Sanad
Sanad Mahasiswa/Pelajar

Penulis Cerita Pendek

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

[Cerpen] Kabar Kelabu dari Langit

26 Mei 2017   10:40 Diperbarui: 27 Mei 2017   14:00 1356 5 0
[Cerpen] Kabar Kelabu dari Langit
Sumber Ilustrasi : https://static.tumblr.com

Dahulu sebelum aku terlahir, orang - orang di kampungku sudah memercayai bahwa langit adalah pemberi kabar terbaik bagi penghuni bumi, itu kata nenekku. Langit dalam pengetahuan nenek hadir sebagai keegoan Tuhan. Jika cerah dengan sedikit awan berlapis hembus tipis angin, itu bisa jadi tanda bahwa Tuhan sedang bahagia, mungkin karena manusia sedang tersadar dan menyingkir dari dosa. Jika berawan berarti Tuhan sedang tidak ingin begitu menampakan dirinya pada makhluk bumi, seolah memberi kesan misterius untuk membuat ciptaan-ciptaannya itu berpikir lagi apa yang sedang atau sudah mereka lakukan.

Dan jika saja mendung, itu tanda bahwa kami harus segera berlindung, karena Tuhan sedang bermuram hati dan bisa jadi murka pada makhluknya, tapi setelahnya ketika hujan tiba semua orang - orang akan tersenyum bahagia, merayakannya dengan sepiring umbi rebus dan juga berbungkus-bungkus tembakau. Kata nenek hujan adalah tanda bahwa tuhan telah membersihkan dunia dari noda-noda yang tidak perlu, bisa jadi itu perbuatan manusia, atau bisa jadi itu adalah tanda bahwa ada manusia yang telah dibersihkan karena berdosa pada Tuhan. begitu yang kudengar dari nenek sebelum ia melepas kapal itu bersamaku.

~~

Aku begitu menyukai langit, aku juga suka pada makhluk-makhluk bersayap yang selalu lebih dekat dengan langit, seolah mereka begitu bahagia, seolah mereka pernah berbisik dan saling tukar pikiran pada langit, seolah bisa menjangkau warna biru yang gagah seperti jubah dunia itu, dan barangkali tentu mereka pernah menjangkau langit, tapi tak perlu menjelaskan semua itu pada kami manusia, karena percuma.

Nenek pernah bercerita bahwa dahulu manusia pernah memiliki sayap, suka terbang dan pernah beberapa kali menyentuh bibir langit, hingga malapetaka itu membuat kita harus kehilangan benda berbulu yang menggantung di punggung itu.

Jauh sebelum elang, kata nenek. Manusia sudah merajai langit, meski begitu manusia tidak memiliki sifat-sifat kedekatan pada langit, mereka setiap hari mencoba untuk merobek warna biru yang indah itu. Ada seekor elang yang bahkan begitu membenci manusia yang serakah waktu itu, gunung-gunung yang menjulangpun hanya bisa bersabar ketika diacuhkan oleh manusia-manusia bersayap itu.

"Makhluk kecil, cobalah untuk tak merusak dunia. Kau akan membuat kita mendapat masalah," kata gunung itu untuk terakhir kalinya ketika menyerah pada tingkah laku manusia.

"Diamlah makhluk tak berakal, tau apa kalian soal rahasia langit?"

Sang Elang yang hanya bisa menonton kejadian itu tak bisa berbuat banyak, ia kembali kedaratan, tak ingin lagi menggunakan sayapnya, bisa jadi ia takut akan kemarahan Tuhan, atau bisa jadi ia bosan bergerombol dengan makhluk yang suka merusak, entahlah, elang menyimpan beribu bahkan berjuta kali rahasia langit bahkan sebelum manusia dikaruniai sayap.

Setelah berhari-hari dengan usaha merobek langit yang tak kunjung usai, dan mereka yang mirip seperti pasukan manusia yang sedang melakukan kudeta pada Tuhan itu akhirnya berjatuhan ke kulit bumi, akhirnya langitpun mengamuk kata nenek, dan sejak saat itu manusia tak lagi memiliki sayap, sayap mereka diambil kembali oleh Tuhan, juga sejak saat itu untuk pertama kalinya langit berubah menjadi kelabu. Seseorang berkata bahwa Tuhan sedang murka.

~~

Tapi itu jauh sebelum aku lahir, bahkan lebih dari itu kata nenek saat itu iapun belum juga lahir, dan aku ingin sekali bertanya pada siapa nenek mendapat cerita seperti itu, kata nenek itu rahasia, hanya dia yang tau juga beberapa orang tua yang sepantaran umur dengannya, katanya hal seperti itu seperti hadiah dari Gusti untuk mereka yang segera pulang kampung, seperti pesangon diwaktu mudik, dan entah banyak lagi yang aku lupa soal hal itu, karena meskipun nenek sering membicarakannya, kebanyakan dari kami anak-anaknya hanya berkata kalau itu tanda-tanda bahwa tak akan lama lagi langit bakal mendung.

Setelah cerita nenek itu, orang-orang di kampung kami meyakini bahwa mendung adalah pertanda sedih atau tangis dari Tuhan, bisa jadi akan terjadi bencana besar, atau bencana kecil, yang jelas pasti akan ada perpisahan kata orang - orang kampung. Itu sebabnya aku juga suka memantau langit setiap paginya, aku juga diam - diam selalu meminta agar ia memaklumi makhluk bumi yang tak pernah tinggi pengetahuan tentang apa saja tapi tetap menatap ke bawah, aku juga sekaligus begitu takut kalau saja awan mendung terlihat mulai saling berdempetan.

Kata nenek Tuhan selalu menunjukan kesedihannya lewat awan mendung. Begitulah tugas langit, mengabari kondisi hati Tuhan pada makhluknya

~~

Entah sudah berapa lama di kota tempatku ini tinggal tak lagi ada mendung, kata orang sekarang musim panas, beberapa tetangga tempat tinggalku bahkan sampai bersujud untuk meminta hujan, sementara aku diam-diam mengutuk rencana gilanya itu.

"Dasar manusia, gak tau apa-apa tentang langit" kataku dalam hati berharap ada nenek disini untuk menceritakan kisah-kisah menakutkan itu pada mereka.

"Biar tobat!" kataku masih jengkel pada tetanggaku itu.

Aku selalu bahagia jika langit secerah hari itu, tak ada hujan dan pasti tak ada bencana. Beberapa kali aku melihat-melihat kembali langit, disana ada seekor elang yang sedang memantau, sekali dua kali mengepakan sayap untuk mendekati langit, mungkin menyampaikan kabar pemantauannya barusan, entahlah yang penting langit cerah hari itu.

~~

Hari ini aku masih memandang langit. Ada rasa getir dalam hati, entah ada apa hari ini mendung. Aku kembali mengingat nenek, mungkinkah dik ampungku juga mendung, atau mungkin mendung ini karena ada manusia bersayap yang coba merobek langit untuk mengintip Tuhan. Entahlah. Kuhabiskan waktu dengan menonton televisi, juga sesekali mengutak-atik telepon genggam, selebihnya adalah bermalas-malasan di dalam kamar, karena mungkin itu cara terbaik untuk menyembunyikan diri dari amukan langit.

Aku memutuskan untuk tidak keluar rumah hari itu, kata nenek hujan akan membuatku sakit dan demam berhari-hari. Aku percaya nenek karena aku pernah sekali waktu menentang cerita nenek itu, dan sehari kemudian aku benar-benar dibuat sakit oleh langit dan hujan.

Aku masih di depan televisi ketika berita tentang banjir dan hujan yang tak kunjung reda itu menyapu beberapa kota, aku lalu berfikir bahwa manusia sudah kembali kemasa dahulu, ke masa dimana manusia memiliki sayap dan coba melakukan kudeta pada Tuhan, tapi aku tidak melihat ada manusia yang memiliki sayap dalm berita-berita itu, yang terlihat hanya kumpulan orang-orang yang meminta agar tuhan berbelas kasih pada mereka.

Bosan, beberapa saat kemudian aku bertengger di sisi jendela, memandang langit yang masih mendung, ada tetes-tetes air yang jatuh perlahan dan menempel di kaca jendela bersamaan dengan telepon genggamku yang berdering, aku lalu membuka telepon genggamku, ada pesan di sana, pesan dari mamah.

"Pulanglah sebentar nak, nenekmu sedang sakit parah!"