Robani
Robani PNS

Guru pada MTsN 12 Kuningan Kec. Hantara, Kuningan Marketing Eksekutif PayTren pada PT. Veritra Sentosa International, Bandung

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Dua Gizi Beda Kualitas

19 Juni 2018   21:32 Diperbarui: 19 Juni 2018   21:46 865 0 0

Sejak kemarin hingga sore tadi saya bersilaturahmi kepada orang tua yang berada di tetangga kecamatan. Daerahnya sangat religius. Terbukti dengan banyaknya pesantren. Hampir di setiap RT ada pondok pesantren. Namun seperti halnya di desa kami, pada bulan ini lebih sering kami mendengar alunan musik dangdutan. Bahkan kadang-kadang gemanya lebih merajalela, menghujam ke dalam dada. Volume bass yang diperbesar semakin membuat konsentrasi memudar.

Lebaran memang identik dengan liburan. Dan liburan merupakan hiburan bagi setiap insan yang jiwanya kering kerontang akibat terlalu padat dengan kesibukan.

Bertalu-talu alunan musik dari kejauhan menjadi ciri khas pasca lebaran di pedesaan. Syawal identik dengan hajatan karena moment ini merupakan saat terbaik berkumpulnya para saudara dan tetangga dari perantauan. Biasanya Syawal dianggap sebagai bulan terbaik untuk hajatan karena alasan seperti itu.

Sementara di bulan lainnya jarang terjadi acara prosesi walimahan keluarga seperti ini, kecuali sedikit terjadi di bulan Dzulhijjah dan Rabi'ul Awwal. Jadi bulan syawal ini dianggap yang paling istimewa, sehingga gaung hiburannya juga lebih membahana.

Kontras dengan bulan Ramadhan kemarin. Jika bulan Ramadhan suara-suara yang sering terdengar masuk ke indra pendengaran kita adalah lantunan ayat Al-Qur'an, meskipun terkadang tidak sedikit yang masih jauh dariku kefasihan. Iklim tilawah yang disebut dengan tadarusan turut memperkaya nilai-nilai spiritual masyarakat sejak pagi, siang, sore, bahkan hingga larut malam.

Sebagai masyarakat umat yang sadar mestinya tidak ada sekularisasi dalam kebiasaan. Kalau di bulan Ramadhan kita punya tradisi tadarusan, di luar Ramadhan pun harus dilanjutkan. Jika masjid dan musholla dipenuhi dengan berjamaah saat bulan puasa, maka Syawal hingga Sya'ban kemudian tetap harus dipertahankan. Dan ketika kepedulian sosial dihidupkan di bulan yang penuh kemuliaan, maka 11 bulan yang lainnya pun mestinya lebih dihidupkan lagi.

Karena tantangan sebenarnya bukan hanya pada bulan Ramadhan, tetapi sepanjang tahun kita ditantang untuk senantiasa taat, tobat, berjamaah, mengendalikan diri dan hawa nafsu, mengatur kedisiplinan, pola makan, istirahat dan yang lainnya. 

Juga kita ditantang sejauh mana kepedulian kita terhadap sesama termasuk kita dalam menyajikan gizi untuk pendengaran, yaitu bagaimana memperdengarkan Al-Qur'an kepada diri kita, keluarga dan kepada masyarakat.

Tidak hanya sampai memperdengarkan bacaan, namun dituntut pula untuk memahami, mendalami, sekaligus mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an karena Al-Qur'an merupakan way of life, pedoman hidup yang akan membantu kita agar senantiasa berjalan di atas rel yang benar.

Bagaimana kita menjadikan Al-Qur'an itu hidup sebagai pemandu kita, maka harus bertanya kepada ahlinya. Yaitu itu para ulama yang soleh yang ahli ilmu dan juga ahli amal. Maka dari itu berjamaahlah kepada mereka yang ahli dalam menyampaikan pesan-pesan Al-Qur'an sekaligus mengamalkannya.

Memang bicara ideal itu jauh panggang dari api. Fakta menunjukan beda bulan beda kualitas. Dan otomatis asupan gizi buat indra kita dalam hal mendengarkan juga berbeda. Kalau di bulan Ramadhan langsung ataupun tidak, indra pendengaran kita akrab dengan indahnya lantunan bacaan Al-Qur'an yang menyejukkan, tetapi di bulan ini kita tidak bisa menghindari alunan musik dan nyanyian yang bersifat hiburan.

Seumpama asupan gizi yang masuk kepada telinga setiap manusia maka kualitas gizi Ramadhan itu tak terkalahkan dengan bulan bulan yang lainnya. Permasalahannya mampukah kita meramadhankan bulan-bulan yang lain?