Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Hal yang paling mengecewakan itu sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Berpikir Kembali Tujuan Menikah

1 Juli 2017   22:58 Diperbarui: 2 Juli 2017   06:52 227 0 0

Sebenarnya tidak banyak juga yang menanyakan kapan si pengembara akan menikah. Setidaknya ada yang mengingatkan jikalau pertanyaan itu berulang kali dilontarkan oleh orang-orang disekitar. Tetapi apa boleh buat ketika yang menayakan sedikit terheran. Mereka terheran karna jawaban si pengembara agak sedikit nyeleneh dan berbeda dengan jawaban-jawaban umum lainnya.

Kapan menikah? Jawab pengembara; santai saja, toh jika harus melajang sampai tuapun bukan masalah bagi seorang pengembara. Sesaat dalam hati pengembara berkata siapa yang meyuruh-nyuruh cepat menikah? Sebenarnya tidak ada. Pengembara menduga hanya ego sosialah yang menyuruh kita cepat-cepat menikah. Memang benar sudah tua dan belum menikah itu seperti terasing dilingkungan sosialnya.

Bukan si pengembara tidak mau menikah. Pengembara meresa menikah itu perlu tetapi sebelum menikah haruslah tahu apa tujuan menikah. Pengembara seorang yang terlalu analitis bahkan cenderung seorang pemikir jadi sebelum melakukan apapun harus melalui pengkajian yang luar biasa harus dan harus rasional. Hal inilah yang mungkin membedakan pengembara dan yang lainnya.

Pengembara seorang yang bebas tidak mau diatur oleh siapapun termasuk egonya sosialnya sendiri. Kalau diatur bos beda ya, kepentingan uang semua orang itu mau diatur-atur termasuk si pengembara. Kembali lagi ke pembahasan utama, menikah. Tujuan menikah haruslah jelas, seorang yang menikah ingin apa? Anak? Sex? Atau teman hidup? Mungkin juga ingin budak yang tiap pagi membuatkan teh? Menyiapkan makanan? 

Rasanya sayang jika menikah hanya untuk sekedar ingin itu semua. Jalan untuk menikah bukanlah jalan yang mudah, punya anak harus mempertanggung jawabkan nasibnya si anak, apakah seorang orang tua tidak akan merasa  menyesal ketika anak hidup dibawah standart manusia? Membesarkan anak tidak cukup biaya yang sedikit. Kalau banyak uang oklah, gampang, tetapi bagaimana ketika hidup sendiri aja pas-pasan masihkah mau menikah tujuannya punya anak? 

Kalau ingin punya anak tidak menikahpun bisa, pungut saja anak yang dilahirkan tidak beruntung yang tidak diakui orangtuanya. Bukankah mereka juga seorang anak?

Kalaupun sekedar untuk kepuasan sex mengapa harus menikah juga? Para psk banyak dan yang jelas bisa gonta-ganti pasangan. Sudah pasti hasrat sexsualnya lebih puas ketimbang satu pasangan. Psk juga tidak seribet berhubungan antara wanita dan pria yang terkadang manja ingin saling dimengerti. Psk ada uang selasi sudah. Ingin budak? Yang penting ada duit bayar pembantu selsai sudah masalah budak yang menyiapkan masakan dan membuatkan teh beres sudah.

Semua pertimbangan itu hanyalah untuk orang-orang yang ingin menikah dengan tujuan-tujuan kesenangan fisik semata. Bagi pengembara menikah itu hal yang sakral dan penuh pertanggungjawaban lahir dan batin. Menikah ada kalanya perlu bagi sesorang yang mentalnya kurang baik. Dengan menikah seseorang dengan mudah memperbaiki mentalnya karna pasanganya bersedia menjadi topangan lahir dan batin untuknya kapanpun. 

Bagi pengembara tujuan menikah adalah untuk meningkatkan kadar spiritual masing-masing antara pengembara dan pasanganya. Untuk itu menikah bukanlah untuk hal yang sembarangan apa lagi hanya untuk kesenangan fisiknya semata apalagi status sosial, jelas dampaknya pasti tidak akan membahagiakan karna menikah esensinya adalah memikul beban yang sangat berat.

Selayaknya seseorang yang akan menikah haruslah berpikir ulang tentang tujuan pernikahnya. Apakah memang benar-benar untuk tujuan yang mulia demi spritualitas dari masing-masingnya, atau untuk ego sosialnya semata? Ini merupakan opsi berpikir dari seorang pengembara. Tidak ada yang salah seseorang menikah itu, menjadi salah ketika menikah tidak siap dengan segalanya. Saran pengembara kalau mampu menikahlah, kalau tidak janganlah terburu-buru seperti dikejar-kejar anjing yang galak.