Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Karyawan Swasta

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami

Mempersilahkan Hilal Datang

16 Mei 2018   21:49 Diperbarui: 16 Mei 2018   21:54 142 2 1

Menyaksikan dari sini.  Udara menggulung awan.  Lipatan demi lipatan. Membersihkan langit dari semua yang menutupi.  Agar bisa mempersilahkan hilal datang dengan senang hati.

Segenap cinta berkumpul di muara. 

Dari hulu sungai kepada akar-akaran yang setia menyimpan airnya di saat kemarau melimpahi bumi dengan kekeringan yang mencekik.  Dari kabut terhadap hujan yang bersedia melahirkan anak-anak gerimisnya di saat para petani membenahi pematang dan menegakkan kembali batang-batang padi yang nyaris roboh.  Dari jendela rumah kepada angin yang mendorongnya terbuka agar wangi bunga-bunga di halaman sampai ke penciuman pemilik rumah yang sedang berduka oleh sebab-sebab kerumitan dunia.

Segenap cinta mendekati malam pertama di bulan yang diciptakan sempurna.

Dari percakapan seru anak-anak setelah pulang tarawih dan bercerita tentang jenis-jenis kue lebaran nanti.  Dari obrolan ibu-ibu tentang apa yang mesti dimasaknya untuk sahur dinihari.  Dari perbincangan bapak-bapak sebelum tadarus bahwa waktu puasa akan semakin panjang di tahun ini.

Sore perlahan mengudap kegelapan.  Petang mulai menyantuni anak-anak malam.  Inilah saatnya.  Selamat datang hilal.  Selamat berjumpa Ramadan.


Pekanbaru, 16 Mei 2018