Kauleh Torul
Kauleh Torul

Torul bernama asli Ir. M. Matorurrozaq M.MT, dilahirkan di Jrengik Kabupaten Sampang, putra sulung almarhum H. Moh. Ismail Muzakki mantan anggota DPR RI dari fraksi PPP. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga berpendidikan. Ia adalah alumnus pesantren dan tercatat sebagai konsultan teknik sukses. Ia mempunyai modal dengan segenap pengalamannya sebagai pengusaha dan konsultan profesional yang mengerti betul tentang teknis, sistem manajemen keuangan dan budaya birokrasi yang ada. Torul adalah salah satu kandidat bakal calon Bupati Sampang pada Pilbup Sampang 2018. Prinsipnya kepemimpinannya sederhana, jika kepala tegak dan tegas, maka bawahan akan mengikuti gerakan kepala, yakni tegak dan tegas pula serta berprilaku baik dan bersih.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Idul Fitri di Madura: Perayaan Hari Kemenangan dengan Berbagai Simbol

2 Juli 2017   11:25 Diperbarui: 2 Juli 2017   11:44 383 1 0
Idul Fitri di Madura: Perayaan Hari Kemenangan dengan Berbagai Simbol
Ketupat Lebaran - Antara Foto

Saya percaya tradisi tidak muncul begitu saja. Ia juga lebih dari sekedar kebiasaan atau tontonan sebagai hiburan. Tradisi adalah refleksi atau perwujudan dari pemahaman satu masyarakat tentang harapan dan jati diri mereka secara kolektif, bukan perorangan. Harapan ini bisa kita tafsirkan dari simbol-simbol yang kita temui pada tiap-tiap ritual tradisional.

Seperti halnya kudapan jenang, wajik atau bubur (tajhin) yang hampir tak luput disajikan pada ritual-ritual tradisional, khususnya di Madura dan Jawa. Baik tajhin maupun wajik, keduanya tergolong sebagai makanan yang lengket dan bertekstur liat. Keduanya bisa kita maknai sebagai simbol sesuatu yang erat, yang karib dan rukun. Tajhin dan wajik sengaja disajikan sebagai wujud harapan untuk semakin mempererat tali silaturahmi.

Begitu pula penyalaan obor pada tradisi Luk-Culuk untuk menyambut Maulid Nabi dan Nuzulul Qur’an. Obor bisa dimaknai sebagai pemberi cahaya, penerang jalan, pemberi petunjuk. Kiranya obor adalah manifestasi dari pemahaman umat muslim tentang Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yakni senantiasa dianut sebagai pemberi petunjuk.

Ibadah puasa Ramadan tahun ini sudah tuntas kita jalankan. Selama sebulan penuh itu pula, tak hanya menahan lapar dan haus, kita juga menjalankannya dengan tradisi-tradisi unik di bulan Ramadan, baik untuk masyarakat Sampang, maupun Madura pada umumnya. Kiranya dari sekian tradisi itu kita bisa menangkap satu semangat yang terus diulang. Yakni semangat untuk saling berbagi, semangat kebersamaan, menjunjung tinggi kepentingan kolektif, yang dalam bahasa Madura kita sebut sebagai ‘song-osong lombhung’.

Berbelanja cangkang ketupat menjadi simbol akan datangnya hari kemenangan (aktual.com)
Berbelanja cangkang ketupat menjadi simbol akan datangnya hari kemenangan (aktual.com)

Semangat ini bisa kita temui bahkan sebelum Ramadan dimulai hingga Ramadan usai. Menyambut datangnya bulan Ramadan, semangat ini tampak pada tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat kelurahan Banyuanyar, kecamatan kota, Sampang. Yakni bergotong-royong membersihkan sumber air Nyiroben. Mereka membersihkan sampah dan lumpur yang menggenangi aliran Nyiroben. Tak hanya bersih-bersih, mereka juga menangkapi ikan selepas menguras sumber air. Tradisi ini sudah saban tahun mereka lakukan untuk menyambut bulan puasa. Tradisi ini kiranya mengingatkan kita untuk memulai bulan suci Ramadan dengan hati dan pikiran yang bersih. Dilakukan beramai-ramai, tradisi menguras sumber air dan tangkap ikan ini juga turut membuat hubungan antar tetangga semakin karib.

Menjalani ibadah puasa, lagi-lagi kita bertemu dengan kudapan khas Madura yang bisa kita anggap sebagai simbol kekariban, yakni tajhin. Penganan sejenis bubur dengan rasa dominan asin ini mudah sekali kita temui sambil nyare malem di seputaran Monumen Sampang. Menuju ke penghujung Ramadan, tepatnya di sepuluh hari terakhir, tampaknya kebutuhan untuk lebur ke dalam kelompok ini masih kita rasakan. Dan ini kita ekspresikan dengan turut menyajikan tajhin pada hidangan yang kita antar pada tetangga pada tradisi ther-ather. Apa yang kita antar sejatinya bukan tajhin-nya, melainkan undangan untuk terus memelihara kerukunan.

Menyongsong Syawal, sekaligus untuk melepas bulan Ramadan, semangat kolektif ini kembali diekspresikan. Ia mewujud pada seni kontemporer pawai daul. Daul yang merupakan transformasi dari musik tradisional tong-tong atau patrol sahur ini pun menuntut kerjasama kolektif. Pertunjukkan daul yang sejati bukan penampilan masing-masing kontingen ketika diarak di jalan raya. Namun justru pada kekompakan dan kerjasama mereka jauh sebelum pawai dimulai.

Puncak dari simbolisasi semangat kolektif pada tradisi yang berkaitan dengan bulan suci Ramadan ini kiranya bisa kita lihat pada perayaan lebaran ketupat. Masyarakat Madura menyebut tradisi ini dengan tellasan topa’.

Madura mengenal istilah tellasan topa’ yang jatuh pada hari kedelapan setelah idul fitri (aktual.com)
Madura mengenal istilah tellasan topa’ yang jatuh pada hari kedelapan setelah idul fitri (aktual.com)

Tak seperti kebanyakan daerah di tanah air, di Madura kemeriahan Idul Fitri justru paling terasa pada hari kedelapan. Tak hanya memungkasi ibadah puasa di bulan Ramadan, lebaran ketupat juga menutup puasa sunah selama 6 hari berturut-turut di bulan Syawal. Pada perayaan lebaran ketupat tradisi ther-ather kembali terulang. Bedanya ada pada menu. Tentunya ketupat menjadi sajian wajib yang diantar ke tetangga dan kerabat.

Pada saat ini pula orang-orang Madura yang merantau mulai berbondong-bondong pulang ke kampung halaman, toron ke pulau Madura. Jika pada umumnya orang-orang mudik supaya bisa sembahyang shalat Id berjamaah bersama keluarga, orang Madura toron untuk menikmati momen berbagi ketupat ini.

Tentu yang utama diburu bukan ketupatnya, tapi bagaimana orang-orang Madura bisa merayakan kebersamaan. Dan perayaan kebersamaan ini mula-mula dicapai terlebih dahulu dengan ‘toron’, dengan mengendapkan ego diri di hadapan orang lain. Sebab dengan hati yang tinggi, diri akan gagal untuk menjadi lebur ke dalam kelompok, sebagaimana lumbung padi yang gagal diusung jika satu-dua pasang tangan mengangkat terlalu tinggi.

Semangat untuk berendah hati demi melebur ke dalam kelompok ini bisa kita tangkap dari simbol-simbol yang terus diulang. Kiranya tradisi adalah juga pengingat. Setiap tahun kita menyajikan tajhin dan ketupat, menyelenggarakan sayembara musik daul, dan toron setidaknya tiga kali. Supaya menjadi pengingat apa yang menjadi harapan utama di balik simbolisasi.

Maka jika tradisi adalah refleksi, perayaan Idul Fitri di Madura adalah perayaan kerendah-hatian, untuk berlapang memberi dan meminta maaf, untuk menjaga kerukunan dengan kerabat dan tetangga. Tanpa semangat ini, yang tersisa tinggal tajhin dan ketupat sebagai pengganjal perut, pawai daul sebagai tontonan yang habis dalam semalam, dan lelah di perjalanan rantau-Madura, tanpa makna apapun.