MJK Riau
MJK Riau pegawai negeri

Lahir di Jogja, Merantau di Riau

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

The Man Behind The Gun

4 Juli 2016   20:43 Diperbarui: 4 Juli 2016   20:47 69 9 6
The Man Behind The Gun
Wong tidak eye catching saja, kok selfi

Kesempatan emas itu hilang lagi. Kesempatan emas apa nih ? Kesempatan untuk melakukan keputusan bersama mengikuti dasar perhitungan, bukan dasar pengamatan. Sungguh suatu dampak yang sangat besar terasa di sebagian masyarakat ketika tiba-tiba harus menunggu suatu keputusan yang akan dilakukan karena suatu dasar pengamatan. Sementara di pihak lain sudah ada keputusan berdasarkan perhitungan. Ke dua keputusan yang kelihatannya masing-masing mengikuti aturan yang jelas, sayang menerapkannya mengambil angle yang berbeda. Namun yang sangat disayangkan adalah begitu besar dana, daya dan bahkan iptek dipergunakan untuk sebuah keputusan yang sudah dapat diduga sebelumnya. Idul Fitri jatuh hari Rabu bertepatan pada tanggal 6 Juli Kalender Masehi.

"Kapan mau ikut open house ?"

"Rabu, tanggal 6 Juli."

"Bukannya besuk, tanggal 5 Juli. Itu sedang ada sidang itsbat."

"Insya Allah, kita akan lebaran bersama hari Rabu 6 Juli 2016. Tenang saja, hari ini capai sekali, sorry tidur dulu, ya."

Mengapa kesempatan emas itu selalu tidak dipergunakan. Ilmu dan tehnologi sudah maju. Kalau dahulu orang sulit memberikan bukti hilal sebagai awal bulan baru, sehingga hanya orang orang tertentu yang dapat melihat atau dipercaya melihat hilal, baca ditugaskan tentu setelah disumpah. Sekarang alat alat canggih sudah dapat membantu manusia untuk dapat melihat hilal. Namun ya itu, tadu semua alat alat canggih tetap akan sangat tergantung orang yang menggunakan. Apakah perlatan tersebut digunakan berdasarkan perhitungan atau hanya digunakan sebagai alat untuk pengamatan saja. 

Kalau saja mereka mau menghormati dasar perhitungan yang justru sudah dikembangkan umat sejak jaman dulu kala, karena mengikuti petunjuk Illahi Robbi. Ilmu perbintangan yang dikembangkan berdasarkan perhitungan pergerakan bulan, yang terbukti tidak kalah dengan ilmu perbintangan yang dikembangkan berdasarkan pergerakan matahari. Sungguh disayangkan, belum kita pergunakan secara optimal. Namun sudahlah kita ini, bangsa yang toleran. Sudah baik bersama-sama, mengapa harus membicarakan hal yang tidak perlu. 

Ya. Kalau saja, keputusan untuk melihat hilal, itu berdasarkan hisab, maka hasilnya akan lain. Tidak akan pernah ada yang dapat melihat hilal, pada saat bulan masih di bawah ufuk. Masyarakat juga diajarkan mengetahui manfaat ilmu. Ilmu yang justru dikembangkan dari Al Qur'an. Bagaimana dapat mengetahui bulan masih di bawah ufuk atau sudah di atas ufuk. ilmu hisab. Gunakanlah ilmu hisab, Aneh kalau peralatan yang begitu canggih dikerahkan untuk melihat hilal, sementara bulan masih di bawah ufuk. Masya Allah. 

Ya. udahlah, kayaknya sudah lebih dari 70 kata. Itulah the man behind the glasses eh the gun, ding, sesuai judulnya.