Livia Halim
Livia Halim pelajar/mahasiswa

Surrealism Fiction | Nominator Kompasiana Awards 2016 Kategori Best in Fiction | Faculty of Law, Parahyangan Catholic University | Personal blog: livilivilivilivilivi.blogspot.com | e-mail: surrealiv@gmail.com | LINE loonylivi | IG livilivilivilivilivi | Buku-buku antologi: "Katakan Cinta" (https://goo.gl/tpi2Nd), "Ada Sepotong Bulan Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam" (https://goo.gl/toqMVF), "Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey" (https://goo.gl/DS789x)

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

"Unreliable Narrator" (Pengisah Lancung) dalam Karya Fiksi

5 Juni 2017   17:08 Diperbarui: 27 Mei 2018   10:30 769 12 4
"Unreliable Narrator" (Pengisah Lancung) dalam Karya Fiksi
dailypaintersabstract.bl

Hari ini saya melihat kamu berjalan di bawah langit ini lagi. Hujan baru saja berhenti, tapi kamu tetap mengeluhkan cuaca. Kamu yakin betul besok hujan turun lagi, pada jam yang sama, dengan intensitas yang sama. Kamu kurang menyadari bahwa setelah hujan, ada banyak hal yang bisa syukuri, matahari, warna-warna pelangi, warna biru langit. Padahal kamu tidak buta warna. Ah, kamu juga seharusnya menyukuri yang satu itu.

Sebagai Pelukis Langit, sudah menjadi tugas saya untuk membuat warna langit enak dipandang setelah hujan turun. Saya paling senang menyapukan cat warna biru muda yang cerah di langit. Rasanya seperti mempertemukan langit dengan warnanya sendiri, seperti mempertemukan kamu dengan bayanganmu di cermin, dua hal yang kurang etis apabila berpisah.

Selama ini, tidak seorang pun menyadari keberadaan saya. mungkin karena waktu mereka terlalu banyak dipakai untuk mengeluh. Mereka kurang mampu menikmati hal-hal baik yang ada di sekitar mereka. Padahal, hidup mereka begitu singkat, kelak, ketika mata mereka tak mampu lagi melihat sejelas saat mereka muda dan terpaksa berbaring di ranjang terus-menerus, mereka akan merindukan warna-warna yang dulu mereka abaikan.

Saya sedang mengecat langit ketika seseorang berteriak dari bawah, “Lihat! Pelukis Langit sedang menyapukan kuasnya!”

Saya kaget mendengarnya. Tidak biasanya ada manusia yang menyadari keberadaan saya. Namun, saya mendengar semakin banyak suara dari bawah sana.

“Wah, cantik sekali ya warna langut hari ini!”

“Pelukis Langit mengesankan sekali!”

“Saya ingin meminjam Pelukis Langit sehari saja untuk mengecat langit-langit kamar saya.”

“Pelukis Langit! Lihat ke sini!”

“Pelukis Langit, warna langitmu salah!”

Apa?

“Luana, warna langitmu salah!”

Tunggu.

Dari mana ia tahu nama saya?

Saya menoleh ke arah suara dan menyadari Ibu berdiri si sebelah saya.

“Luana, mengapa kamu mewarnai langit dengan warna ungu lagi? Warna langit itu biru, yang ini…,” ujar Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepala, memandangi gambar saya di buku sketsa ukuran A4. Ibu mengambilkan sebatang pensil warna dan menyerahkannya pada saya, lantas ia kembali berujar, “Oh, ya. Jangan lupa minum obatmu, Luana.”

(Menyapukan Cat Warna Biru Muda di Langit, 2016, Livia Halim)

-

Hai Kompasianer!

Kisah yang baru Kompasianer baca adalah sebuah flash fiction berjenis unreliable narrator yang saya tulis tahun 2016 silam untuk sebuah proyek antologi. Unreliable narrator adalah suatu jenis karya yang sering dijumpai baik di kisah fiksi, film, maupun teater. Karena saya biasanya menulis fiksi, artikel ini akan berfokus pada karya fiksi saja.

Menurut saya pribadi, karya jenis ini sangat unik dan menarik, serta dapat menjadi excuse yang baik apabila Kompasianer ingin menulis fiksi dengan sudut pandang orang pertama, namun tidak ingin karya menjadi monoton. Karena biasanya, sudut pandang orang ketiga serbatahu seolah-olah lebih menarik, mengingat lebih banyak sudut yang bisa dieksplorasi. Nah, di sini saya akan menjelaskan bagaimana fiksi dengan sudut pandang orang pertama juga bisa tak kalah menarik dan uniknya.

Karya-karya berjenis ini sudah lama memikat saya serta menginspirasi saya untuk menulis kisah serupa. Karenanya, saya memutuskan untuk membagikannya di sini agar bermanfaat bagi Kompasianer yang ingin rekomendasi fiksi-fiksi unik berjenis ini, serta untuk Kompasianer yang ingin mencoba menulis karya fiksi yang agak berbeda dari biasanya.

Dalam artikel ini, saya akan menyertakan jenis-jenis karya unreliable narrator dan berbagai contoh karya jenis ini dari dunia literasi (yang dapat langsung Kompasianer baca sambil membaca artikel ini).

Di akhir artikel saya akan me-review sebuah film berjenis unreliable narrator sebagai bonus. Kebetulan film ini masih agak baru, agak underrated, dan di Indonesia sendiri belum banyak review jujur yang bukan sekedar sinopsis tentang film ini.

Definisi Unreliable Narrator

Unreliable narrator sendiri apabila diterjemahkan secara harafiah berarti narator yang tidak bisa diandalkan. Biasanya karya-karya berjenis ini memiliki kekuatan dalam plot serta dialog tokoh utama (narator), sehingga seakan-akan menggiring penikmatnya ke sebuah jalan, namun di akhir semuanya tampak berbeda. Penikmat bisa segera melupakan jalan yang telah dilaluinya bersama si narator dan menikmati kejutannya pada akhir karya.

Bisa dilihat dalam fiksi yang saya sertakan di awal artikel ini. Pada mulanya, narator digambarkan sebagai Pelukis Langit, ia tinggal di atas sana, dan melukiskan langit kita. Namun di akhir, kita tahu ternyata narator adalah seorang anak yang menderita kelainan.

Jenis-jenis Fiksi Unreliable Narrator

Pada tahun 1981, William Riggan menganalisis serta mengklarifikasikan jenis-jenis unreliable narrator. Dari hasil analisis tersebut, disimpulkan ada lima jenis fiksi unreliable narrator. Ada The Picaro (narator ternyata telah membual atau melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya), The Madman (narator ternyata memiliki penyakit mental), The Clown (narator ternyata tidak serius dan selama ini telah “bermain-main” dengan fakta), The Naif (narator ternyata melihat hanya dari sudut pandang yang sempit sehingga sebelumnya memberikan impresi berbeda bagi penikmat), dan The Liar (narator ternyata adalah seorang pembohong yang dengan sengaja memanipulasi fakta).

source: https://books.google.co.id/books/about/Fight_Club.html?id=3aPqmIvxlf0C&source=kp_cover&redir_esc=y
source: https://books.google.co.id/books/about/Fight_Club.html?id=3aPqmIvxlf0C&source=kp_cover&redir_esc=y

Saya tidak mungkin memberikan contoh karya fiksi yang dapat dijadikan acuan pada setiap poin di atas karena hal tersebut akan menimbulkan spoiler. Jadi saya akan memberikan contoh karya-karya unreliable narrator secara acak sehingga kejutannya tetap ada ketika Kompasianer membacanya. 

Contoh-contoh karya yang dapat dijadikan acuan adalah novel fenomenal Fight Club karya Chuck Palahniuk, novel Forrest Gump karya Winston Groom (keduanya telah diangkat dalam layer lebar juga sehingga Kompasianer dapat menyaksikannya dalam bentuk film), cerita pendek The Yellow Wallpaper karya Charlotte Perkins Gilman (yang dapat Kompasianer baca di sini), dan cerita pendek The Tell Tale Heart karya Edgar Allan Poe (yang dapat Kompasianer baca di sini).

-

Review Film: The Invisible Guest (2017)

source: imdb.com
source: imdb.com

Oke, sekarang kita masuk ke review film, ya. Judulnya The Invisible Guest atau Contratiempo (dalam bahasa aslinya). Film ini sangat menarik sehingga tidak heran film yang disutradarai Oriol Paulo ini berhasil duduk di kursi nominasi Gaudí Award kategori Best Film Editing.

Plot Film

Kisah ini bermula dari seorang pengusaha muda bernama Adrián Doria (Mario Casas) yang sedang berkonsultasi dengan pengacaranya. Doria yang malang dituduh membunuh selingkuhannya, Laura Vidal (Bárbara Lennie) di sebuah kamar hotel, karena saat itu hanya ada mereka berdua di dalam kamar. Doria bersikeras bahwa ia tidak membunuh Laura dan ada seorang tamu misterius yang masuk ke kamar hotel mereka lalu keluar tanpa meninggalkan jejak.

Kisah berlanjut pada potongan-potongan peristiwa yang diceritakan Doria kepada si pengacara. Potongan-potongan peristiwa tersebut memberikan peluang bagi penonton untuk ikut berperan dalam menebak-nebak siapa pembunuh Laura yang sebenarnya.

source: https://www.hollywoodreporter.com
source: https://www.hollywoodreporter.com

Opini

Ketika menonton film, hal yang selalu menjadi fokus utama saya adalah plot. Apabila plotnya bagus dan segar, biasanya saya tertarik. Film yang rilis awal tahun 2017 ini, seperti yang sudah saya katakan di awal, memiliki plot yang sangat tak terduga. Meski sepanjang film, penonton seolah-seolah digiring untuk mencari siapa pembunuh Laura, namun di akhir cerita ada kejutan besar lain.

Bukan hanya plot yang luar biasa kuat, film ini juga memiliki visual yang apik. Warna-warna kusam di sepanjang film memberikan nuansa misteri yang memikat dan berkelas.

Jujur saya tidak pernah mendengar nama-nama aktris dan aktor yang ada film ini sebelumnya. Hal tersebut sebenarnya menguntungkan, karena dengan begitu masing-masing karakter berdiri dengan kuat tanpa ada bayang-bayang identitas aslinya.

Akhir kata, film ini sangat menarik dari segala aspek dan layak untuk ditonton.

Keterangan film:

Genre : Crime, Mystery, Thriller

Tanggal Rilis : 6 January 2017

Studio Produksi : Warner Bros. Pictures

Sutradara : Oriol Paulo

Produser : Mercedes Gamero, , Mikel Lejarza, Eneko Lizarraga, Adrián Guerra, Núria Valls

Penulis Naskah : Oriol Paulo

Cast: Mario Casas, Bárbara Lennie, José Coronado, Ana Wagener, Francesc Orella

-

Terima kasih buat Kompasianer yang telah membaca artikel ini sampai di titik ini. Semoga artikel ini bermanfaat. Oh ya, sebelumnya saya juga telah membuat artikel yang sejenis, mengenai fiksi perjalanan waktu, yang dapat dibaca di sini.

Thanks for reading!