Mh Yulparisi
Mh Yulparisi profesional

Hanya orang biasa yang bangga menjadi orang Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bola

Penghapusan Regulasi Sementara Kewajiban Penggunaan Pemain Usia Muda

1 Juli 2017   00:01 Diperbarui: 1 Juli 2017   00:09 248 1 0

Ada yang menarik tentang penghapusan regulasi Liga 1 Gojek Traveloka, kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Penghapusan regulasi ini berkenaan dengan kewajiban klub untuk menyertakan 3 pemain muda usia dalam setiap pertandingan. Dan regulasi yang awalnya terkesan dipaksakan ini dipatuhi oleh semua klub.

Regulasi ini tentu saja untuk mengasah kemampuan dan jam terbang pemain muda kita agar tetap berada di level permainan yang terbaik. Peningkatan dalam segala hal meliputi kondisi fisik pemain, skill individu hingga wawasan permainan. Tim pemantau untuk tim nasional pun tidak akan mengalami kesulutan berarti saat mereka mencari pemain-pemain usia dibawah 23 tahun untuk even-even skala internasional seperti Piala Asia u-23 araupun Sea Games.

Semua klub di Indonesia mencoba peruntungan dengan merekrut bakat-bakat muda baik yang sudah terpanggil di timnas yunior sebelumnya atau menaikkan status pemain yunior mereka ke barisan tim utama. Nama-nama mantan pemain timnas u-19 seperti Evan Dimas, Hargiantoro, Hansamu Yama dan lainnya laris manis. Beberapa klub pun mulai memunculkan nama-nama baru hasil binaan mereka sendiri seperti Persib Bandung dengan dua nama yang saat ini mulai meroket yaitu Febri Hariyadi dan Gian Zola.

Pemain-pemain muda ini bahkan kini mulai mendapat tempat utama di klub tempat mereka bernaung. Kehadiran mereka mulai menyisihkan pemain senior mereka yang mungkin jika regulasi ini tidak diberlakukan tidak akan pernah terjadi. Karena itu para pelatih dipaksa memutar otak untuk mencadangkan beberapa pemain senior mereka dan memberi tempat kepada pemain muda sesuai regulasi.

Dan hasilnya harus diakui pemain muda kita memiliki peningkatan dalam level permainan maupun kesiapan fisik. Dengan terus bermain maka kemampuan mereka dapat terasah. Dan hal ini tentuny akan menguntungkan bagi kepentingan yang lebih besar yaitu tim nasional Garuda Indonesia.

Dan seperti yang sudah diulas sebelumnya diatas terdapat nama-nama pemain yang musim lalu nampak kokoh di daftar pemain inti kini mulai menghangatkan bangku cadangan. Pemain seperti Tony Sutjipto, Hariyanto dan I Made Wirawan di Persib sudah merasakan rotasi hasil regulasi ini. Bahkan beberapa klub meritasi oemain asing mereka. Beruntung jika hanya memenuhi regulasi maka oemain senior minimal di babak kedua kembali dimainkan oleh pelatih. Tapi jika performa pemain muda meningkat maka para pemain senior yang dicadangkan akan menghuni bangku cadangan lebih lama.

Tapi kini PSSI menghapus sementara regulasi penggunaan pemain muda disetiap pertandingan. Salah satu pertimbangannya karena timnas u-23 untuk Sea Games sudah terbentuk. Dan juga untuk memberikan keadilan bagi klub-klub yang kebetulan banyak pemain mudanya dipanggil tim nasional. Penghapusan regulasi ini juga nampaknya agar roda kompetisi tetap berjalan seru dan menarik.

Pro dan kontra tentu saja bermunculan dengan penghapusan regulasi ini. Untuk beberapa pemain senior seperti dalam wawancara sebuah TV Nasional dengan Tony Sutjipto, penghapusan regulasi ini hendaknya jangan bersifat sementara. Tapi menjadi permanen. Dan biarkan persaingan antar individu pemain yang nantinya akan membuktikan siapa yang lebih pantas yntuk dimainkan. Hal ini tentunya akan menguntungkan klub. Karena bisa mengharapkan kualitas terbaik dari investasi pemain yang sudah dikeluarkan.

Tapi pertentangan pun ada. Bagi klub-klub papan bawah yang kesulitan finansial mendatangkan pemain bergaji mahal, regulasi penggunaan pemain usia muda setidaknya memberikan kompetisi yang lebih merata. Beberapa klub bahkan bisa tetap menampilkan tim utama mereka karena tidak ada pemain muda mereka yang direkrut tim nasional. Dan memang harus diakui sejujurnya terlihat banyak klub besar di Liga Indonesia seperti Persib, Arema, Sriwijaya dan juga Persipura yang biasanya dengan mudah mendatangkan pemain tim nasional serta merekrut pemain asing berkualitas dengan gaji tinggi kini nampak masih beradaptasi dengan regulasi penggunaan pemain muda.

Untuk penulis, kebijakan ataupun regulasi yang ditetapkan PSSI di awal kompetisi walaupun terbilang tidak lazim merupakan sebuah langkah positif. Penggunaan pemain muda, penggunaan pemain asing berkualitas (marquee player) hingga standarisasi stadion pertandingan lambat laun akan memberikan dampak positif. Kalau boleh jujur, berapa persen kemungkinan pemain muda akan dimainkan oleh setiap pelatih klub di Liga 1 Indonesia? Tentunya kemungkinan besar para pemain muda hanya akan mendapatkan kesempatan bermain yang sedikit. Dan kita seperti biasanya akan melihat permainan tim nasional Garuda muda kita yang monoton dan miskin pengalaman walaupun memiliki skill individu yang baik.

Tapi dengan regulasi di awal kompetisi kemarin, kini kita dapat sedikit bernafas lebih lega. Pemain yang terpanggil setidaknya beberapa bulan ini telah ditempa oleh kompetisi yang ketat sehingga mereka tetap berada di level permainan yang diharapkan. Tinggal kepandaian Coach Luis Milla meracik strategi yang tepat dan memovitasi para pemain muda kita.

Dan sebaiknya penghapusan regulasi sementara itupun tidak perlu dilakukan. Karena hal ini tentunya memupus harapan pemain muda yang lain untuk dapat dimainkan saat rekannya dipanggil tim nasional. Selagi kompetisi khusus tim yunior seperti Primavera di Italia belum dapat dilakukan secara intensif di Indonesia, regulasi penggunaan pemain muda dirasa masih dibutuhkan untuk membina proses regenerasi tim nasional. Selain itu benar adanya protes dari tim papan bawah. Karena seharusnya justru kondisi saat ini akan memberikan aura kompetisi yang lebih ketat jika regulasi itu tidak dihapuskan.

Tapi keputusan sudah dibuat oleh PSSI. Dan mari kita sama-sama menunggu regulasi apa lagi yang akan dikeluarkan PSSI setelah perhelatan Sea Games berakhir. Yang pasti seperti harapan semua pendukung tim nasional Indonesia, terbang tinggi Garuda kami!!!