Fiksiislami

Islam dalam Perspektif Sains dan Teknologi

2 Juli 2018   23:05 Diperbarui: 2 Juli 2018   23:23 456 1 0

Kita tak dapat menyangkal bahwa semua penemuan sains dan teknologi, serta rangkaian kejadian alam semesta ini merupakan mata rantai yang berharga dalam Islam. Islam telah menunjukan kemuliaan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi tonggak pemikiran bagi saintis modern untuk meneliti dan memahami misteri alam ciptaan-Nya. Al-Qur'an al-karim ditinjau dari segi bahasanya adalah suatu mu'jizat yang besar, disamping isinya pun (al-Qur'an) mengandung mu'jizat-mu'jizat pencerahan ilmu pengetahuan dan dasar-dasar pengembangan teknologi.

Dalam kandungan al-Qur'an terdapat berita dan janji-janji Allah SWT mengenai masa yang akan datang. Kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan adalah di luar kekuasaan manusia untuk mengetahuinya. Di dalamnya terdapat pula fakta-fakta ilmiah yang tidak mungkin diketahui manusia di tanah Arab pada waktu al-Qur'an diwahyukan kepada Rasulullah saw.

Akan tetapi, fakta-fakta tersebut dijelaskan dengan tepat dan sekarang diakui kebenarannya, seperti pada masa itu, ilmu kedokteran di tanah Arab boleh dikatakan tidak ada, yang ada hanya ilmu pengobatan secara primitif dan takhyul. Namun demikian dalam surat al-Mu'minuun : 12-14 diterangkan tentang proses pembentukan janin (manusia) yang diakui kebenarannya dalam ilmu kedokteran modern.

Oleh karena kecintaannya kepada al-Qur'an, ummat Islam di masa khalifah Ustman bin ' Affan mulai mengarang dan menterjemahkan bermacam-macam buku ilmu pengetahuan tentang falsafah, kesenian, ekonomi, ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu mekanika, geografi, metafisika, kimia, dan lain sebagainya, sehingga perpustakaan-perpustakaan Islam di kota-kota besar (Cairo dan Cordoba) dipenuhi dengan buku-buku ilmiah. 

Hal ini sesuai dengan anjuran al-Qur'an seperti dalam surat Al-Alaq : 1-5 yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Ilmu memberikan pengertian tentang alam dimana kita hidup. Sehubungan dengan kaidah ilmiah ini, Karl Jaspers pernah menulis, bahwa "ilmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya".

Oleh sebab itu, kemudian munculah suatu pola pikir yang sama sekali berlawanan dengan rasionalisme, yang dikenal dengan istilah emprisme, yang menganjurkan agar kita kembali ke alam semesta untuk 'memperoleh' pengetahuan. Menurut mereka, pengetahun ini tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman batiniah.

Dewasa ini, iman seorang muslim dihadapkan pada persoalan yang timbul dari kehidupan modern, dipengaruhi oleh benturan gelombang budaya, peradaban sekuler dan agnostic. Teknologi di samping asas manfaatnya yang luar biasa bagi kualitas kehidupan ummat manusia juga bisa disalahgunakan seperti: narkotika, internet dan sebagainya.

Dunia memerlukan pribadi-pribadi muslim yang tangguh dan brillian seperti Al-Kindi, Ibnu Sina atau Ibnu Rusta, dan pribadi-pribadi yang religius yang sekaligus memahami dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karenanya, kita wajib menguasai sains dan teknologi (ilmu). Tanpa ilmu, manusia sering dan suka berdusta terhadap yang lainnya, dengan maksud menyesatkan manusia lainnnya. Ia akan mengikuti dan menuruti nafsunya sendiri tanpa kendali.