Syukri Muhammad Syukri
Syukri Muhammad Syukri Pengopi

Orang biasa yang ingin memberi hal bermanfaat kepada yang lain.... tinggal di kota kecil Takengon

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Yuk Shopping ke Malaysia

30 Juni 2016   03:31 Diperbarui: 30 Juni 2016   12:34 225 1 0
Yuk Shopping ke Malaysia
Bus umum rute Aceh - Medan memasang besi pengaman pada kaca depan untuk mengatasi lemparan batu oleh OTK [Foto: dokpri]


Judul itu bukan anjuran gagah-gagahan agar pembaca berbelanja [shopping] ke negeri jiran. Itu sebuah bentuk keprihatinan terhadap perlakuan oknum aparat keamanan di perbatasan Aceh-Sumatera Utara [Sumut]. Bagaimana tidak, setiap warga Aceh yang melintasi perbatasan itu dengan kenderaan pribadi, umumnya pasti mengeluh atas perlakuan oknum aparat disana. Meskipun kelengkapan surat kenderaan sudah memadai, ada-ada saja yang dipersalahkan. Tidak ada yang bisa dipersalahkan, oknum itu meminta diperlihatkan surat jalan. Seolah-olah oknum itu seperti border guard, memeriksa semua dokumen para pelintas batas yang masuk ke sebuah negara asing.

Menghindari ulah oknum tersebut, warga memilih menumpang bus umum. Ternyata, pilihan ini juga tidak nyaman. Bus umum asal Aceh sering dilempari dengan batu oleh orang tidak dikenal [OTK], lokasinya juga di wilayah tersebut. Akibatnya, kaca bus pecah dan menyebabkan penumpang terluka, bahkan pernah sebuah bus mengalami kecelakaan. Jangan heran bila melihat bus-bus asal Aceh umumnya memakai besi pengaman pada kaca depannya.

Ulah oknum maupun OTK tersebut sudah berlangsung lama. Keluhan itu sudah diapungkan berulangkali, bukan hanya ditingkat warga, bahkan media massa pun sering memberitakannya. Malah, Gubernur Aceh sudah mempersoalkan ketidaknyamanan para pengguna jalan tersebut ke level yang lebih tinggi. Toh, gangguan terhadap para pengguna jalan sewaktu melintasi perbatasan Aceh-Sumut sepertinya tidak kunjung reda sampai saat ini. Dan, para pemudik yang melintasi jalur itu, mau tidak mau harus berhadapan dengan oknum-oknum tersebut.

Deskripsi diatas bukan isapan jempol. Buktinya, Muslim Ayub anggota Komisi III DPR-RI seperti diberitakan Serambinewsdotcom  [28/6/2016], menyikapi kejadian itu terpaksa mendatangi Mabes Polri. Kepada Kapolri Jenderal Pol Badroddin Haiti, anggota DPR-RI asal daerah pemilihan Aceh itu melaporkan: “Masyarakat Aceh yang melintasi perbatasan Aceh-Sumut sangat terganggu ketika ada oknum kepolisian yang mencari-cari kesalahan, yang ujung-ujungnya adalah pemberian uang.”

Apa jawaban Kapolri? “Kita tidak ingin aksi-aksi semacam ini semakin merusak nama baik kepolisian dan menurunkan kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu kita akan berikan tindakan yang tegas terhadap oknum yang terlibat,” janji kapolri seperti ditulis situs online  itu.

Disisi lain, pernahkah oknum-oknum itu menyadari bahwa kunjungan warga Aceh ke Medan bukan untuk merugikan warga Sumut, tetapi mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah itu? Diantaranya untuk tujuan liburan, sekolah anak, belanja barang untuk didagangkan, dan berbagai  transaksi bisnis lainnya. Ini artinya, warga Aceh mengantar uang tunai kepada berbagai unit usaha yang beroperasi di Kota Medan. Diakui atau tidak, dari perputaran uang itulah bergeraknya denyut perekonomian Kota Medan dan Sumatera Utara.

Kemudian, akibat ulah oknum nakal dan OTK itu, lalu warga Aceh harus mengalihkan lokasi shoppingnya ke Malaysia. Berapa trilyun rupiah uang Indonesia yang akan lari ke negeri jiran itu? Ah, mana mungkin itu, kira-kira begitu komentar oknum-oknum tersebut. Siapa bilang tidak mungkin? Dengan dimulainya pasar bebas ASEAN atau MEA terhitung Desember tahun lalu, semua orang bebas berdagang antar negara di kawasan ASEAN. Mungkin saja Medan ditinggalkan para pembelanja, mereka melirik Penang. Lebih-lebih jarak Pelabuhan Krueng Geukuh [Aceh] dengan Penang Malaysia [apabila ditempuh dengan kapal ferry] kurang lebih sama dengan jarak Banda Aceh-Medan [apabila ditempuh dengan bus umum].

Tahun 2005 lalu pernah dibuktikan oleh para saudagar Aceh yang bermukim di Malaysia. Ketika itu, MoU Helsinski baru saja ditandatangani, sehingga situasi keamanan di Aceh semakin kondusif. Rindu kampung halaman, terus para saudagar itu saweue gampong [mudik bersama] dengan menyewa sebuah kapal ferry. Setibanya di Pelabuhan Krueng Geukuh Lhokseumawe, bermunculan sejumlah mobil ber-plat Malaysia dari lambung kapal itu. Kemudian, dengan mengendarai mobil-mobil itu, para saudagar mengunjungi desa kelahiran kakek-neneknya. Setelah itu, mereka menjelajahi hampir seluruh daratan Aceh untuk mencari peluang investasi, termasuk mampir ke Takengon Aceh Tengah.

Berangkat dari kisah itu, ditambah kekecewaan warga dan pedagang Aceh sudah sampai ke ubun-ubun melihat ulah oknum-oknum itu, maka tidak tertutup kemungkinan pasar akan beralih ke Malaysia atau negara sekitarnya. Peluang baru bukan? Saya yakin, para pengusaha kapal ferry pasti sedang mengintip peluang ini. Mereka sangat berkeinginan terbukanya jalur pelayaran dari Pelabuhan Krueng Geukuh-Penang. Pada saat jalur pelayaran itu terbuka, [percayalan] pedagang dan warga Aceh akan shopping kebutuhan sehari-hari ke semenanjung Malaysia. Mulai dari telor ayam, ayam potong, pakaian jadi, besi beton, termasuk makanan ringan yang selama ini dipasok dari Medan, sejak saat itu akan dipasok dari Malaysia atau Thailand. Bahkan, [mungkin saja] melalui kesepakatan antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Malaysia, warga Aceh bisa shopping dengan mengendarai mobil ber-plat Aceh di jalanan Malaysia. Menarik bukan?

Pertanyaan besarnya, siapkah pedagang-pedagang di Kota Medan kehilangan pembeli dari Aceh? Tidak, sekali lagi tidak! Ceritanya begini, sewaktu konflik Aceh masih membara, jalur transportasi Aceh-Sumut pernah tidak kondusif. Angkutan umum dan barang sering disandera oleh OTK. Dampaknya, suplai barang dari Sumut ke Aceh menurun drastis, bahkan nyaris terhenti. Tersebutlah Nyak Din seorang pedagang grosir di Pasar Baleatu Takengon. Pada waktu itu, dia pernah mengungkapkan bahwa toke langganannya di Medan menelepon. Toke itu akan mengirim satu truk barang kebutuhan sehari-hari ke Takengon. Nyak Din menolak, khawatir tidak sanggup membayar apabila barang-barang itu hilang [disandera OTK] ditengah jalan.

“Kalau hilang karena disandera OTK ditengah jalan, ya nggak perlu bayar,” kata Toke itu seperti diceritakan Nyak Din.

“Kalau pun barang-barang itu tiba di Takengon, saya belum ada uang untuk membayarnya,” tolak Nyak Din secara halus.

“Terima aja dulu, kapan ada uang baru kamu bayar. Tolonglah, disini sedang sepi pembeli,” ungkap si Toke.

Akhirnya, Nyak Din setuju barang-barang itu dikirim ke Takengon. Benar memang, si toke itu tidak pernah menagih uang, malah dia menambah kiriman barang yang lain. Biasanya, cerita Nyak Din, terlambat sehari saja dari perjanjian pembayaran, maka kiriman berikutnya dihentikan. Si Toke langsung datang ke Takengon untuk menagih tunggakan pembayaran. Begitulah secuil kisah dari ujung barat Pulau Sumatera, mudah-mudahan dengan ulasan ini akan membuka mata hati semua pihak. Semoga...