Ceritaramlan

Perjuangan Masuk SMAN 16 Bekasi

30 Juli 2018   18:50 Diperbarui: 30 Juli 2018   18:57 281 0 0

Perkenalkan nama saya Daniella Natasya Cinta. Asal sekolah saya dari SMP Pa Van Der Steur.Saya akan menceritakan perjuangan saya bias masuk ke SMAN 16 Bekasi. Tepat pada tanggal 7 Mei 2018, saya menyelesaikan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) yang berarti ujian terakhir saya. Masa perjuangan saya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah selesai, dari kelas 7 hingga kelas 9, Bimble, Try Out, Ujian Praktek, UN dan USBN sudah saya lalui. Rasanya pasti senang dan lega, tetapi ada rasa khawatir dan deg-degan juga menunggu hasil perjuangan saya selama SMP.

Sudah lama saya mempunyai target untuk memasuki SMA Negri, walau dulu sempat  berkeinginan memasuki SMK dengan jurusan Perhotelan atau Multimedia, tapi setelah di pikir lagi lebih matang saya ingin memasuki SMA dan mengambil jurusan IPS. Menit demi menit pun berlalu, pengumuman hasil UN datang. Rasa khawatir dan deg-degan kembali muncul, pemikiran saya mulai diisi dengan hal yang jelek-jelek. Salah satu guru pun pada akhirnya menginformasikan untuk para Wali Murid memasuki ruangan untuk mengambil hasil UN. Saya dan teman-teman saya di luar ruangan sudah mulai bergetar panik dan takut antara akan dapat omelan saat pulang atau bahkan di beri pelukan bangga dari Orang Tua akan kerja keras kita selama 3 tahun bersekolah.

Pada akhirnya pitu ruangan terbuka, satu-persatu Wali Murid meninggalkan ruangan tersebut. Setelah menunggu lama dengan keadaan panik, orang tua saya keluar dan memeluk saya erat. Rasanya senang, lega, dan bangga karena jerit payah sata selama ini tidak sia-sia. Nem saya tidak besar, tidak rendah juga tapi pas untuk perkiraan ke SMA yang saya tuju dan buat bangga orang tua saya. Masuk ke tanggal 5 Juni semua yang di butuhkan sudah lengkap, saya akan menggunakan jalur zonasi di SMAN 16 karena kebetulan jarak nya sangat dekat dari rumah saya ke sekolah. Sesampainya di SMAN 16 berkas saya di tolak karena masalah Kartu Keluarga (KK) saya di Jati Sari, yaitu SMAN 11 Bekasi. Padahal saya sudah memakai surat domisili sampai tingkat kecamatan agar bias masuk ke SMAN 16, tetapi tetap saja di tolak karena harus mengikuti lokasi Kartu Keluarga.

Saya pun daftar di SMAN 11 Bekasi, hanya saja saat di pengumuman masuk tidak masuk saya di nyatakan tidak masuk karena bermasalah di jarak rumah ke sekolah, jarak rumah Nenek saya ke SMAN 11 adalah 1 Kilo Meter sementara jarak terdekat yang di tentukan adalah 500 Meter. Saya mulai cemas karena sudah di tolak 2 sekolah di jalur pertama. Masuk ke pendaftaran umum, lagi-lagi saya memilih SMAN 16 untuk pilihan pertama karena jarak rumah ke sekolah dekat. Saya kembali dengan membawa berkas lengkap lagi, dan berharap lagi agar bisa masuk. Di hari pertama tidak lagi di tolak berkas nya, hanya saja harus pulang untuk antrian besok sekalian dengan kartu NISN saya harus di print  karena kartu NISN saya hilang saat SD.

Besok nya lagi saya datang dengan orang tua saya, mengambil kartu antrian lagi, dan menunggu. Saya mendapatkan antrian ke-28, sedangkan antrian 15-25 masuk. Lama menunggu, tiba-tiba saya mendapatkan kabar kurang menyenangkan lagi. Kabar buruk itu adalah internet sedang down, rasanya kesal sekali sudah 2 hari bolak-balik, saya juga kasihan dengan orang tua saya yang capek-capek bangun pagi dan menunggu lama. Besok nya saya tidak ikut , orang tua saya yang menyuruh saya di rumah. Tepat tanggal 7 Juli 2018 nama saya di input. Di rumah saya dan orang tua saya mencari nama saya di daftar SMAN 16, tetapi tak kunjung ada. Saya pun berisiniatif mencari nama saya di website PPDB Jabar. Lagi-lagi kabar buruk di hari itu. Nama saya tak ada di data PPDB, sungguh  rasanya ingin menangis karena berhari-hari saya di persulit.

Saya berpositif thinking bahwa mungkin ada kesalahan jadi saya akan menunggu hari esok. Besok nya pagi-pagi sekali saya bangun untuk melihat kabar data saya di website PPDB  lagi, dan lagi-lagi nama saya nihil. Seharian penuh saya cek terus-terusan, saya mulai panik begitu juga orang tua saya yang panik dan bingung harus melakukan apa. Saya dan kedua orang tua saya memberi waktu sampai besok, besok nya saya kembali bangun pagi, dan nama saya masih seperti kemarin, yaitu nihil.

Tanggal 9 Juli 2018, orang tua saya ke SMAN 16 untuk bertanya kenapa nama saya tak kunjung ada di data PPDB, padahal saat itu sudah dapat print-an bahwa nama saya sudah di input. Operator pun mulai mengotak-atik lagi dan saat itu juga nama saya sudah ke data. Ternyata ada masalah saat penginputan. Alhasil nama saya tidak adaa di data website PPDB hingga pengumuman tiba dan ternyata masalahnya ada di NISN saya masih terdaftar di Jakarta, sementara SMP saya ada di Bekasi.

Karena saya ingin masuki ke SMAN 16, saya pun memakai jalur yang ada. Saat semua siswa kelas sepuluh mengikuti MPLS, saya tidak ikut MPLS karena mengurus administrasi. Rasa nya sedih karena siswa yang lain sudah mendapatkan teman baru dan mengenal lebih tentang sekolah, saya hanya menunggu waktu masuk sekolah saat MPLS selesai. Lama menunggu akhirnya saya pun masuk, dan untung nya saya mempunyai teman senasib seperti saya. Kita pun mulai berkenalan dan melakukan test jurusan bersama. Selesai test saya dan teman senasib saya ke kelas dimana semua siswa kelas sepuluh belajar, saat itu saya belum mempunyai gugus, begitu juga teman senasib saya. Kita pun di arahkan oleh perkerja di sana untuk memilih gugus. Kebetulan saya punya teman SMP saya beberapa dengan gugus yang berbeda, karena saya tidak ingat gugus masing-masing teman saya, saya pun memasuki gugus yang bukan teman SMP saya tempati.

Saya dan teman senasib saya memasuki kelas gugus yang saya piliih asal. Kita di sapa ramah dan memperkenalkan diri masing-masing. Selesai memperkenalkan diri, saya dan teman saya duduk di bangku kosong. Rasanya seperti sudah berteman lama, kita saling bercerita dan mengerjakan soal bareng karena kebetulan guru Matematika memasuki kelas gugus saya. Besok nya penentuan jurusan, kebetulan teman senasib saya dan SMP saya beda memilih jurusan dengan saya. Saua memilih jurusan IPS, sementara teman saya memilih jurusan IPA.

Saya mulai panik lagi karena takut jurusan saya melenceng  dari pilihan saya. Pembacaan nama mulai dari jurusan kelas X-IPA1 dahulu, nama teman-teman saya belum kesebut, sampai akhirnya di X-IPA3 teman senasib saya masuk di kelas impian nya. Selanjtnya teman SMP saya mereka berhasil masuk di jurusan ingini, yaitu IPA. Masuk ke jurusan IPS saya senang karena masuk ke jurusan IPS karena saya lebih dominan ke penghafalan di banding penghitungan. Pembacaan nama di X-IPS1 tidak ada nama saya, saya mulai berasumsi ke kelas selanjutnya. Lagi-lagi nama saya tidak ada di X-IPS2, saya berpositif lagi akan ada di X-IPS3karena kelas IPS hanya sampai 3 kelas.

Lapangan yang tadinya penuh mulai menyisihkan beberapa murid saja, tangan saya mulai berkeringat akan khawatir kalua nama saya tak ada. Ternyata benar dugaan saya, nama saya tidak juga ada di kelas terakhir. Tapi saya tidak sendiri ada beberapa juga yang namanya tidak tertulis. Ada 4 orang, sisanya siswa yang ingin pindah jurusan. Nama yang belum ada di daftar pun di dahulukan. Ada beberapa orang yang meminta jurusan IPS di tempatkan di kelas IPA terlebih dahulu. Saya lagi-lagi panik takut malah di masukan ke kelas IPA, guru di depan saya pun mengecek kertas kelas mencari bangku yang masih tersisa, ternyata ada di bangku tersisa di kelas X-IPS1, saya pun senang dan lagi saya tidak sendiri, saya punya teman sebangku dan kami pun mulai berkenalan.

Sekian pengalaman perjuangan saya untuk masuk ke SMAN 16 Bekasi. Untuk menggapai sebuah mimpi memang harus melalui segala perjuangan yang tidak gampang. Begitu juga mimpi saya untuk memasuki SMA Negri, orang tua sempat putus asa begitu juga saya yang sangat lelah di lempar kesana-sini, tapi ternyata perjuangan saya tidak sia-sia, karena saya berhasil menggapai mimpi saya untuk memasuki SMA Negri, dan semua yang saya lalui ini menjadi pembelajaran bahwa sabar dan positif thinking itu penting, begitu juga doa orang tua.

Sekian dan Terimakasih.