Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal tiba.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Meraih Hikmah Puasa dengan Program Ukhrawi dan Duniawi

16 Mei 2018   22:07 Diperbarui: 16 Mei 2018   22:34 1162 0 1
Meraih Hikmah Puasa dengan Program Ukhrawi dan Duniawi
Sumber ilustrasi: suarapendidikan.com

Berbicara masalah hikmah berpuasa di bulan Ramadhan memang tak pernah habisnya. Bentangan pahala yang dijanjikanNya pun tak dapat diukur dengan apa pun. Barang siapa yang tidak berusaha meraihnya, dia termasuk orang merugi.

Agar kesempatan ini  tidak berlalu begitu saja, kita harus cerdas untuk menangkapnya. Salah satunya  selama berpuasa di bulan Ramadhan harus ada  target yang akan dicapai.

Untuk ke arah itu saya selalu berpijak pada dua program penting. Pertama berkaitan dengan urusan ukhrawi, yang ke dua bersinggungan dengan urusan duniawi.  

Urusan ukhrawi yang saya maksud adalah, amalan yang menitik beratkan pada kepentingan akhirat. Segala kebajikan yang dikerjakan dengan niat semata-mata karena Allah. Dan mengharap pahala yang sebesar-besarnya  dari Allah. Imbalannya akan diperoleh setelah kita berada di alam akhirat. Perwujudannya antara lain,

  • Mengurus dan memanjakan selera suami dengan tulus.

Ini adalah target yang tidak bisa ditawar-tawar. Dari muda sampai tua,  selama bulan puasa selera suami saya sangat liar dengan menu berbuka. Tidak perlu yang mahal-mahal. Yang penting dia suka. Kadang-kadang sampai mengabaikan faktor kesehatan tubuhnya yang telah menyandang status manula.  Kegemarannya mengunsumsi pete, daging kambing, dan makanan berlemak seperti jeroan dan sop.  

  • Melengkapi puasa Ramadhan dengan shalat sunat tarawih sebulan penuh. 

Untuk menembus sasaran ini, selama itu pula saya harus menguburkan kebiasaan ngantuk sehabis Maghrib.

  • Menyelanggarakan dan mengikuti tadarus Al-Quran.

Tradisi di tempat saya, selama bulan Ramadan, setiap malam setelah tarawih warga mengadakan tadarusan dari rumah ke rumah secara bergantian. Berhubung posisi  rumah saya di ujung perbatasan desa lain, saya selalu mendapat giliran lebih awal. Apabila jadwal telah terisi sukses, ini merupakan kepusan bagi saya.

Selanjutnya urusan duniawi atau urusan yang bersifat keduniaan. Hampir tidak ada target khusus yang saya kejar pada Ramadhan ini. Beda dengan jiwa muda dahulu. Mulai memasuki bulan puasa, sibuk memikirkan pengen beli ini dan itu untuk menghadapi lebaran. Rupanya semangat begini akan pudar sejalan dengan menuanya usia.

Namun, di balik itu semua saya punya dua  agenda lain yang harus saya capai.

  • Menormalisasikan berat badan seperti masa sebelum menopouse dahulu. 

Memasuki usia tua, banyak keluhan yang menyangkut kesehatan tubuh. Suka pusing, naiknya kelesterol, sampai ke masalah kegemukan. Lucunya, yang gemuk bukannya tubuh dan muka. Tetapi fokusnya ke perut. Sedikit saja diisi terasa nyesak dan susah bernafas.  Berat badan pun meningkat seperti tak terkontrol. Nyaris tak ada lagi pakaian yang bisa dipakai. Berkali-kali saya ke dokter, belum ada tanda-tanda kesembuhan.

Yang paling menyiksa, semakin tua selera makan kian tak terkendali. Asal lauknya cocok, rasanya ingin melahap semua yang ada di depan mata.

Akhirnya, seorang teman memberitahukan saya. Katanya, nafsu makan tak usah terlalu ditahan, yang penting  rutin puasa dua kali seminggu. Senin dan Kamis.

Alhamdulillah, setelah melaksanakan saran beliau, dua tahun terakhir saya terbebas dari segala gangguan perut dan pernapasan. Berat badan mentok pada angka 46. Dari sebelumnya mencapai 49 kilogram.

Semenjak itu, saya yakin 100%. Dengan berpuasa kita terbebas dari beberapa penyakit. Terutama yang berhubungan dengan perut. Tak salah, kalangan medis menghimbau agar tidak takut menahan lapar. Karena berpuasa memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Antara lain, (a) Mengistirahatkan pencernaan dan perut setelah 11 bulan bekerja tiada henti. Sisa-sisa makanan yang ada di dalamnya perlu digerus. (b) Membersihkan racun/kotoran dari dalam tubuh, karena kalori yang masuk dalam jumlah terbatas, sehingga mengahsilkan enzim antioksidan yang berfungsi untuk membersihkan za-zat racun yang tidak berguna. (c) Memperbaiki fungsi hormon dan meningkatkan fungsi organ tubuh.

Setelah lebaran, saya berusaha agar berat badan saya kembali ke 45 kilogram. Seperti masa sebelum menopouse dulu. Tujuannya agar di usia senja tetap sehat dan gesit.

  • Tetap menulis. 

Sepuluh tahun terakhir, saya tidak lagi disibukkan dengan profesi tambahan sebagai penjahit. Untuk itu,  selama bermesraan dengan bulan penuh ampunan ini, saya punya banyak waktu buat menulis. Dan,  berusaha konsisten menghasilkan karya tulis sesuai kemampuan yang saya miliki.  

Demikian target yang harus saya capai sambil menjalankan puasa Ramadhan. Semoga apa yang telah kita programkan dapat berhasil sesuai rencana.

***

Simpang Empat, 16052018

Penulis,

Hj. Nursini Rais