Kesehatan Pilihan

'Arisan' TB

20 Juni 2017   23:50 Diperbarui: 22 Juni 2017   00:21 1216 0 0
'Arisan' TB
Germas TB

Siang ini, 19 Juni 2017, saya mendapat kesempatan untuk menimba ilmu mengenai program Tuberkulosis (TB) dari dr. Subagyo, Sp.P di Poli Paru RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Saya terpukau dengan penjelasan dan pengalamannya selama ini dalam menghadapi kasus TB. Beliau banyak menceritakan tentang konsep Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) ruangan TB terutama di Rumah Sakit. Saya tidak akan membahas mengenai RSUD Pasar Rebo yang sudah memiliki jalur khusus pasien TB (dari mulai pendaftaran sampai dengan masuk ruang tunggu khusus), atau pun exhaust (hexos) yang ada di setiap ruang pemeriksaan dokter.

Saya akan menjelaskan bagaimana RSUD Pasar Rebo mengubah perilaku pasien dengan mewajibkan semua pasien TB untuk memakai masker setiap kali berobat. Satpam tak memperbolehkan masuk pasien TB yang datang tidak menggunakan masker. Tak hanya itu, satpam yang berjaga di depan ruang Poli Paru juga akan melarang anak-anak untuk masuk ke dalam ruang tunggu dan ruang pemeriksaan.

Tak sampai disitu, dr. Bagyo juga meminta pasien TB untuk memakai masker selama tidur untuk mencegah penularan kepada orang lain yang tidur di ruangan yang sama.

Demikianlah contoh bagaimana kita berusaha mengedukasi pasien untuk merubah perilaku di tempat layanan kesehatan sampai dengan di rumah.

Yang membuat saya kagum adalah bagaimana Beliau menggambarkan ke saya tentang penyakit TB ibarat 'Bom Cluster' dan 'Arisan'.

"Mudahnya, saya sering menjelaskan pasien tentang TB itu ibarat arisan di dalam keluarga. Yang satu dapat (penyakit), berobat dan sembuh, lalu berikutnya giliran anggota keluarga lain yang sakit, dan terus berlanjut siklusnya."

Upaya promotif dan preventif sangatlah dibutuhkan untuk memutus rantai penularan TB. Dalam hati saya, "Keren banget nih dokter, semoga semua dokter, klinisi, dan petugas medis juga memiliki pikiran yang sama seperti beliau".

Dalam menangani pasien TB, investigasi kontak amatlah penting. Beranjak dari rumah penderita TB, diskrining kontak serumah apakah ada yang bergejala TB dan dipantau rutin selama anggota keluarganya berobat TB sampai sembuh. Selain rumah penderita juga penting melakukan investigasi kontak ke rumah depan, belakang, kanan, kiri untuk mencari sumber penularan atau potensi penularan lainnya.

Satu pasien TB berpotensi menularkan 10-15 orang disekitarnya, itulah upaya yang tercermin dalam investigasi kontak 5 rumah di atas. Apalagi dalam kasus TB anak, tentunya penting mencari sumber penularan TB. Percuma menerapi anak jika sumber penularannya tidak diterapi, karena anak hampir pasti tertular TB dari orang dewasa sekitarnya.

Saat ini Indonesia masih didominasi paradigma sakit, dimana pendanaan kesehatan banyak dikucurkan untuk aspek kuratif dan rehabilitatif. Negara selalu berpikir bagaimana agar obat-obat program tidak habis. Terus saja seperti itu. Sampai kapan negara akan bertahan? Bagaimana jika Indonesia sudah tidak ada bantuan pendanaan lagi dari lembaga donor luar negeri? Akankah terus ada program tersebut?

Bagaimana dengan promotif dan preventif? Mungkin langkah awal yang bisa dilakukan adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan dalam bentuk sosialisasi sehingga masyarakat menjadi tahu. Langkah kedua adalah bagaimana masyarakat dapat membuat sikap. Langkah ketiga adalah bagaimana masyarakat beraksi nyata dan berperilaku yang sehat.

Apa saja perilaku yang kita harapkan dapat dilakukan oleh masyarakat terkait dengan TB?

1. Perilaku untuk datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah memiliki gejala TB pada anak atau pun dewasa.
**Tantangan: masyarakat belum mengetahui secara luas mengenai TB dan gejalanya pada dewasa atau pun anak-anak. Selain itu, masyarakat memiliki kecenderungan untuk beli obat sendiri di apotek atau pun berobat ke mantri. Penguatan program TB di apotek dan balai pengobatan tradisional juga tentu diperlukan.

2. Perilaku untuk datang ke fasilitas kesehatan yang menerapkan konsep TB DOTS sesuai standar WHO
**Tantangan:

a) Layanan DOTS mayoritas di Puskesmas dan RS Pemerintah. Stigma masyarakat terkadang underestimate pelayanan dan obat disana, pelayanan yang berbelit-belit dan mengantri lama juga masih menjadi brand sebagian besar Puskesmas dan RS Pemerintah. Padahal sistem pelayanan dan pengobatan pasien TB disana sangat memenuhi standar. Kualitas obatnya pun amat baik karena langsung rekomendasi dari WHO dan Kementerian Kesehatan.

b) Selain itu masih minimnya pengetahuan dokter praktek swasta mengenai strategi DOTS. Peran pemerintah untuk memperluas layanan DOTS ke semua sektor private (swasta) dan tidak hanya di public (pemerintah).

3. Perilaku untuk mengikuti prosedur pemeriksaan penunjang diagnostik sesuai standar
**Tantangan: mirip dengan poin 2b) Selain itu juga karena minimnya pengetahuan masyarakat bahwa diagnosis TB di Puskesmas atau layanan public lainnya GRATIS

4. Perilaku untuk memulai pengobatan dan menyelesaikannya sampai sembuh
**Tantangan: stigma di masyarakat yang masih tinggi mengenai TB, takut dikucilkan, menganggap TB adalah penyakit turunan atau guna-guna, dan bahkan sikap denial yang kuat bagi pasien. Selain itu pengetahuan masyarakat yang 'nanggung' tentang istilah batuk 100 hari, flek, paru-paru basah, dll. Godaan obat herbal pun kian menjamur. Padahal TB adalah penyakit yang dapat disembuhkan secara total dengan menjalankan terapi sesuai prosedur yang benar

5. Perilaku untuk memakai masker dan tidak membuang dahak/ludah sembarangan selama pengobatan
**Tantangan: selain stigma menggunakan masker, masih minimnya pengetahuan pasien pentingnya memakai masker untuk mencegah bertambah rusaknya paru akibat polusi dan tentunya dapat menghindari penularan ke orang lain terutama orang-orang terdekat.

Peran tenaga medis sangatlah besar. Jangan sampai membuat stigma buruk ke masyarakat mengenai TB dan jangan sampai TB itu tetap menjadi 'Arisan' di dalam keluarga (masyarakat) karena ketidaktahuan mereka (minimnya informasi dari petugas medis).

"Pemimpin yang baik adalah yang dapat menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya", bagaimana kita membagi beban berat TB ini sama rata dan sama rasa kepada semua pihak agar memberikan kontribusinya masing-masing. Setiap unsur tersebut akan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan calon pemimpin yang akan dia ciptakan.

Jawaban dari itu semua adalah sistem. Memang sulit untuk menginisiasi sistem agar terbentuk. Akan tetapi jika sistem sudah berjalan, ibarat roda maka akan terus berputar tanpa ada yang mengendalikan. Karena semua orang di setiap level sudah paham akan tugas dan kontribusinya masing-masing.

Puzzle TB tidak akan lengkap tanpa bantuan dari salah 1 pihak saja. Jadi setiap pihak yang berhubungan dengan penyakit TB amatlah penting.

Kapan ya masyarakat Indonesia akan menjadi bagian dari puzzle TB, terutama untuk pencegahan penyakit? Semoga aksi nyata GERAKAN MASYARAKAT Menuju Eliminasi TB 2035 akan benar terwujud. Amin.

Ngabila Salama.