Ceritaramlan

Raih Kesuksesan Hakiki Pasca Bulan Ramadhan

25 Juni 2018   20:31 Diperbarui: 25 Juni 2018   20:41 591 0 0
Raih Kesuksesan Hakiki Pasca Bulan Ramadhan
Raih Kesuksesan Hakiki Pasca Bulan Ramadhan


Raih Kesuksesan Hakiki Pasca Bulan Ramadhan

Oleh : Tatang Hidayat (Ketua Umum Lingkar Studi Al-Qur`an Pemuda Kota Bandung)

Tidak terasa bulan yang selama ini dinantikan oleh seluruh kaum muslimin di dunia telah meninggalkan kita, bulan dimana seluruh kaum muslimin di dunia melaksanakan ibadah yang sama yakni shaum Ramadhan. Kita tidak tahu, apakah kita akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan? Lalu, sudahkah kita memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan semaksimal mungkin? Sudahkah ketakwaan kita bertambah melalui shaum Ramadhan kali ini ?

Saat ini kaum muslim telah merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan dengan penuh kegembiraan. Tentu, gembira bukan karena telah bebas dari kewajiban melaksanakan shaum Ramadhan. Namun kegembiraan ada harapan untuk berjumpa dengan Allah SWT di Surga nanti dan berharap mendapat ampunan-Nya melalui ibadah di bulan Ramadhan ini.

Kita pun sepantasnya bergembira karena kaum muslimin pada malam Idul Fitri serentak mengumandangkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid yang membahana memenuhi jagat raya. Seruan takbr, tahll dan tahmd ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Dialah Yang telah memberikan hidayah, kekuatan dan kesabaran kepada kita semua. Dengan itu kita dapat menuntaskan shaum Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Namun demikian, dalam menghadapi hari raya Idul Fitri dan pasca Bulan Ramadhan ini tentu kita tidak boleh larut dalam kegembiraan yang berlebihan dan cenderung kepada gaya hidup hedonisme bahkan sampai melupakan nasib saudara-saudara kita di belahan negeri lainnya yang tengah berada dalam kedzaliman.

Saudara-saudara kita di Palestina sampai saat ini  masih dijajah. Selama puluhan tahun tanah mereka dirampas dan diduduki oleh kaum Zionisme Israel hingga kini. Sebagian penduduknya dibunuh, sebagian lagi terusir, mereka hidup menderita. Mereka terlunta-lunta hingga hari ini. Keadaan mereka selalu terancam, mereka harus menghadapi kekejaman negara zionis sendirian, termasuk sepanjang bulan Ramadhan kali ini.

Begitupun dengan saudara-saudara kita di Irak dan Afganistan, sampai saat ini masih berada di bawah cengkeraman negara imperialis, Amerika Serikat dan sekutunya. Keadaan memilukan juga dialami saudara-saudara kita di Cina. Di negara Komunis itu, umat Islam dari suku Uighur di Xinjiang menjadi korban kebrutalan suku Han. Suku ini didukung penuh oleh rezim Komunis, Cina.

Nasib yang sama dialami saudara-saudara kita di Pattani Thailand, Moro Philipina Selatan, Rohingya di Miyanmar, Kashmir, Srilanka, Pakistan, Bangladesh dan di beberapa negeri negeri Muslim lainnya. Semua ini kian memperpanjang daftar penderitaan kaum muslimin hari ini.

Adapun yang ada di dalam negeri, umat Islam terus-menerus ditekan dan disudutkan. Di antaranya melalui isu radikalisme dan terorisme yang kembali dimunculkan. Banyak ulama dikriminalisasi. Umatnya pun terus diawasi. Bahkan dunia kampus yang sejatinya dunia akademik pun ditekan, para dosen dan mahasiswa yang kritis pun di awasi, persekusi hingga diintimidasi.

Pihak-pihak yang membenci Islam berusaha dengan sekuat tenaga mengaitkan aksi terorisme dengan perjuangan dakwah menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Alhasil, saat ini kita merayakan Hari Kemenangan justru dalam kekalahan di hampir semua lini kehidupan.

Ironi memang apa yang terjadi pada dunia Islam saat ini, seolah umat ini tidak memiliki lagi kekuatan sesungguhnya yang telah dimiliki oleh umat ini pada generasi sebelumnya. Predikat sebaik-sebaik umat yang diberikan kepada umat ini seolah tidak kita rasakan saat ini. Padahal, selama bulan Ramadhan ini umat dididik supaya bisa menjadi orang yang bertakwa.

 Berbicara tentang takwa, menarik kiranya apa yang disampaikan Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a dalam Kitb at-Taqw yang dikutip Ibn Abi Dunya "Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang Allah wajibkan".

Maka, sungguh tak layak merayakan 'Hari Kemenangan', Idul Fitri, jika kita tidak tambah takwanya. Sebabnya, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, "Laysa al-'id li man labisa al-jadid walakin al-'id li man takwahu yazid  yang artinya Idul Fitri bukanlah milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Namun, Idul Fitri adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah."  

Perlu kiranya kita memahami bagaimana hakikat takwa ini. Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah menjelaskan hakikat takwa ini, dan prasyaratnya. Takwa adalah: "Takut kepada Rabb yang Maha Agung. Menjalankan apa yang diturunkan Allah. Bersiap diri menghadapi Hari Kiamat."

Maka tanda yang mesti dimiliki orang yang bertakwa, Pertama, dia hanya takut kepada Allah. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Tahu dan Maha segalanya. Dia pun yakin terhadap yang ghaib lainnya yang dikabarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya: adanya malaikat yang selalu mengawasinya 24 jam penuh. Mereka pun percaya kepada surga dan neraka.

Kedua, orang yang bertakwa adalah amalu bi tanzil yakni melaksanakan ketaatan kepada Allah, dalam kondisi suka maupun berat hati. Ketika Allah memanggil mereka untuk mendirikan shalat, mereka akan bergegas mendirikan shalat karena mereka menyadari itu adalah perintah Allah. Ketika Allah perintahkan membayar zakat, mereka dengan segera keluarkan zakat itu.

Ketika Allah perintahkan berbuat baik kepada orang tuanya, dengan senang hati mereka membahagiakan orang tuanya. Dan ketika Allah perintahkan menerapkan syariah-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, mereka akan berada di garda terdepan mendakwahkan dan memperjuangkan Islam.

Sebaliknya, ketika Allah melarang riba, mereka tak berani mengambilnya meski hanya sedikit. Ketika Allah melarang mengambil harta orang lain, mereka tak berani korupsi, mengurangi timbangan, mencuri, dan menipu. Ketika Allah larang mereka menyakiti sesama Muslim, mereka sayangi sesama Muslim dan tak berani menyakiti, mengkriminalisasi, bahkan menerornya.

Semua itu dilakukan karena orang yang bertakwa senantiasa mengingat datangnya Hari Perhitungan yakni hidup setelah mati. Itulah tanda orang bertakwa yang ketiga.

Di sanalah kita akan ditimbang amal kita. Siapa yang amal baiknya lebih berat timbangannya daripada amal buruknya, maka surga balasannya. Sebaliknya, jika amal buruknya lebih berat, neraka adalah yang paling pantas baginya.

Lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa ketakwaan harus diwujudkan tidak hanya dalam ranah individu belaka, tetapi juga harus direalisasikan pada ranah masyarakat. Inilah yang boleh disebut sebagai "ketakwaan kolektif". Ketakwaan kolektif ini akan wujud dalam bentuk masyarakat yang menerapkan aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Pertanyaannya, sudahkah kita semua pasca meninggalkan bulan Ramadhan ini sudah mencapai derajat takwa tersebut? Semoga saja pasca Ramadhan kali ini, kita telah berubah menjadi manusia baru. Manusia yang meraih kesuksesan Ramadhan yang hakiki yakni manusia yang bertakwa, manusia yang taat kepada Allah SWT dan menjadi manusia yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW.