Mukhotib MD
Mukhotib MD profesional

consultant, writer, citizen journalist

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami

Kliwon, Episode Mbabar Jati Diri (Tamat)

15 Juni 2018   22:01 Diperbarui: 15 Juni 2018   22:09 502 0 1
Kliwon, Episode Mbabar Jati Diri (Tamat)
(Sumber Foto: www.kampungdakwah.or.id)

Setengah hari penuh, warga dusun Bluwangan ibarat rama-rama di awal musim penghujan. Mereka hilir mudik, keluar masuk rumah tetangga, saling mengunjungi dan meminta maaf. 

Ketika bertemu di jalan kampung, mereka ibarat semut-semut yang meniti cabang pohon, saling menyapa dan berjabat tangan. Kliwon dan keluarganya, pun seperti yang lain, mereka mengunjungi tetangga yang dituatakan.

Keluarga-keluarga muda seperti keluarga Kliwon, bisanya tak seramai kunjungan di rumah para sesepuh dan pinih sepuh. Kadang malah hanya teman-teman dekat yang tinggal di kampung itu sendiri. Meski karena jenang dodolnya, rumah Kliwon masih lebih banyak dikunjungi tetangga dibandingkan dengan keluarga tetangga yang seusianya.

Tetapi lebaran kali ini agak berbeda. Tamu berombong-rombong dengan kendaraan pribadi tak kurang dari sepuluh kendaraan datang ke rumah Kliwon. Semuanya menggunakan sarung, baju putih dan jas warna hijau dengan logo sebuah pesantren besar yang terkenal di tanah Jawa. 

Kliwon tak mau menerima langsung tamu-tamu itu. Ia tahu persis, mereka itu keluarga besarnya dari kampung yang sudah ditinggalkannya hampir 30 tahun lamanya.

Kliwon masuk ke dalam rumah. Legi membujuk agar mau menerma kedatangan keluarga besarnya yang diikuti para santri-santri perempuan dan laki-laki. Tetap menolak, Abdurrahman terpaksa menggantikan menerima tamu-tamu itu. Dzul, rajab dan Syawal juga beberapa tetangga lain membantu menata kursi yang dipinjam dari tetatangga kanan dan kiri rumah Kliwon.

Setelah semua mendapatkan tempat duduk, para tetangga dusun Bluwangan diminta mengambil tempatnya masing-masing. Tak semuanya mendapatkan kursi, sebagian duduk di tumpukan bnata, di emper rumah, dan ada juga yang duduk-duduk di bawah pohon rambutan, pohon kelapa, dan tentu pohon nangka di sudut barat halapan rumah Kliwon.

"Sudah 30 tahun Kliwon bersama ibu dan bapak, menjadi tetangga dan sebagian menjadi seperti saudara," kata Abdurrahman dengan berdiri di depan pintu rumah Kliwon. Ia memberikan sambutan dan menjelaskan tujuan kunjungan para tamu ke dusun Bluwangan.

'Mereka yang datang berombong-rombong akan meminta Kliwon untuk kembali, mengakhiri masa tirakatnya, masa lakunya," kata Abdurrahman.

Orang-orang saling pandang, mereka tak mengerti apa yang dikatakan Abdurahman. Yang mereka tahu Kliwon, ya, Kliwon, si tukang panjat pohon kelapa, suaminya Legi, bapak dari dua anak laki-laki, Si Pon dan Wage. 

Mereka selama ini hidup miskin karena mengandalkan penghasilan sebagai tukang panjat pohon kelapa. Sekarang, ada tamu dengan kendaraan-kendaraan bagus, dan kata ustadz Abdurrahman mereka semua keluarga Kliwon dan para santri-santri di pesantren milik keluarga Kliwon.

"Mimpi kali, ya,' kata seorang warga yang duduk di atas sandal jepitnya. Celanya komprang sehingga ujung celananya melembreh ke bawah. Dan beberapa perempuan yang kebetulan memandang ke arah laki-laki itu akan segera melengos, membuang muka secepat-cepatnya dengan mimik malu yang tersimpan dalam katupan bibirnya.

"Mimpi bagaimana. Kita saja yang nggak bisa melihat mutiara dalam kampung kita," kata teman yang duduk di sebelah laki-laki itu.

Abdurrahman tampak duduk. Kini seorang laki-laki yang masih lebih muda ketimbang Kliwon, berdiri menggantikan posisi Abdurrahman. Para warga berdecak-decak tak jelas arah. Laki-lakii itu mirip benar dengan Kliwon. Bedanya, Kliwon tak memelihara jambang, sedangkan yang berdiri di depan, jambang, kumis dan jenggot saling menyambung.

"Kita akan berpamitan, Gus Rim, panggilan kami ke Mas Abdul Karim Alsyazili, yang di kampung ini ia menamakan dirinya sebagai kliwon," kata laki-laki muda.

"Agar tidak membingungkan, Gus Rim merupakan kakak tertua kami, yang segera akan memimpin pesantren yang sudah dirintis kakek buyut kami. Hanya saja, Gus Rim waktu itu meminta waktu, karena ia ingin mengalami kehidupan orang-orang miskin, kaum mustadz'afin, yang hidupnya tak dikenal masyarakat," lanjutnya.

"Setelah 30 tahun, kami akan meminta Gus Rim kembali untuk segera memimpin pesantren menggantikan abah kami yang sudah sepuh, sehingga tak perlu membebaninya dengan tugas-tugas di pesantren."

Kliwon keluar dari rumah dengan mengenakan baju seperti orang-orang yang menjemputnya. Ia begitu tampak gagah dengan wajah yang bersinar-sinar. Tidak seperti biasanya ketika pemimpin berkunjung ke desa, warga yang akan berbaris-bari untuk berjabat tangan, Kliwon alias gus Rim, meski dia pemimpin pesantren besar, ia yang mendatangi warga untuk bersalaman dan meminta maaf atas kesalahannya selama tinggal bersama di dusun Bluwangan.

Warga berdiri dengan masih menunjukkan wajah bimbang, Pandangan mereka terus mengikuti rombongan kendaraan itu sampai di tikungan jalan.***