sama-sama berangkat dari korban penjajahan Barat, satu oleh Perancis dan satu oleh Belanda. Sama-sama agama terbesar adalah Islam. Namun keduanya ternyata sangat jauh berbeda, karena pengaruh akar dan tanah di mana mereka hidup pada awalnya. Prof Geertz menuilskan bahwa Islam di  Indonesia berkembang secara fleksibel, mampu  beradaptasi, menyerap nilai lokal, dan pragmatis. Sangat berbeda dengan Islam Maroko yang tidak mengenal kompromi, keras, fundamental, dan agresif. Apa yang terjadi di sini, saat ini, Islam yang ada bukan Islam Nusantara menurut Geertz sependek saya pahami. Bagaimana memaksakan kehendak, mengintimidasi dengan berbagai cara, menyalahkan pihak lain sebagai musuh dan menumpahkan darahnya adalah sah, jelas bukan ini.  Terbukanya arus informasi dan media tentu sangat berpengaruh, bagaimana semua bisa saling menguatkan namun bisa juga melemahkan.

Menghadapi Teror dan Radikalis

Apapun motifnya, apapun latar belakangnya, jelas terorisme tidak dibenarkan.  Apa yang bisa dilakukan?

Pertama, penegakan hukum dengan semestinya, tidak pandang bulu. Pribadi atau kelompok yang memiliki pandangan untuk setuju pada perilaku kekerasan dan radikalisme ditindak tegas, bukan diajukan ke pengadilan dan penjara saja, namun ada pembinaan khusus. Penjara penuh dan tidak efektif. Lembaga atau organisasi dibekukan dan diberi pembinaan, agar tidak timbul lagi dengan nama lain.

Kedua, amati artinya  pro aktfif aktivitas media sosial dan media massa, siapa yang mendukung, memuji  perilaku model demikian, mendapatkan pembinaan dan pengawasan khusus. Pembiaran selama ini atas nama kebebasan demokrasi dan bersuara sudah dihancur leburkan.

Ketiga, media sangat menentukan. Bagaimana negara hadir, ingat bukan seperti Orba,namun tetap hadir dan bisa menjaga bahwa media harus tunduk pada Pancasila dan UUD ’45. Kita bersama sebagai rakyat biasa saja media sangat tendensius. Contoh, media hanya mewartakan sisi pelaku teror dengan detail dan cenderung memuji. Korban sama sekali  tidak dibahas. Belum lagi pembacanya yang jelas akan sama afiliasinya, pasti akan menuduh pihak lain sebagai dalang itu semua.

Keempat, pejabat, apalagi pejabat tinggi, tidak mudah mengeluarkan pernyataan bodoh dan menyesatkan. Selama ini mentang-mentang pejabat bisa bicara seenaknya sendiri, bahkan itu telah mengingkari Pancasila. Jika tidak suka Pancasila, silakan pergi, jangan ganggu keadaan yang sudah ada.

Kelima, pendidikan. Bagaimana kesetiaan pada proses, taat azas sangat lemah. Mendua telah menjadi gaya hidup. pendidikan sangat memegang peran di sini.

Salam