Latifah Maurinta
Latifah Maurinta pelajar/mahasiswa

9 September 1997. Komunitas Bisa, UPI Student Choir, DJ Arie School. Novel, medical, and psychology. Penyuka lily dan green tea. Contact: l.maurinta.wigati@gmail.com Twitter: @maurinta

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Lagu Religi Saat Ramadan: Murni Dakwah atau Cari Keuntungan?

17 Juni 2017   06:12 Diperbarui: 17 Juni 2017   10:25 787 20 8

Tiap kali berbuka puasa di luar, ada satu hal yang saya perhatikan. Sebenarnya ini hal kecil dan kesannya sepele saja: musik. Di tiap restoran yang saya datangi untuk berbuka puasa, selalu diputar lagu-lagu bernafaskan Islami.

Mulai dari lagu Insya Allah-nya Maher Zain, Bila Waktu yang dipopulerkan Opik, sampai So Real yang dinyanyikan Raef bersama Maher Zain. Saya hafal dan familiar dengan lagu-lagu itu. Alhasil, saya bernyanyi perlahan mengikuti alunan lagu. Bahkan saya berlama-lama di restoran hanya karena senang mendengarkan lagu-lagunya.

Bahkan tempat makan favorit keluarga saya, yang biasanya memutarkan musik instrumental, beralih menyajikan lagu religi untuk pengunjungnya. Alhasil, tempat makan yang terletak di tengah Kota Bandung itu makin ramai saja. Pengunjungnya makin betah menghabiskan waktu berbuka puasa di sana.

Hal yang sama juga saya dapati sewaktu mendatangi departement store. Lagu pertama yang saya dengar sewaktu menginjakkan kaki di sana adalah Baraka Allahu Lakuma yang dipopulerkan Maher Zain. Saya jadi heran dan terkagum-kagum dibuatnya. Cepat sekali bisnis retail seperti restoran dan departement store memodifikasi sistem audio dan playlist mereka di bulan Ramadan.

Akan tetapi, pada bulan-bulan lainnya di luar Ramadan, keberadaan musik Islami seakan lenyap dari playlist bisnis retail. Lagu yang diputarkan berorientasi pada genre yang sama. Tergantung profil perusahaan, segmentasi pasar, dan sasaran konsumen mereka. Contohnya cafe mahal dan mewah, tentunya akan memutarkan musik yang juga mahal dan elegan. Begitu pula dengan supermarket yang menyasar konsumen kelas menengah ke bawah. Lagu-lagu yang diputarkan pun sesuai selera mereka.

Hal ini tentunya tak lepas dari peran professional playlist market. Merekalah yang berjasa menyusun daftar lagu yang diputarkan pada playlist di supermarket, restoran, mall, cafe, dan cabang bisnis retail sejenis. Meski kesannya mudah, pekerjaan sebagai professional playlist market sama seperti jenis pekerjaan lainnya. Membutuhkan keahlian dan profesionalitas. Mereka tidak bisa memilih playlist sesuai mood dan selera mereka. Melainkan playlist yang dipilih harus relevan dengan profil perusahaan, selera konsumen, dan bertujuan mempengaruhi konsumen secara psikologis.

Musik-musik yang diputar di supermarket, mall, restoran, atau cafe bersifat tak kentara namun mengena. Secara tidak langsung, musik mempengaruhi alam bawah sadar konsumen. Membuat mereka bertahan lebih lama di sana. Bagi yang berbelanja di supermarket, mereka akan betah dan membeli lebih banyak barang lagi sambil menikmati lagu. Sementara para pengunjung cafe/restoran lebih menikmati makanan mereka sambil mendengarkan musik. Ujung-ujungnya, mereka akan minta tambah makanan atau minuman.

Masih tidak percaya? Perhatikan saja tiap kali kita jalan-jalan ke supermarket, cafe, restoraan, dan mall. Semuanya memutarkan musik. Tak ada supermarket, restoran, cafe, atau mall yang sepi tanpa alunan musik. Hanya saja, musik diatur dengan volume tertentu hingga terkesan tidak memaksakan. Musik mempengaruhi konsumen secara halus.

Lalu, apa kaitannya musik religi, Ramadan, dengan bisnis retail? Ternyata ada. Terserah Kompasianer setuju atau tidak dengan pandangan aneh saya. Saya menuliskan ini karena saya pecinta musik yang masih memakai hati nurani. Penglihatan saya boleh berkurang setiap tahunnya. Tapi pendengaran, perasaan, nurani, mata batin, dan ilmu batin tidak.

Musik adalah obat untuk mendapat ketenangan jiwa. Dengan musik, pikiran kita pun menjadi rileks. Musik dapat pula dijadikan sebagai sarana dakwah. Dalam berbagai agama, pastilah ada saja orang-orang yang berperan penting dalam menciptakan lagu rohani. Lagu tersebut berisi doa, nasihat spiritual, atau pujian pada Tuhan.

Begitu pula dalam agama Islam. Dalam Islam, musik religi dulunya disebut nasyid. Lalu kini berganti istilah menjadi musik positif. Maher Zain, Raef, Irfan Makki, dan Sami Yusuf merupakan segelintir penyanyi Islami yang cukup tenar. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga punya penyanyi beraliran Islami dengan lagu-lagu bagus seperti Opik, Ali Sastra, dan Hadad Alwi. Grup-grup yang menciptakan dan membawakan musik positif juga tumbuh subur di tanah air kita. Sebut saja Edcoustic, Snada, T4, Gradasi, dll. 

Penyanyi pop nan romantis seperti Afgan yang tak lain favorit saya itu pun pernah membawakan lagu-lagu bernafas Islami. Jangankan penyanyi setenar Afgan, almarhum Ustadz Jefri Al Buchori yang dikenal sebagai Ustadz gaul itu menjadikan musik sebagai dakwah. Kompasianer tahu film La Tahzan? Soundtracknya yang berjudul Bidadari Surga, dinyanyikan oleh almarhum Ustadz Jefri.

Sebenarnya, musik bisa memberikan manfaat positif bagi pendengarnya. Apa lagi bila tujuannya untuk berdakwah dan menyebar kebaikan. Namun makna kebaikan itu bisa tergeser bila musik hanya digunakan sebagai sarana untuk mencari keuntungan.

Boleh saja para pengelola retail memutar musik religi selama bulan Ramadan. Sebelum melakukannya, pastikan dulu untuk apa memasang musik religi. Apakah untuk memberi atmosfer baru bagi para konsumen? Mempengaruhi psikologis konsumen? Menebar nilai agama dan kebaikan untuk konsumen? Atau sekedar mengikuti trendsetter dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya? Bila tujuannya sudah pasti baik, lakukan saja. Tapi bila tujuannya sebatas nilai komersial, sebaiknya jangan dilakukan. Bisnis bukan hanya berorientasi pada untung dan rugi, melainkan juga pada surga dan neraka. Bisnis yang hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan aspek sosial dan religiositas tidak akan sempurna.

Ingin mendapat keuntungan wajar saja. Yang perlu diingat, jangan sampai keinginan mendapatkan keuntungan membuat para pelaku bisnis retail menjual nilai agama. Agama bukan barang yang bisa diperjual-belikan. Bulan suci Ramadan bukan dimanfaatkan untuk mencari uang sebanyak mungkin. Justru harus digunakan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan beribadah. Banyak beramal, menyenangkan hati orang lain, berbagi, dan berbagai aktivitas positif lainnya.

So, cermati dulu motifnya sebelum memutar musik religi di restoran, cafe, supermarket, dan mall. Apakah motifnya murni berdakwah dan menyampaikan kebaikan atau sekedar mengejar keuntungan?