Humaniora

Spesifikasi Radio Senjata Gencarkan Siaga Bencana

2 Juli 2017   07:26 Diperbarui: 2 Juli 2017   09:10 126 0 0

Sebagai alat penyampai informasi atau hiburan, radio memiliki spesifikasi. Radio menyampaikan informasi atau hiburan hanya mengandalkan suara. Sekilas, di tengah dunia yang makin canggih, radio adalah alat sederhana. Namun, jika spesifikasi terkait suara digali, maka radio bisa jadi alat masif untuk sosialisasi.

Karena spesifik menyampaikan informasi atau hiburan melalui suara, maka ada keunikan yang muncul ketika kita melihat pendengar radio. Mendengar radio bisa dilakukan sembari bekerja, Sebab, ada pendengar radio yang asyik kerja sekaligus menikmati suara radio. Kasus ini bisa terjadi pada pekerja di bengkel sepeda, pekerja di warung makan, pekerja di tempat perakitan mebel. Para pekerja tersebut bisa bekerja sambil terhibur dan mendapatkan informasi. Selain itu, di tengah kepenatan dan kepadatan lalu lintas kota, ada juga pengendara mobil yang mendengarkan radio. Bahkan, pernah ada cerita jika seorang teman penulis yang mengatakan, pengemudi mobil memantau titik kemacetan melalui radio. Dengan begitu, maka dia bisa berupaya menghindari kemacetan. 

Bukan hanya saat beraktivitas, radio pun kadang menemani seseorang melepas segala aktivitas alias jelang istirahat. Di beberapa daerah di Jawa Tengah, acara wayang kulit malam hari pun masih disenangi, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun. Kadang malah saking asyiknya mendengarkan radio di malam hari, radio tetap bersuara dengan suara rendah, tapi pendengarnya sudah tertidur. Bahkan kadang ada juga orang yang mengawali pagi dengan memutar radio sembari mengingatkan tetangga dan sekitarnya bahwa kehidupan di rumah itu sudah dimulai.

Dengan fenomena di atas, maka sosialisasi melalui radio bisa dikerucutkan pada jam-jam tertentu. Misalnya saat masa istirahat siang bagi pekerja di mana banyak warung yang kedatangan pekerja. Jika ada warung memutar radio dan di radio ada sosialisasi, maka masiflah sosialisasi.

Atau saat jam sibuk di jalan, waktu pagi dan sore hari, juga bisa dibidik jadi waktu yang tepat untuk sosialisasi. Mengingat, ada potensi pengendara mobil pribadi mendengarkan radio sebagai teman sepi.

Atau juga saat jelang istirahat malam hari. Waktu tersebut bisa jadi momen tepat untuk sosialisasi.

Maka, langkah Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) menggencarkan sosialisasi siaga bencana lewat radio tentu bukan langkah keliru. Sebab, radio adalah media yang punya pendengar setia. Apalagi dengan sebaran sosialisasi sampai 180 radio se Indonesia, maka potensi penggencaran sosialisasi akan makin besar.

Kekuatan radio bukan hanya menyasar pendengar umum, tapi juga kelompok tertentu. Hal itu bisa dilihat dari radio komunitas. Misal radio komunitas petani, maka sosialisasi lewat radio tersebut akan massif di kalangan petani. Maka, ketika BNPB menyasar radio komunitas, bisa dipastikan sosialisasi akan makin gencar.  

Satu lagi kekuatan radio adalah, bahwa di daerah yang sinyal televisi antena UHF dan sinyal handphone tak terlalu bagus, radio masih bisa mengudara. Sehingga, sosialisasi via radio bisa menerobos pelosok Indonesia.

Hanya saja memang, perlu menekankan spesifikasi radio dalam sosialisasi. Selain melihat waktu penayangan acara, butuh suara spesifik yang mudah diingat. Sebab, jika bicara radio maka akan bicara soal memori terkait suara. Semakin menarik atau unik sebuah suara, maka akan makin terngiang di benak pendengarnya.

Sebab suara unik atau khas atau yang menarik kadang membuat orang secara tak sengaja ingat sesuatu hanya dari suaranya. Misalnya tahu lagu terbaru lewat radio, bisa sedikit-sedikit menyanyikan, tapi tak tahu siapa penyanyinya. Bisa juga tahu tagline sebuah iklan melalui radio, tapi tak hafal itu iklan produk apa.

Memasifkan drama agar masyarakat SadarBencana via radio memungkinkan dilakukan. Apalagi dengan strategi penempatan waktu dan kekhasan suara-suara dari pemeran "Asmara di Tengah Bencana 2", maka sosialisasi meminimalisasi risiko bencana alam makin mengena.

Satu hal penting juga, bahwa sosialisasi melalui radio dengan drama yang berseri, akan makin penting. Kenapa? Karena menurut penulis sosialisasi sejatinya ketika belum ada bencana dan dilakukan berulang-ulang, sehingga masyarakat siap saat menghadapi bencana. Jika sosialisasi dilakukan saat bencana, menurut penulis, sosialisasi bisa sulit diserap dengan maksimal karena sebagian masyarakat disibukkan dengan urusan kedaruratan bencana.

Semoga dengan sosialisasi masif lewat radio, bisa meminimalisir dampak bencana alam. Hal itu dibutuhkan karena seperti kita tahu, negeri kita yang subur ini sering juga dilanda bencana. (*)