Noval Kurniadi
Noval Kurniadi penulis konten

Passion is the fashion for ur ACTION. Passion without action is NO MENTION! | Kontributor wikipedia | www.valandstories.com | Novalku@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Supporter Indonesia dan Dukungannya pada Pemain Asing

18 Juni 2017   12:19 Diperbarui: 18 Juni 2017   12:31 2396 1 0
Supporter Indonesia dan Dukungannya pada Pemain Asing
Sumber gambar: juara.net

Bulu tangkis selalu tampak seksi di mata orang Indonesia. Banyak orang Indonesia yang menaruh minat pada olah raga tepuk bulu angsa ini. Wajar, itu karena bulu tangkis punya nilai historis di Indonesia. Entah sudah berapa banyak atlet yang mengharumkan nama negara di bidang ini. Mulai dari Lim Swie King, Rudy Hartono, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Taufik Hidayat hingga Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Mulai dari tingkat Asia Tenggara, Asia bahkan hingga dunia. Bahkan sampai sekarang bulu tangkis menjadi satu-satunya olah raga yang mampu menyumbang medali emas untuk merah putih di ajang sekelas olimpiade. Keren!

Berbicara tentang bulu tangkis, tidak hanya para pemainnya saja yang seru untuk dibahas, melainkan juga para pendukungnya. Berbeda dengan supporter dari negara lain, bagi saya supporter Indonesia amatlah unik, orisinal dan berbeda.

Tulisan ini tidak membahas tentang bagaimana para supporter Indonesia memberikan dukungan kepada para pemain merah putih yang berlaga.  Itu sudah sering dibahas bahwa kita akan sangat total dalam memberikan dukungannya kepada para atlet Indonesia yang berlaga. Bahkan sampai pertandingan berlangsung malam pun, para pendukung kita akan tetap loyal memberikan dukungan untuk atlet sendiri. Tulisan kali ini membahas tentang  bagaimana sikap supporter Indonesia jika berhadapan dengan pemain asing yang juga melawan pemain asing alias tidak ada wakil Indonesia di dalamnya. Bagaimana sikap supporter kita? Adakah salah satu pemain yang didukung dan lainnya tidak?

Sebagai penyuka bulu tangkis, saya tidak hanya mengamati perkembangan para pemain bulu tangkis, melainkan juga bagaimana perkembangan supporter kita. Dari sekian banyaknya pertandingan yang telah saya tonton atau saya update lewat media sosial, saya mendapatkan fakta-fakta menarik soal bagaimana hubungan antara supporter kita dengan partai yang mempertandingkan pemain asing VS pemain asing tanpa ada wakil Indonesia di dalamnya.

Pertama, jika pada suatu pertandingan dipertandingkan pemain Tiongkok vs pemain dari negara lain selain Denmark, maka otomatis dukungan akan penuh diberikan kepada pemain yang menjadi lawan Tiongkok. Alasannya, Tiongkok sudah keseringan menang dan dapat gelar juara. Alasan lainnya Tiongkok dianggap "nyabun" atau mengatur pertandingan jika pemain Tiongkok vs pemain Tiongkok dalam suatu laga. Maka dari itu supporter kita berharap juara datang tidak melulu dari Tiongkok, tetapi dari negara lain terutama dari luar Asia. Akhirnya, dukungan diberikan penuh kepada pemain nonTiongkok selain Denmark.

Kedua, jika pada suatu pertandingan dipertandingkan pemain Denmark vs pemain dari negara lain, maka dukungan para supporter Indonesia akan diberikan kepada pemain yang menjadi dari lawan Denmark. 

Kok bisa? Ya, kejadian pada Piala Thomas 2016 lalu menjadi penyebabnya. Saat Indonesia bertanding melawan Denmark di final pada Thomas Cup tahun lalu, para pemain Denmark yang memenangkan pertandingan saat itu, seperti Jan O Jorgensen dan Viktor Axelsen melakukan selebrasi yang provokatif.

Hal itu berlanjut juga pada pertandingan-pertandingan berikutnya di saat pemain Denmark bertemu dengan pemain Indonesia. Sebagian dari mereka melakukan selebrasi yang provokatif jika menang. 

Contohnya, Pasangan Mathias Boe/Carsten Mogensen saat memenangi laga melawan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada babak semi final Indonesia Open 2017 kemarin (17/06/17). Mathias Boe bahkan berjoged dan "meledek" supporter dengan cara mendekatkan tangan ke telinga seakan-akan tampak tidak mendengar suara penonton. Aksi provokatif sebagian pemain Denmark yang berlangsung sejak tahun lalu membuat supporter Indonesia kini menjadi kurang respek sehingga jika ada pemain Denmark yang berlaga vs pemain nonDenmark, supporter akan memberikan dukungan kepada lawan dari pemain Denmark, bahkan jika lawan tersebut berasal dari Tiongkok.  

Saya masih ingat sekali saat nonton Indonesia Open 2016 di Istora. Saat ada pemain Denmark yang berlaga vs pemain dari negara lain, para supporter meneriakkan "Go Home Denmark Go Home!" sebagai balasan dari aksi provokatif dari Sudirman Cup tahun lalu. Tampaknya Indonesia yang dulu bukanlah Indonesia yang sekarang ya. Soalnya, dulu pemain Denmark termasuk salah satu pemain yang didukung jika bertanding. Namun akibat ulah sebagian pemain Denmark, para supporter kita masih "baper" sampai sekarang. Saya jadi penasaran saat pertandingan final Indonesia Open 2017 di sektor ganda putra saat Denmark melawan Tiongkok. Masih pada baper tidak ya?

Terakhir, jika pemain asing selain Denmark dan Tiongkok berhadapan dengan pemain asing selain Denmark dan Tiongkok juga, maka ada dua kemungkinan: dukungan terpecah dan tidak ketahuan penonton lebih banyak mendukung siapa atau justru dukungan akan berlangsung secara datar.  Pun jika pemain yang bertanding berasal dari negara yang sama, misalnya Tiongkok vs Tiongkok. Supporter Indonesia akan cenderung bersikap datar.

Bagi saya supporter Indonesia bagaikan dua sisi mata uang. Saat ada pertandingan bulu tangkis internasional di Indonesia, supporter kita bisa sangat baik dan loyal kepada pemain asing. Mereka tak akan pelit dan sangat total dalam memberikan dukungan. Kento Momota, Jan O Jorgensen dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen hingga Julianne Schenk pernah merasakannya. Namun sebaliknya, supporter kita juga bisa menjadi bumerang bagi pemain asing, meskipun lawannya bukan atlet Indonesia. Bumerang itu bahkan bisa makin menjadi jika pemain kita dianggap "terzalimi" oleh ulah sebagian dari pemain dari negara tertentunya. Intinya, jangan main-main dengan supporter Indonesia!

*****

Yuk satukan dukungan untuk Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang berlaga di babak final BCA Indonesia Open 2017. Semoga tahun ini Indonesia bisa bawa pulang 1 gelar juara. Amin.