Mas Yunus
Mas Yunus Dosen

Writer. Menulis untuk mengapresiasi. Menyukai seputar ekonomi komunitas, trip wisata, edukasi, dan ragam potensi lokal. Tinggal di Kota Malang.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan featured

Nuzulul Qur'an dan Rindu Mengaji

11 Juni 2017   11:28 Diperbarui: 2 Juni 2018   20:55 1640 23 10
Nuzulul Qur'an dan Rindu Mengaji
Mushaf al-Quran/Dok. Pribadi

Bulan Ramadhan menjadi istimewa, antara lain karena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Wahyu pertama yang diturunkan adalah lima ayat pertama Surat al-Alaq (Q.S. 96: 1-5). Di Indonesia, peristiwa diturunkan al-Qur'an itu sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, dikenal dengan peringatan Nuzulul Qur’an.

Ayat-ayat pertama yang diturunkan itu mengandung pesan untuk membaca (iqra'). Perintah iqra' itu diulang-ulang sebanyak dua kali. Pertama, dua kali disebutkan di surat al-Alaq. Kedua, kata iqra’ disebut sekali di surat al-Israa’ (Q.S. 17: ayat 14).

Jelang peringatan malam nuzulul Qur’an, mari sejenak kita mengevaluasi diri (muhaasabah binafsihi). Evaluasi diri itu bersifat internal, ke dalam, dan tanpa disertai apologi serta melibatkan kesalahan pihak-pihak lain.

*****

Refleksi Diri "Mutu Puasa"

Setengah bulan Ramadhan telah berlalu. Sebentar lagi peringatan Nuzul Qur'an tiba. Tiap muslim yang berpuasa berlatih “menahan diri”. Tidak makan, tidak minum di siang hari. Tidak melakukan segala perbuatan yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga maghrib. Itulah per definisi puasa.

Properti Hiasan Ramadhan di Malang Town Square/Dok. Pribadi
Properti Hiasan Ramadhan di Malang Town Square/Dok. Pribadi

Namun, apakah setiap diri yang berpuasa benar-benar telah “berpuasa”? Jawabannya ada pada pribadi masing-masing.

Semoga kita yang berpuasa terhidar dari berkata-kata kotor, ujaran kebencian, menggunjing, mengadu domba, memfitnah, an-nadhru bissyahwat (memandang penuh syahwat), dan sumpah palsu dan semacamnya seperti yang disebutkan dalam Hadits. Itulah penyakit-penyakit yang berpotensi merusak pahala puasa.

Bulan Ramadhan penuh berkah. Di dalamnya selalu ada dimensi sosial dibalik perintah menunaikan ibadah puasa. Misalnya mereka yang tak mampu berpuasa, wajib memberi makan fakir miskin. Contoh lain adalah kewajiban mengeluarkan zakat fitrah (setara dengan + 2,5 - 3 kg beras). Selalu ada dimensi sosial dalam ibadah puasa.

Dengan demikian, puasa Ramadhan merupakan sarana untuk menundukkan hawa nafsu sendiri, bukan hawa nafsu orang lain. Puasa juga sebagai sarana memupuk kepedulian sosial. Maka, melalui puasa, kita berlatih berbuat baik kepada Tuhan dan kepada sesamanya. Hamblun minalllah, hablun minannas

Refleksi Nuzulul Qur'an

Di suatu malam Ramadhan yang penuh berkah, Allah Swt telah menurunkan Kitab Suci al-Qur’an. Fungsinya sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan yang bathil (Q.S. Al-Baqarah: 185).

Wahyu yang turun pertama kali adalah perintah untuk “membaca” (iqra’). Ayat itu termaktub dalam al-Qur’an Surat al-‘Alaq. Izinkan saya membacanya sekali lagi.

  1. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan!
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah!
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S. al-Alaq: 1-5).

Perintah iqra' dalam ayat tersebut diulang-ulang sebanyak dua kali. Dalam bahasa pendidikan, kalau ada sesuatu yang patut mendapat perhatian, perlu diulang-ulang (metode repetisi). Berarti kata iqra’ itu penting, bukan? Maknanya, ummat harus melek literasi!

Melalui perantaraan “qalam” (pena) itulah, manusia belajar menghasilkan sesuatu, seperti tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan, era pra sejarah berakhir. Begitulah sejarah menunjukkan kepada kita.

Selain iqra’, ayat di atas menyebut kata “qalam” (pena). Kata ini diambil dari kata kerja qalama. Hans Wehr dalam karyanya, A Dictionary of Modern Written Arabic,mengartikan qalama sebagai to cut, clip, pare (nails, etc), prune, trim, lop (trees, etc). Bentuk jamaknya, “aqlam”, berarti reed pen; pen; writing, scripts, calligraphic style, ductus; hand writing…”(Wehr, 1974: 788).

Mengacu pada pengertian leksikal itu, kiranya qalama dapat diartikan memotong sesuatu (to cut) atau memendekkan (prune) ujung suatu benda seperti kuku (nails); dalam konteks ini, dapat diartikan hasil dari menggunakan peralatan pena (pen), yakni berupa tulisan, naskah (scripts), tulisan tangan (hand writing), dan sebagainya.

Refleksi Perlunya Literasi

Namun dalam perkembangannya, dunia literasi bukan hanya sekedar soal “melek huruf” atau baca-tulis. Melek literasi juga berarti melek informasi, melek teknologi, melek keuangan, dan “melek-melek” yang lain sesuai kebutuhan zaman. Literasi ummat patut dihidupkan. 

Begitulah. Betapa pentingnya iqra’ di tengah dunia yang sedang bergejolak. iqra' ma baina samawaat wal ardl. Ummat perlu "membaca".

Apa relevansi iqra’ dengan al-qalam? Membaca, menelaah, mengkaji (iqra')  itu butuh media; dan media itu adalah pena. Padanan pena saat ini seperti laptop atau PC. 

Apa relevansi Ramadhan dengan Nuzulul Qur’an?

Di satu sisi orang yang berpuasa patut meningkatkan mutu puasanya, di sisi lain setiap diri yang berpuasa patut meningkatkan mutu literasinya dengan cara melakukan “tadarrus” al-Qur’an.

“Nak, ayo podo nderes Qur’an”, begitu kira-kira yang saya ingat dari petuah guru ngaji kami di kala kecil dulu.

Apa sih nderes itu? “Nderes”itu bahasa lokal (Jawa), serapan dari bahasa Arab "Darasa", yang berarti belajar, studi, menelaah, atau mengkaji. Nderes itu penting!

Unik, aktivitas nderes sambil duduk bersila di depan dampar. Aku rindu dampar itu, tempat mengaji di surau kecil yang biasa disebut langgar. Aku rindu ngaji seperti dulu. Nagji di langgar itu dengan dampar itu! Selamat memperingati Nuzulul Qur’an! Rindu ngaji!

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Amin.


Malang, 11 Juni 2017.