Meita Eryanti
Meita Eryanti Apoteker | pemilik Chocomeeshop

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. kalau ada yang ingin berbagi cerita tentang penggunaan obat, bisa kirim email ke meita.eryanti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Depresi, Obat, dan Kebahagiaan

1 Juli 2017   12:27 Diperbarui: 1 Juli 2017   12:34 359 3 0

Beberapa minggu lalu saat aku mengikuti sebuah talkshow di daerah BSD Tangerang Selatan, temanku yang tinggal di daerah sana menemuiku di tempat talkshow. Kami berbincang tentang banyak hal termasuk orang-orang yang kami kenal.

“Yang rambutnya dicat itu bukan, Mbak?” tanya temanku saat dia berusaha mengenali orang yang aku sebutkan.

“Iya yang hobinya piknik itu,” kataku.

“Ah, biarpun suka piknik, kayaknya dia banyak masalah deh,” komentar temanku. “Dia langganannya dokter syaraf tau. Tiap ke apotek kerjaannya nebus resep Xanax.”

Aku agak terkejut. Masak sih? Masak orang yang kerjaannya piknik mengkonsumsi Xanax dari dokter syaraf? Xanax adalah merek obat yang sering diresepkan sebagai obat penenang. Tapi ya mungkin juga orang yang kami bicarakan ini adalah seorang pejabat di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar. Mungkin tekanan dari pekerjaannya menyebabkan dia stress dan piknik yang hampir dilakukannya tiap bulan belum bisa mengurangi stress yang dideritanya.

“Stress kali dianya,” timpalku singkat.

Tentang Depresi

Menurut Mitch Albom dalam bukunya yang berjudul Have a Little Faith, apa yang kita sebut dengan depresi hanyalah ketidak puasan, sebagai akibat dari penetapan target yang terlalu tinggi hingga mustahil dicapai atau mengharapkan harta karun yang tak ingin kita upayakan dengan bekerja. Ada orang-orang yang sumber ketidak bahagiaan mereka adalah hal-hal yang tidak tertanggungkan seperti berat badan, kebotakan, kemandekan dalam bekerja, atau ketidak mampuan mereka mendapatkan pasangan yang cocok.

Dalam situasi tersebut, sepertinya obat antidepresan merupakan jawaban dari depresi yang mereka alami. Memang antidepresan melakukannya. Namun, obat tidak mengubah masalah mendasar yang membuat kita depresi. Obat tidak membuat kita memiliki karir yang cemerlang ataupun membuat kita menemukan pasangan yang cocok.

Kebahagiaan dalam obat

Kadang, orang tidak perlu menderita trauma khusus untuk mendapatkan obat antidepresan. Cukup dengan gejala depresi umum atau kecemasan atau susah tidur beberapa dokter bisa meresepkannya. Seolah-olah kesedihan sama mudah diobatinya dengan pilek. Cobalah tanya pada apoteker yang bertugas di rumah sakit. Berapa banyak resep antidepresan yang mereka terima setiap harinya.

Segala sesuatu yang oleh masyarakat dipandang harus kita upayakan supaya kita bahagia. Banyak perkawinan yang bercerai padahal mereka memiliki semua benda duniawi. Banyak keluarga yang terus bertengkar padahal mereka berlimpah uang dan hidup sehat. Memiliki banyak hal tidak akan menghentikan kita untuk menginginkan lebih banyak lagi. Dan ketika kita selalu menginginkan yang lebih banyak, lebih kaya, lebih cantik, lebih terkenal, kebahagiaan tidak akan pernah datang pada kita.

Bagaimana kita bisa merasa bahagia?

Dalam hal ini, Cak Nun pernah mengajarkannya pada kita melalui bukunya. Bila sesuatu hal tidak bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan walaupun sudah diupayakan sedemikian rupa, belajarlah untuk menerima. Minimal dengan menerima, kita bisa terhindar dari stress.