Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ramadan, Saatnya Latih Kesabaran

11 Juni 2017   06:10 Diperbarui: 11 Juni 2017   07:15 346 0 0

Mama saya wanita yang kreatif. Hobinya membuat dan mendesain baju. Bukan untuk kepentingan bisnis, melainkan untuk kesenangan pribadi dan untuk menyenangkan hati orang lain. Selain itu, Mama juga menyalurkan kreativitasnya di bidang kuliner melalui eksperimen resep-resep masakan yang semuanya lezat dan spektakuler. Atau ketika keluarga kami makan di restoran, dan Mama ingin mencoba bereksperimen dengan jenis makanan yang kami coba di restoran itu.

Teman berbelanja dan berjalan-jalan yang asyik menurut Mama adalah saya. Saya sering menemani Mama berbelanja untuk membeli barang-barang yang berkaitan dengan kedua hobinya itu. Terlebih setelah Mama berhenti sebagai wanita karier dua tahun lalu, beliau lebih leluasa menyalurkan hobinya.

Apa alasan Mama menganggap saya sebagai teman berbelanja dan berjalan-jalan yang asyik?

“Maurinta itu buku hidupku. Aku mudah lupa, dan anakku ini selalu mengingatkanku. Entah itu soal rute perjalanan dan barang-barang yang akan kubeli. Ingatannya kuat, dia cerdas. Anakku ini sangat hebat.” Begitu selalu kata Mama pada teman-temannya.

Benarkah? Rasanya saya tidak sehebat itu. Saya hanya kebetulan saja mengingat rute perjalanan yang kami tempuh dan beberapa hal lain yang Mama butuhkan. Bisa saja saya lupa, kan?

Kembali soal hobi, bulan Ramadan tidak menghalangi Mama saya untuk melakukan hobinya. Maka, beberapa hari lalu saya menemani Mama berbelanja beberapa barang yang dibutuhkannya. Kami menyusuri pusat pertokoan di tengah Kota Bandung, memilih dan membeli barang-barang yang diperlukan.

Lama sekali Mama menghabiskan waktu tiap kali membeli satu macam barang. Tak mengapa saya menunggu. Waktu menunggu itu saya habiskan dengan berdoa, berzikir, dan memperhatikan hal-hal di sekeliling saya. Saya tidak seperti kebanyakan orang yang melewatkan waktu menunggu sambil bermain gadget. Jika saya sedang bersama orang-orang yang saya sayangi dan cintai, saya tidak akan mengaktifkan gadget. Seluruh waktu saya total tercurah untuk mereka. Saya tidak akan membaginya dengan hal lain. Bagi saya, waktu bersama orang-orang yang dicintai tak ternilai harganya.

Toko demi toko dikunjungi. Beberapa barang telah didapatkan, namun masih ada lagi yang Mama cari. Satu lagi kasus yang harus dihadapi. Mama lupa letak toko tempatnya membeli barang yang dicarinya beberapa bulan lalu. Saya tidak ikut saat Mama ke sana beberapa bulan lalu. Kalau rute dari rumah menuju pusat pertokoan itu saya ingat, tapi untuk letak toko yang dimaksud saya tidak tahu. Sebab Mama pergi ke sana tanpa mengajak saya waktu itu. Alhasil kami mengitari tempat itu sebelum akhirnya Mama mengingat toko yang dimaksud.

Sepanjang hari saya habiskan untuk menemani Mama. Kami baru tiba di rumah tiga jam menjelang waktu berbuka. Meski lelah, saya senang. Saya sama sekali tidak marah, kesal, atau bosan. Justru saya senang bisa memberikan waktu untuk salah satu orang yang saya cintai. Kelak saya ingin memberikan waktu juga untuk orang-orang lainnya yang saya cintai.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman di atas? Kesabaran. Bertepatan dengan Ramadan sebagai Syahrul Shabr atau bulan kesabaran, baik sekali bagi kita untuk meningkatkan kesabaran.

Sabar tidak hanya diaplikasikan saat menghadapi cobaan. Melainkan sabar dalam ketaatan, sabar menahan godaan, sabar menahan emosi, dan sabar mendengar hinaan orang lain. Jika kita bersabar, maka iman akan ditingkatkan. Tuhan ingin menguji, seberapa besar tingkat keimanan dan kesabaran kita lewat bermacam cobaan-Nya.

Jika dihubungkan dengan puasa, tentu ada korelasinya. Makna puasa adalah menahan diri dari lapar, haus, nafsu, dan emosi. Dengan berpuasa, kita dilatih menahan diri dan bersabar dari Shubuh sampai Maghrib. Tanpa kesabaran, proses puasa yang dijalani tidak akan berjalan lancar.

Kata Bob Marley, “A hungry man is a angry man”. Seseorang yang lapar adalah seseorang yang pemarah. Rasa lapar bisa membuat seseorang mudah emosi. Sama halnya dengan kemiskinan. Terhimpit masalah ekonomi dan terjebak dalam situasi kelaparan menjadikan orang gampang meledakkan emosinya.

Namun hal itu takkan terjadi bila kita bersabar. Sabar adalah benteng untuk menahan diri kita dari gelombang amarah. Sabar membuat diri kita lebih hati-hati dalam bersikap dan mengelola perasaan.

Berdoa, berpikir positif, dan beribadah adalah cara terbaik untuk meningkatkan kesabaran. Di bulan suci yang penuh berkah dan ampunan ini, saatnya melatih dan meng-upgrade kualitas kesabaran kita.

Sifat sabar tentu memiliki manfaatnya. Apa saja manfaatnya?

  1. Lebih banyak bersyukur

Sabar itu temannya syukur. Dengan bersabar, kita lebih banyak bersyukur. Nikmat sekecil apa pun kita syukuri. Bahkan musibah dan cobaan dapat kita syukuri. Kita ambil hikmah dari cobaan-cobaan itu.

  1. Berpikir positif

“Program bayi tabungnya gagal. Segala cara telah kita coba, tapi kenapa tidak ada yang berhasil?”

“Sayang...sabar ya? Ini ujian untuk kita. Kita pasti bisa melewatinya. Yakinlah kalau kita akan memiliki anak suatu saat nanti.”

Bersabar membuat kita berpikir positif. Lebih optimis memandang hidup. Tiap cobaan yang datang disikapi dengan pikiran positif. Di samping itu, sabar membantu kita selalu berprasangka baik pada Tuhan. Sabar menghapus pesimistis dan meningkatkan optimistis.

  1. Belajar menikmati proses

Segala sesuatu ada prosesnya. Cinta, kesembuhan suatu penyakit, bisnis, karier, jabatan, studi, semua memiliki prosesnya masing-masing. Percayalah, hasil tidak akan mengkhianati proses. Agar kita bisa belajar menikmati proses, bersabarlah. Nikmati saja prosesnya. Anggap saja kita sedang menunggu waktu untuk berlibur ke suatu tempat yang telah lama kita dambakan. Waktu menunggu itu terasa menyenangkan. Kita persiapkan segala sesuatu untuk liburan, mulai dari pesan tiket, pesan hotel, packing barang, dll. Begitu juga proses. Persiapkan diri kita untuk menghadapi sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan di ujung perjalanan. Tahap persiapan itulah yang dinamakan proses. Cara terbaik untuk belajar menikmati proses adalah bersabar. 

Saat cinta kita ditolak, perjuangkan terus. Biarkan hati dan perasaan berproses. Biarkan Tuhan melibatkan diri sampai akhirnya hati si dia luluh dan dia jatuh ke pelukan kita. Saat masa studi menjenuhkan, bersabarlah. Nikmati proses masa studi dengan banyak belajar dan berorganisasi. Saat karier dan jabatan di kantor stuck di satu posisi, bersabarlah. Nikmati prosesnya dengan menjadi pegawai yang berdedikasi tinggi. Maka karier dan jabatan kita akan naik. 

Ketika bisnis yang dikelola belum juga menampakkan hasil signifikan, bersabarlah. Coba nikmati prosesnya dengan berusaha lebih tekun lagi. Lebih ramah pada konsumen, menjalin kemitraan, berhubungan baik dengan karyawan, jujur dalam berbisnis, dan tidak melakukan riba. Sabar adalah kunci dalam menikmati proses untuk mencapai kesuksesan.

  1. Melembutkan hati

“Albert, kamu sama sekali tidak marah? Aku beruntung memiliki dirimu sebagai pendamping hidup. Kamu rupawan, cerdas, penyabar, dan lembut hati.”

“Aku tidak akan marah, Renna.”

Percaya atau tidak, sabar dapat melembutkan hati. Semakin tinggi tingkat kesabaran seseorang, semakin lembut hatinya. Ia tak mudah marah, memaafkan dengan tangan terbuka, berpembawaan dan bertutur kata lembut pada semua orang. Kelembutan dan kesabaran tidak akan menggerakkan hati seseorang untuk membalas dendam. Sabar menahan diri kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, kesabaran memotivasi kita untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Bahkan mendoakan orang yang telah berbuat jahat pada kita. Tidak membalas perbuatan jahat bukan berarti kita lemah, melainkan karena kita mempunyai sifat sabar dan hati yang lembut.

Banyak sekali manfaat kesabaran. Kompasianer, mau menjadi pribadi yang penyabar?