nauval afnan
nauval afnan Wiraswasta

Berjuang bertahan hidup di Bali sejak Januari 2019

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Tradisi Mudik dalam Sejarah Perkembangan dan Kearifan Budaya Lokal Indonesia

11 Juni 2019   15:02 Diperbarui: 11 Juni 2019   15:27 134 1 0
Tradisi Mudik dalam Sejarah Perkembangan dan Kearifan Budaya Lokal Indonesia
1001indonesia.net

Mudik merupakan fenomena tahunan yang terjadi saat mendekati Hari Raya besar di Indonesia, terutama saat Hari Raya Idul Fitri. Lantas sejak kapan fenomena mudik ini terjadi? lalu dari mana budaya mudik terbentuk?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mudik berarti berlayar atau pergi. Secara epistemologi mudik berarti pulang ke kampung halaman. Jadi mudik adalah suatu perjalanan pulang ke kampung halaman dalam kurun waktu tertentu untuk bertemu dan berkumpul dengan sanak keluarga dan terjadi saat momentum khusus.

Terdapat kesamaan makna dari kata "mudik" dari berbagai perspektif budaya di Indonesia. Istilah mudik bisa dikaitkan dengan kirata basa dari bahasa Jawa yaitu mulih disik yang berarti pulang dulu. Dalam bahasa Betawi kata "mudik" berawal dari penyederhanaan kata dari kata udik yang berarti "kampung".

Belum diketahui secara detail kapan terjadinya awal tradisi mudik berlangsung di Indonesia. Tetapi terdapat jejak-jejak sejarah mudik yang terjadi di era kerajaan Majapahit.

Menurut Dosen Sejarah Universitas Sinata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan bahwa "Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri." Kompas.com (6/5/2018).

Fenomena mudik terjadi pada zaman kerajaan Majapahit dikarenakan terdapat urbanisasi di era tersebut mengingat wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas hingga Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Selain itu pihak kerajaan Majapahit menempatkan pejabatnya ke berbagai wilayah untuk menjaga daerah kekuasaanya.

Pada zaman dahulu tradisi mudik dilakukan dengan cara mengunjungi sanak keluarga di kampung halaman untuk meminta restu agar pekerjaan di perantauan berjalan dengan baik. Selain itu tradisi mudik juga dimanfaatkan untuk ziarah ke makam leluhur mereka.

Refleksi tradisi mudik di Indonesia yang tercermin dalam budaya di berbagai daerah di antaranya adalah ritual Barong Ider Bumi di Banyuwangi dan tradisi Toron di Madura.

Barong Ider Bumi merupakan ritual warga suku Osing di desa Kemiren, kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi yang digelar setiap tanggal 2 Syawal atau hari kedua lebaran Idul Fitri. Ritual Barong Ider Bumi diisi dengan berbagai macam kegiatan seperti tari-tarian, sembur othik othik atau menaburkan uang koin yang dicampur bunga dan beras kuning, diakhiri dengan kenduri masal.

Dalam ritual Barong Ider Bumi terdapat makna filosofis bernafaskan Islam dan keseimbangan yang dikandung. Tradisi ini juga dimaknai sebagai tradisi tolak bala. 2 Syawal disimbolkan sebagai 2 mahluk ciptaan Tuhan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan, siang dan malam.

Tradisi ini sudah menjadi tradisi turun temurun ratusan tahun yang lalu yang dilaksanakan tepat pukul 2 siang di tanggal 2 Syawal. Terdapat 99 koin yang berjumlah Rp. 99.900 yang disimbolkan dari Asmaul Husna nama-nama baik dari Allah yang berjumlah 99. Kemudian koin tersebut akan disebar lalu disambut meriah oleh anak-anak.

Ritual Barong Ider Bumi ketika dielaborasikan dengan tradisi mudik keterkaitannya yaitu tradisi ini berlangsung dalam momentum khusus diselenggarakan setiap tanggal 2 Syawal atau hari raya ke-2 Idul Fitri. Mengingat Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum besar umat Islam.

Selain itu sembur othik othik atau menyebarkan uang koin dan kenduri merepresentasikan berbagi angpao dan makan bersama dimana dua kegiatan tersebut tidak terlepas dari tradisi mudik.

Refleksi mudik juga dapat ditemui dalam tradisi Toron di Madura yang berarti turun. Toron bermakna pulang ke kampung halaman. Tradisi Toron terjadi menginat masyarakat Madura lekat dengan warga rantau oleh karena itu pulang ke kampung halaman juga merupakan momentum yang dinanti oleh masyarakat rantau dari Madura.

Islitah Toron memiliki makna filosofis yang dimaknai sebagai pribadi yang rendah diri, tidak melupakan tanah kelahiran, dan memposisikan diri sebagai masyarakat yang menjunjung nilai luhur. Ada 3 momentum tradisi Toron yaitu Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi SAW, dan Hari Raya Idul Adha.

Dari ketiga momentum tersebut Toron banyak dilakukan pada saat Hari Raya Idul Adha. Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk ziarah haji yaitu berkunjung ke rumah jamaah yang pulang dari ibadah haji untuk meminta doa keselamatan.

Masyarakat Madura sangat antusias melakukan ziarah haji karena mereka menganggap jamaah haji sepulang dari Masjidil Haram memiliki status sosial yang tinggi yang kemudian diasumsikan memiliki doa yang mustajab. Maka dari itu warga rantau Madura sangat antusias dengan tradisi Toron pada saat Hari Raya Idul Adha.

Dari berbagai refleksi tradisi mudik di Indonesia yang luhur seperti contoh di atas, kini tradisi mudik mengalami pergeseran fungsi. Gegap gempita menjelang mudik diramaikan juga oleh penjual jasa tukar uang baru serta obral besar besaran di mall.

Tradisi mudik zaman dulu dilakukan secara natural untuk mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga. Namun saat ini tradisi mudik selain berkumpul dengan keluarga juga sebagai ajang menunjukkan eksistensi dirinya selama di perantauan. "Pada era ini kebanyakan pemudik memaksakan diri untuk tampil sebaik mungkin, cenderung wah," kata Silverio, kompas.com (6/5/2018).


Sumber:
kbbi.web.id/mudik
nasional.kompas.com
travel.kompas.com
kompasiana.com/kaulehtorul