Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Bagaimana Suasana Ramadan ala Kompasianer di Luar Negeri?

10 Juni 2017   09:49 Diperbarui: 29 Juni 2017   19:04 379 3 0
Bagaimana Suasana Ramadan ala Kompasianer di Luar Negeri?
Foto: Dailymail.co.uk

Di Indonesia, bulan suci Ramadan sangat identik dengan berbagai hal; mulai dari suasana sore yang ramai karena banyak pasar takjil si sepanjang jalan, suasana sahur yang juga ramai karena beberapa anak-anak berkeliling membangunkan warga untuk sahur, belum lagi suasana kota jelang lebaran yang makin sepi karena ditinggal warganya pulang ke kampung halaman.

Bagaimana dengan di luar negeri saat Ramadan? Beberapa Kompasianer punya cerita menarik selama menunaikan ibadah di bulan Ramadan meskipun jauh dari tanah air.

Ramadan di Inggris

Foto: Dokumentasi Kompasianer Winda Ari A.
Foto: Dokumentasi Kompasianer Winda Ari A.
Diawali dari negeri Ratu Elizabeth. Kompasianer Winda Ari Anggraini menuliskan suasana Ramadan di Kota Birmingham yang sangat berbeda di Indonesia. Di Kota ini sangat jauh dari iklan-iklan pengingat ibadah puasa, suara azan yang bergema di sekeliling, hingga orang-orang yang justru tidak menutup aurat karena cuaca yang panas.

Menjalani hari-hari dengan berpuasa di musim panas menjadi tantangan tersendiri baginya. Durasi jam berpuasa yang panjang (18 hingga 19 jam) serta waktu Salat Tarawih yang terlalu malam membuatnya harus memangkas jam tidurnya. Meskipun begitu, Birmingham yang merupakan kota di Inggris yang dihuni oleh banyak umat Muslim dibanding kota-kota lainnya memiliki banyak tempat untuk berbuka puasa bersama hingga Salat Tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Imam yang ternama sekelas Fatih Seferagic.

Ramadan di Australia

Foto: blacktownsun.com
Foto: blacktownsun.com
Berlanjut ke negeri kangguru. Di Australia yang notabene bukan negara yang dihuni oleh mayoritas muslim, namun toleransi antar agama sungguh terjaga. Selama 5 tahun tinggal di Kota Darwin, Kompasianer Mohamad Kurniawan menceritakan pengalamannya menjalani ibadah puasa dan suasana Ramadan di Australia.

Suara azan adalah yang paling dirindukan selama di Australia. Setiap hari selama bulan Ramadan, yang ditunggu-tunggu tentu suara ringtoneazan dari smartphone milik pribadi sebagai tanda waktu berbuka puasa.

Saat bulan Ramadan, banyak pusat perbelanjaan yang menjajakan kurma sebagai menu muka puasa. Uniknya, kurma primadona yang dijual justru bukan asli Australia melainkan dari California, Amerika Serikat. Buahnya besar, tidak terlalu manis dan tidak terlalu kering dan keras. Ditambah lagi, kita juga bisa mendapatkan harga diskon di sana.

Ramadan di Kanada

Foto: O.canada.com
Foto: O.canada.com
Terbang jauh lagi ke Kanada, tepatnya di Montreal. Kompasianer Eva Suarthana juga menuliskan suasana Ramadan di sana. Seperti di Australia, kegiatan sekolah dan kantor tetap berjalan seperti biasa selama bulan puasa. Waktu berpuasa yang dimulai dari sekitar jam 03.30 hingga 20.30 juga menjadi tantangan untuknya, terutama bagi anak-anaknya yang harus tetap bersekolah di bulan Ramadan. Sebagai orang tua, melatih dan menjelaskan bahwa ada keistimewaan serta keberkahan di balik ibadah puasa kepada anak-anak merupakan poin penting dalam menunaikannya di negeri orang.

**

Bagaimana kabar Kompasianer lainnya yang sedang berada di luar negeri? Semoga selalu dalam kondisi sehat dan tetap istiqomah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan tahun ini. Jika punya cerita menarik seputar Ramadan di luar negeri, tuliskan di microsite THR Kompasiana dengan menambahkan label “Cerita Ramlan” pada artikel Anda.

THR Kompasiana (thr.kompasiana.com)
THR Kompasiana (thr.kompasiana.com)

Mari menebar hikmah di bulan Ramadan bersama Kompasiana!

(ARD/yud)