Trimanto B. Ngaderi
Trimanto B. Ngaderi Pegawai Kementerian Sosial RI

Penulis, Petani, Pegiat Forum Lingkar Pena, Pendiri Taman Baca "Rumah Cahaya" Boyolali, Direktur CV Madina Publika

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Masjid Layak Anak

3 Juli 2017   12:57 Diperbarui: 3 Juli 2017   13:12 261 2 0

Oleh: Trimanto B. Ngaderi


Jika di suatu masa kelak, kamu tidak lagi mendengar gelak-tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu

(Sultan Muhammad al Fatih, penakluk Konstantinopel).

Tahun 2005 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan mencanangkan program Kota Layak Anak (KLA). KLA merupakan sebuah kota yang merencanakan, menetapkan, serta menjalankan seluruh program pembangunannya dengan berorientasi pada hak dan kewajiban anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Kriteria anak di sini adalah semua warga negara sejak ia berada dalam kandungan hingga usia 18 tahun.

KLA di sini tidak hanya terjadi dan berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial di mana ia tinggal. Tetapi juga berlaku di lingkungan tempat ibadah, seperti masjid, gereja, pura, vihara, dan lain-lain. Tempat ibadah juga harus menjadi tempat tumbuh-kembang anak, terutama dari sisi perkembangan spiritual. Moral, akhlak, dan budi pekerti, selain ditanamkan melalui lembaga formal sekolah, juga diperkenalkan sejak dini melalui rumah-rumah ibadah.

Pertanyaannya adalah sudahkah masjid menjadi tempat yang layak bagi anak, tempat yang ramah bagi anak?

Realitas Masjid Terkini

Hari ini, di setiap tempat dengan mudah kita temui masjid. Di kota maupun di desa, masjid-masjid baru bermunculan. Bahkan, masjid akbar dan megah menjadi pemandangan yang lazim.   Tapi sangat disayangkan, sebagian besar masjid-masjid itu sepi jamaah. Ada anak-anak yang masih mau pergi ke masjid, tapi beberapa masjid nyaris tidak ada anak-anak yang hadir.

Faktor eksternal mengapa anak-anak kini jarang pergi ke masjid di antaranya adalah berkat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yaitu menonton televisi di rumah, bermain game/HP, serta berbagai kegiatan di luar rumah yang lebih menarik seperti bermain futsal, nongkrong di warung, pergi ke mal, dan lain-lain.

Sedangkan faktor internal misalnya, anak merasa tidak ada temannya, tidak ada yang mengajar membaca Al Qur’an, sering dinakali temannya, konflik antarkelompok atau mazhab sehingga orang tua melarang anaknya pergi ke masjid, juga anak tidak merasa aman dan nyaman berada di masjid.

Terkait rasa aman dan nyaman inilah sepertinya menjadi faktor terbesar yang membuat anak enggan pergi ke masjid. Biasanya anak sering dimarahi oleh orang tua sendiri maupun takmir karena dianggap mengganggu aktivitas beribadah. Bahkan, tak jarang mereka melakukan kekerasan kepada anak yang bermain atau berisik dengan membentak, menjewer, atau memukul. Lebih dari itu, malah ada yang sampai mengusir si anak atau melarangnya untuk datang lagi ke masjid.

Dengan demikian, tanpa sadar kita telah melakukan teror kepada anak-anak. Kita telah menciptakan suasana ketakutan dan kengerian di benak anak-anak. Masjid menjadi tempat yang angker dan horor. Masjid tak lagi menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Masjid tak lagi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bermain.

Di sinilah, sebagian orang tua belum sepenuhnya memahami psikologi anak. Mereka memperlakukan anak-anak seperti orang dewasa. Anak-anak mesti tenang di masjid, tidak banyak bicara, shalat dengan khusyu’, dan tidak mengganggu teman lainnya. Anak-anak diharapkan berperilaku layaknya orang dewasa yang menjalankan seluruh rangkaian ibadah secara disiplin dan sempurna.

Padahal secara fitrah kehidupan anak-anak adalah bermain. Kapan pun dan dimana pun mereka berada, bermain adalah keniscayaan. Maka, ketika berada di masjid pun, mereka akan berisik, berlarian, bertengkar hingga menangis. Ketika diperingatkan atau dilarang, mereka akan diam sejenak, setelah itu mereka akan kembali berisik dan bermain kembali.

Masjid di Masa Lalu

Dulu, sebelum ada pertumbuhan kota dan fasilitas rekreasi, masjid merupakan satu-satunya tempat yang menarik untuk bermain terutama ketika sore hari. Biasanya halaman masjid cukup luas dan bersih, sehingga bisa dipakai untuk melakukan berbagai permainan tradisional, bahkan bisa untuk bermain kasti, bola voli, maupun sepak bola plastik. Demikian halnya ketika malam hari terutama saat terang bulan, halaman masjid sangat nyaman untuk tempat berkumpul dan bermain.

Pada momen-momen tertentu, masjid juga sangat dinantikan oleh anak-anak, seperti peringatan hari besar agama, selamatan, kenduri, atau hajatan tertentu. Saat itulah anak-anak akan mendapatkan makanan yang lebih enak dan lebih banyak. Juga kenikmatan dan keberkahan karena melakukan santap bersama.

Yang menarik adalah anak-anak yang mulai remaja dan dewasa yang belum menikah menjadikan masjid sebagai tempat tempat berkumpul dan mengobrol di malam hari, juga belajar dan mengerjakan PR. Mereka tidak pulang ke rumah, tapi tidur di masjid hingga bisa melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Intensitas lamanya anak-anak berada di masjid membuat mereka bergaul secara langsung dengan orang-orang saleh. Mereka sering bertemu dan mengobrol dengan imam masjid, kyai, ahli ibadah, guru dan lain-lain yang tentu akan membentuk karakter dan kepribadian mereka. Hal ini bisa meminimalisasi pergaulan dengan orang-orang yang berperilaku buruk dan tidak bertanggung jawab.

Masjid adalah tempat yang aman dan nyaman sekaligus dirindukan. Tempat yang bisa membuat rasa senang dan gembira. Ada kecintaan terhadap masjid. Hatinya telah terpaut kepada masjid. Ketika anak-anak tersebut telah dewasa, mereka akan menjadi generasi penerus yang siap untuk memakmurkan masjid dengan berbagai kreativitas dan inovasinya. Bagi mereka yang telah sukses secara ekonomi, tak segan-segan untuk membantu renovasi atau pembangunan masjid baru.

Kiat Mengelola Anak di Masjid

Masjid bukanlah tempat eksklusif untuk orang dewasa. Masjid juga bukanlah tempat untuk menunjukkan kemarahan dan hukuman bagi anak-anak. Maka sangatlah tidak bijak jika para orang tua maupun takmir melakukan kekerasan, bahkan pelarangan anak datang ke masjid.

Sebaliknya, orang tua berkewajiban untuk mengenalkan anak kepada masjid sejak usia dini. Menanamkan rasa cinta kepada masjid serta membiasakan anak shalat berjamaah di masjid bersama orang tua, terutama bagi anak laki-laki.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, melakukan pendampingan. Anak-anak shalat di dekat orang tua sendiri, agar mudah untuk mengawasi dan mendisiplinkan mereka. Sebelum shalat dilaksanakan, orang tua memberi pesan kepada anak agar tenang sewaktu shalat dimulai. Jika shaf anak bergabung dengan anak-anak lainnya, sudah dipastikan mereka akan ramai. Menurut Muhammad Jazir, ASP, Majelis Dewan Syuro Masjid Jogokaryan, pendampingan dan pemberian pesan inilah yang akan bisa menciptakan masjid ramah anak.

Kedua, takmir masjid senantiasa tak henti-hentinya memberikan imbauan kepada anak-anak. Nasihat yang bijak dan berulang-ulang diharapkan dapat dimengerti, dipahami, dan diterapkan. Juga tentang bagaimana adab dan tatakrama di masjid. Termasuk ketika khatib berkhutbah, jangan hanya menyapa orang-orang dewasa saja, tapi juga menyapa anaka-anak.

Ketiga, menyediakan arena bermain untuk anak-anak. Misalnya, kolam bola, perosotan, atau balon di serambi masjid. Perpustakaan yang menyediakan bahan bacaan anak. Termasuk pula menyediakan minum gratis bahkan pampers. Menurut Tri Hastuti, Sekretaris Pimpinan Pusat Aisyiyah bahwa dengan fasilitas arena bermain dan perpustakaan, anak-anak bisa beraktivitas dan merasa masjid sebagai tempat yang ramah.

Jika kita mencontoh perilaku Rasulullah saw, beliau sangat memuliakan anak di masjid. Hal ini terjadi ketika beliau membawa cucunya Hasan dan Husain. Rasulullah ingin mengajarkan mereka terbiasa ke masjid. Pernah ketika Rasulullah sedang sujud mengimami shalat, cucunya naik ke punggungnya dan mendudukinya seperti naik kuda. Rasulullah sengaja membiarkannya berlama-lama sampai cucunya turun sendiri dari punggungnya.

Penutup

Sudah seyogyanyalah selaku orang tua dan takmir untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak di masjid sehingga anak merasa senang dan betah di masjid. Sebagaimana inti dari ajaran Islam yaitu kasih-sayang dan keramahan. Sekiranya di masjid mereka disambut dengan ancaman, umpatan, dan kekerasan; maka jangan salahkan mereka jika lebih memilih pergi ke mal, konser musik, atau tempat nongkrong lainnya, yang mereka merasa nyaman dan disambut dengan baik. Masih lebih baik mereka bermain dan ramai di masjid daripada mereka berada di tempat-tempat yang menjauhkan mereka dari agama.

UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, selain memberikan perlindungan kepada anak dari kekerasan di dalam rumah tangga dan di tempat umum, juga perlindungan di rumah-rumah ibadah.