Mh Yulparisi
Mh Yulparisi profesional

Hanya orang biasa yang bangga menjadi orang Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Kemenangan Jerman dalam Piala Konfederasi Bukan Hal yang Mengejutkan

4 Juli 2017   11:40 Diperbarui: 4 Juli 2017   11:54 336 0 0

Luar biasa! Kata-kata yang pantas disematkan untuk tim nasional Jerman. Hanya berselang seminggu Setelah tim nasional Jerman U-21 memenangkan kejuaraan dunia, timnas senior mereka juga menyabet gelar Piala Konfederasi. Apalagi yang mengejutkan, pelatih Joachim Loew menurunkan "tim pelapis".

Jerman hanya menurunkan pemain muda seperti Julian Draxler, Kimmich hingga Rudiger. Tidak ada nama-nama beken yang mendunia seperti kiper Manuel Neuer, Matts Hummel, Toni Kroos, Thomas Mueller, Mezut Osil ataupun Michael Gotze.

Sebuah kebijakan berani dan "out of the box" serta tidak sedikit membuat banyak pihak yang merasa Jerman berkesan merendahkan kejuaraan ini. Bahkan pihak Federasi Sepakbola Jerman, DFB sempat mempertanyakan keputusan pelatih kepala Joachim Loew. Tapi Joachim Loew tetap tidak bergeming dengan keputusan yang dia ambil.

Tapi jika ditilik lebih jauh, Joachim Loew sebagai pelatih tidak hanya berfikir untuk sesaat. Kelangsungan kedigdayaan tim nasional Jerman sudah dirancang untuk bersifat berkesinambungan. Blue print permainan yang dinamis serta sistematis mengandalkan aliran bola efektif dan ketahanan fisik menjadi standarisasi yang dia tetapkan.

Pola ini diikuti semua tim nasional diberbagai level usia. Walaupun tim nasional U-21 dipegang oleh Stefan Kuntz tapi dasar permainan yang ditampilkan tetap sama. Permainan yang efektif dalam bertahan karena semua pemain berada dalam setengah bidang lapangan serta semua disiplin dalam menjaga setiap jengkal area pertahanan. Jerman tidak meninggalkan seorang striker pun di area lawan saat bertahan.

Saat menyerang Jerman menampilkan pola bervariasi. Setiap pemain Jerman dituntut memiliki kemampuan mengolah bola serta menguasai bola saat ditekan lawan. Mereka juga memiliki kecepatan serta unggul dalam hal postur tubuh saat harus bertarung di udara. Bagaikan menggabungkan taktik Total Football dan Catenaccio yang disertai determinasi juga kedisiplinan para pemain.

Juergen Klinsmann memang membawa pembaharuan dengan permainan Jerman yang terbuka, atraktif dan menyerang. Klinsmann meninggalkan filosofi permainan Jerman yang berkesan lambat panas. Dengan tidak lama-lama dalam menahan bola serta bergerak lebih aktif dalam permainan. Tapi sebagai seorang striker, filosofi Klinsmann tetap hanya dalam penyerangan. Keseimbangan permainan dalam bertahan nampak tidak sebaik saat Jerman melakukan serangan.

Joachim Loew yang sebelumnya menjadi asisten Klinsmann kemudian didapuk menggantikan Klinsmann sebagai pelatih kepala, membenahi sektor ini. Loew yang tidak begitu terkenal di persepakbolaan dunia saat masih menjadi pemain dan belum pernah mengenakan seragam tim nasional Jerman, terbukti handal sebagai pelatih. Setelah dipecundang tiki-taka Spanyol pada Euro 2008, Loew mengubah cara bermain tim Panzer.

Loew berhasil mengubah Jerman bermain taktis tapi juga dinamis. Pemain Jerman dituntut memiliki intelejensia yang tinggi. Loew juga berhasil mengadaptasi tiki-taka ala Jerman dikombinasi dengan variasi serangan sayap yang cepat. Pergerakan umpan satu sentuhan mengalir dengan cepat tapi tidak berputar-putar seperti tiki-taka karena dua pemain disisi sayap dapat memberikan umpan lambung ke jantung pertahanan dimana Jerman memiliki penyerang-penyerang yang unggul dalam postur tubuh untuk menyelesaikan dengan baik. Loew juga mampu mengoptimalkan kemampuan para pemainnya. Lihat bagaimana Mueller sempat menjadi momok yang menakutkan bagi tim lawan. Mueller bermain bebas di lini depan. Dia bahkan bukan seorang striker tapi selalu berada tepat dalam posisi untuk menuntaskan serangan Jerman.

Yang membuat Loew percaya diri menampilkan para pemain muda karena mereka sudah terasah dalam kompetisi Bundesliga serta kompetisi di negara lain. Setidaknya semua pemain muda yang disertakan adalah pemain inti di klubnya masing-masing. Mereka secara fisik dan kemampuan individu telah berkembang. "Namun belum mencapai level dunia," ujar Loew. Loew berharap dengan mengikuti turnamen penting antar negara berskala internasional, kemampuan dan mental bertanding pemain muda dapat meningkatkan level permainan mereka.

Kita dapat mencontoh keberhasilan Jerman yang dibina dari 2006 dan kini memetik hasil satu dasawarsa kemudian. Blue print pembinaan sistem yang jelas, terstruktur dan berkesinambungan serta menjalankan roda kompetisi yang baik dengan menyertakan para pemain muda.