Mh Firdaus
Mh Firdaus karyawan swasta

Penulis dan Traveller amatir. klick: www.nyambi-traveller.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

Lebaran dalam Dekapan Musim Dingin

17 Juni 2018   04:14 Diperbarui: 17 Juni 2018   16:24 2653 2 1
Lebaran dalam Dekapan Musim Dingin
ilustasi ketupat/nu.or.id

Malam kian larut. Mendung mengiringi pergantian hari di akhir Ramadhan tahun 2018. Musim dingin di Adelaide makin menambah syahdu akhir Ramadhan. Udara terasa membekukan badan hari ini (14 juni 2018) sebagai akhir puasa. Sebagai pelajar yang baru merasakan lebaran jauh dari tanah air dan keluarga, momen emosional di setiap lebaran terasa menyayat hati. 

Begitu waktu berbuka hadir, yang bertanda takbir dikumandangkan, perasaan melo muncul tanpa sadar. Bibirku mengalun takbir pelan, meski lirih dan sendirian. Sambil meneguk teh panas dan pisang untuk berbuka, sisi pengalaman emosionalku membayang remang-remang. Tidak ada alunan takbir petang itu dari corong masjid sebelah rumah. Tidak ada kue tar berjejer di meja tamu. Tidak ada deretan plastik beras zakat fitrah. oh....

Setiap orang pasti memiliki sisi emosional saat lebaran. Saya pun begitu. Untuk meredamnya, saya bersama pelajar Indonesia lain memasak bersama makanan khas lebaran. Opor ayam, sambel goreng ati, bakwan goreng, sayur lodeh menjadi list menunya. Alunan takbir dari Youtube yang disambungkan tapecorder mengiringi buka bersama dengan pelajar Indonesia.

Alhamdulillah... buka bersama dengan masakan khas lebaran mengobati sementara memori emosional lebaran bersama keluarga.

Kami bercerita satu sama lain untuk saling memperkuat. Sama-sama menutup akar penyebab kehadiran bayangan melow.

Malam itu merupakan awal hari kemenangan kaum Muslim, setelah berpuasa sebulan penuh. Layaknya hari kemenangan, sejatinya dirayakan dengan kegembiraan.

Bercanda dan berbagi cerita mengalir malam itu. Tak terasa aneka masakan khas lebaran matang dan sebagian malah telah dimakan. Sisanya menjadi menu setelah sholat idul fitri.

Malam makin larut. Kantuk menyergap. Satu persatu teman kami izin ke flat masing-masing. 

Di luar apartemen rintik hujan berubah hujan lebat. Angin mengamuk sejadi-jadinya. Suhu udara kota Adelaide, Australia Selatan, mencapai dibawah 11 derajat. Selimut tidurku tidak mampu mendinginkan tubuh di atas kasur. Tiba-tiba mataku terjaga. Suara air hujan mengetuk kaca apartemen. Mulutku tanpa sadar mengalunkan takbir lirih.

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar

Hall Olahraga Universitas Flinders menjadi lokasi sholat Id warga Muslim Indonesia di Adelaide
Hall Olahraga Universitas Flinders menjadi lokasi sholat Id warga Muslim Indonesia di Adelaide

Lirihan takbir khas malam lebaran mengingatkanku alanunan alamarhum Abahku (sebutan ayahku) saat malam lebaran. Ia senang sekali mengalunkannya seperti berguman. Ohh... tanpa sadar saya melo kembali..... (manusiawi kan....ha..ha...)  

Tidur-tidur ayam kualami malam itu. Pukul 04.00 pagi, saya terjaga dari tidur. Hari ini 15 Juni 2018 dimana Idul Fitri bermula. Salat Idul Fitri beberapa jam segera dimulai. Sayang, hujan pagi itu tidak surut semenjak semalam. Waktu shubuh jatuh di jam 05.50.      

Seperti kebiasan lebaran di Indonesia, saya membuka lembaran hari dengan mandi pagi. Setelah sarapan dengan ketupat dan opor secukupnya, saya bersama teman buru-buru ke "bus stop", yang berada di depan central market. Lokasi salat Ied berlokasi di kampus utama, Universitas Flinders. Hampir 35 menit waktu yang dibutuhkan dari kota Adelaide ke sana.

Buru-buru, kami pergi memburu jam keberangkatan bus kota pertama, yaitu jam 7.15 menit. Nomor busnya G 10 menuju Flinders Uni. Biasanya waktu tenggang keberangkatan bus hampir setiap seperempat jam atau setengah jam. Karena takut ketinggalan, saya mengambil bus sedini mungkin.

Gelap masih terlihat. Kesepian kota kian terasa. Di halte bus, hanya kami yang terlihat menunggu. Tas kecil berisi lontong bersayur, opor dan sambel goreng di rantang dan botol minum untuk bekal sarapan pagi serta sajadah aku tenteng. Rintik hujan awet pagi itu.

Cemas saya menunggu bus kota, karena beberapa pengalaman menunggu, bus agak lama.

Ahamadulillah... 15 menit berlalu dan bus kota hadir. Bus masih kosong. Hanya kami pelajar Indonesia naik di bus. Sopir bus meminta maaf kepada kami karena busnya berhenti melewati posisi stop pemberhentian. Kami tersenyum dan mengatakan, "No worry sir...".

Udara dingin makin menyengat. Dari dalam bus aku melihat kosong jalanan kota Adelade. Rintik hujan turun, dan belum menandakan berhenti. Lirih kulantunkan takbir diatas kursi. 

Bayangan situasi "sibuk" rumah di Indonesia menjelang keberangkatan sholat Iedul fitri membayang perlahan. Kamar mandi yang dipakai bergantian, karena anggota keluarga berkumpul di saat mudik, istri yang menyetrika baju yang lecek, anak-anak bergembira mencoba baju baru, dsb.

Tiba-tiba detail aktifitas itu membayang lamunan di atas krusi bus. Tak terasa bus masuk area kampus flinders. Rintik hujan berhenti. Gelap pelan-pelan menghilang. Suasana asri kampus terlihat gamblang di depan bus.

Tepat pukul 07.40, bus berhenti di pintu utama kampus. Belum terlihat aktifitas kampus. Hari itu perkuliahan tidak berhenti meski lebaran.

Perlahan saya melihat satu dua orang mahasiswa dan dosen hadir. Caf di samping pintu masuk kampus menggeliat. Udara pagi itu segar dalam dekapan semilir angin musim dingin. Kampus Flinders sangat asri. Aneka pohon besar berdiri hampir di setiap sudut kampus. Kontur jalan kampus menanjak di beberapa titik. Asyik untuk bersepeda di dalam kampus. Ada beberapa titik pemberhentian bus. Itu menandakan luasnya kampus ini...

Begitu turun dari bus, saya bertanya kepada mahasiswa yang kebetulan berdiri di pintu kampus lokasi salat Idul fitri. Tempatnya berada di sebelah kanan pintu masuk kampus utama.

Di sana terlihat perempuan Indonesia menggandeng anak dengan mukena di tangan bersama pasangan berjalan menuju arah tempat yang sama. Saya mengikuti di belakangnya.

Angin dingin menerpa semua benda termasuk badanku pagi itu. Dingin sekali. Bergegas aku cepat-cepat memasuki hall segera mungkin.

Gedung hall merupakan sarana berbagai olah raga dan aktifitas kampus. Terlihat jaring basket, tiang gol footsal, garis lapangan bulutangkis, dsb. Terlihat panitia sedang mengecek sound system. Dari raut wajahnya -- saya tebak --, ia pelajar.

Benar adanya, saat saya berdialog basa basi dengan bahasa Indonesia dengannya.

"Betul mas di sini tempat sholat Id nya. Sholat akan mulai kira-kira jam 08.30. Kita masih menunggu jamaat yang lain", jawabnya. 

Satu persatu jamaah sholat hadir di hall. Beberapa jamaah membawa makanan khas lebaran Indonesia. Opor, sambel goreng kentang ati, kerupuk, telor cabe, dsb, berjejer di meja sebelah kiri shaf sholat.

Saf salat dibagi 3 barisan. Pertama bagi jamaah laki-laki. Shaf kedua bagi jamaah perempuan. Ketiganya bagi anak-anak dan para ibu yang sedang menyusui bayi. Imam sudah duduk di shaf paling depan dan bertakbir. 

Saya dan jamaah yang sebagian besar warga Indonesia mengikuti di samping dan belakangnya. Tanpa terasa jamaah salat Id perlahan memadati ruang hall. Panitia berdiri memberi arahan demi terciptanya keteraturan barisan dengan bahasa Indonesia dan Inggris. 

Takbir dilantunkan bertalu-talu. Tiba-tiba suara lebatnya hujan mengimbangi suara takbir. Hujan turun sejadi-jadinya. Kaki dan tanganku mengecil -- mengkisut -- dan kulit mengkerut putih-putih, pertanda hawa super dingin menyergap sekujur tubuhku.

Jamaah di samping yang dari Indonesia setengah berbisik, "Mas, dingin sekali, yaAnda merasakan tidak?".

Saya menganggukan kepala dengan senyum tanpa berkata-kata, karena saking dinginnya.

Semua jamaah berkaos kaki dan berjaket. Baju koko atau batik baru yang sering dipakai jemaah -- disaat lebaran -- tidak terlihat di deratan shaf. Kira-kira 400 an jemaah sholat Ied memenuhi hall olahraga Universitas Flinders.

Hampir 400 an warga Muslim Indonesia mengikuti sholat Id di Flinders Uni hall
Hampir 400 an warga Muslim Indonesia mengikuti sholat Id di Flinders Uni hall

Waktu menunjukan pukul 08.45 pagi. Seperempat jam mundur dari perencanaan, sholat Id dimulai. Seorang anak muda berjaket tebal dan celana panjang, tanpa peci, maju ke depan menjadi imam. Suaranya merdu dan menghayutkan telinga jemaah.

Alunan takbir dan ayat suci yang dilantunkan menambah rasa khusuk sholat pagi itu. Hawa dingin yang sedari pagi merasuk badanku, seketika terlupakan sejenak dengan lantunannya. Sholat selesai. Anak muda lainnya berpeci berdiri memberikan khutbah dengan teks di tangannya. Ungkapan nasihat hikmah ramadhan dan Idul Fitri diulas dengan bahasa Inggris.

Rangkaian sholat dan khutbah Idul fitri ditutup dengan salam-salaman. Metodenya persis seperti sholat Id di tanah air. Shaf paling depan berdiam diri menuggu shaf belakangnnya medatangi untuk jabatan tangan. Semua jemaah bersalam-salaman dengan wajah riang. 

Saya bertemu dengan berbagai masyarakat Indonesia yang tinggal di Australia Selatan. Senyum dan tawa serta ungkapan "maaf lahir bathin", terlantun semua orang yang bersalam-salaman.

Suasannya bagai seperti di Indonesia. Bahasa Indonesia, terkadang bahasa Jawa dan daerah lainnya sayup-sayup terdengar di tengah salaman. Tidak ada kesedihan di hall itu. Silaturahmi sesama anak negri di kampung orang, hanjut dalam suka ria dan kemenangan.

 Kegembiraan jamaah sholat Id ditutup dengan makan bersama. Senda gurau, saling berkenalan, dan berkhabar tentang kondisi tanah air mengiringi santap pagi sehabis sholat Iid.

Indah dan hangat suasananya. Kami seolah bagai berada di tengah saudara sesama anak negri. Hawa dingin musim dingin sesaat terlupakan oleh kebahagiaan Idul Fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri.....