Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Artikel Utama

4 Hikmah Idul Fitri yang Perlu Dikenalkan Kepada Anak

15 Juni 2018   16:23 Diperbarui: 16 Juni 2018   21:10 2775 5 4
4 Hikmah Idul Fitri yang Perlu Dikenalkan Kepada Anak
Ada beberapa hikmah dari Idul Fitri yang bisa kita kenalkan kepada anak. Salah satunya saling memaafkan dan melupakan benci/Foto: Liputan6.com

Alhamdulillah, Idul Fitri datang lagi. Dari hati, saya dan keluarga tulus menyampaikan mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan hari kemenangan, selamat berkumpul bersama keluarga dan selamat menikmati aneka hidangan yang ngangeni.  

Sejak tadi malam hingga sore ini, gawai saya terus meraung memberitahu ada pesan baru masuk di "ruang tamu" WhatsApp saya. Ada banyak kawan yang bersilaturrahmi lewat gawai sembari berkabar  perayaan Lebaran. Begitu juga di media sosial yang tidak kalah ramai oleh foto kawan dan keluarganya. Plus, foto anak-anak mereka dengan "hasil buruan" di hari pertama Lebaran.

Saya tergelitik oleh foto di akun media sosial seorang kawan yang memajang putranya nyang sedang menghitung uang kertas dengan narasi begini "serunya jadi bocah, saat Idul Fitri berkunjung ke kerabat dengan harapan menerima beberapa lembar rupiah baru dan begitu sampai di rumah, antusias menghitung lembar demi lembar dengan angan-angan akan dibuat beli apa".    

Ya, Lebaran memang periode menyenangkan bagi hampir semua orang. Terutama anak-anak yang mendapat "hujan rezeki". Namun, Lebaran bagi anak-anak bukan hanya tentang 'salam tempel'. Ada beberapa hikmah mulia dari Idul Fitri yang bisa kita kenalkan kepada anak-anak.  

Meminta maaf dan berterima kasih kepada orang tua

Idul Fitri adalah waktu terbaik untuk menguatkan hubungan antara anak dan orang tua. Bila sebagai anak pernah ada salah, inilah momentum terbaik untu meminta maaf serta berterima kasih dan mengenang kembali jasa-jasa orang tua. Itu hal pertama yang coba saya ajarkan kepada dua anak saya yang baru berusia hampir 7 tahun dan 5,3 tahun.

Pagi tadi, setelah mengikuti sholat Ied yang kata mereka kok seperti Sholat Jumat (karena ada hotbahnya), saya lantas mengenalkan kepada mereka tentang "sungkeman" kepada orang tua. Bahwa, dalam Idul Fitri, orang pertama yang harus mereka meminta maafnya adalah orang tua. Kalaupun tidak bisa berjabat tangan langsung dikarenakan sesuatu hal, kita bisa melakukan video call ataupun telpon seperti yang kami lakukan pagi ini karena tidak mudik ke rumah mertua di Betawi.

Menurut saya ini penting agar kelak ketika mereka besar, mereka bisa menempatkan orang tua sebagai manusia yang wajib mereka muliakan. Bukankah ridho Allah itu berawal dari ridhonya orang tua? 

Dan, sembari sungkeman khusyu, saya sampaikan harapan kepada mereka agar bisa tumbuh menjadi anak yang terus belajar memperbaiki kesalahan. Semisal lebih taat dan mendengarkan nasihat serta berbicara dengan lemah lembut kepada orang tua.  

Saling memaafkan, membuang jauh rasa benci

Setelah itu, saya lantas mengajak mereka berkeliling ke rumah tetangga yang kebetulan tahun ini tidak mudik. Termasuk bertemu dengan kawan-kawan sepermainan mereka. Tiba-tiba si kakak nyeletuk, "nggak mau minta maaf sama si A, dia kan anaknya nggak baik, suka jahat sama kakak," ujar si kakak.

Saya lantas bilang ke dia bahwa Idul Fitri adalah momen terbaik untuk lapang dada dengan meminta maaf kepada orang lain serta membuka lebar-lebar pintu maaf untuk orang lain.

Ya, melalui Idul Fitri, saatnya membuang jauh-jauh rasa benci dan dendam dan memulai hubungan baru yang lebih baik dengan bermaaf-maafan. Saatnya menepikan ego diri seraya memintaa maaf dan memberi maaf kepada semua, termasuk yang pernah menyakiti kita.

Menyambung silaturrahmi dengan sesama

Idul Fitri identik dengan unjung-unjung ke rumah tetangga, keluarga, saudara dan kawan-kawan. Anak-anak perlu untuk diberitahu bahwa unjung-unjung bukan untuk mendapatkan "salam tempel" meskipun mereka setiap Idul Fitri pasti mendapatkan "uang saku".

Namun, unjung-unjung bermakna menyambung dan memelihara tali silaturrahmi yang sudah ada. Ibarat tanaman, ia harus rajin disiram dan diberi pupuk agar tumbuh sehat. Hubungan antar manusia pun begitu. Bukankah ada ujaran bahwa silaturrahmi memanjangkan umur dan melapangkan rezeki?

Karena dengan bersilaturrahmi, hati kita bisa gembira sehingga bisa lebih sehat dan bahkan mungkin mendapatkan ide usaha baru dari cerita kawan.  

Idul Fitri merupakan hari kemenangan

Dan, tentu saja, Idul Fitri merupakan hari kemenangan. Tahun ini, meski baru belajar, Alhamdulillah si kakak bisa puasa Maghrib dari hari pertama hingga akhir. Sebagai orang tua, rasanya perjuangan membangunkan dia ketika sahur ataupun menguatkan semangatnya ketika mendapat godaan dari adiknya yang suka pamer makan/minum di siang hari, seolah terbayar.

Dan, penting untuk memberinya "reward" bahwa dia telah menang. Bukan hanya reward berupa makanan dan minuman favoritnya ataupun mendapat salam tempel, tetapi kami memang telah menyiapkan hadiah untuknya. Tanpa diketahui olehnya, istri saya memesan mainan lego lewat toko online.

Nah, kemarin, setelah mandi sore, jelang berbuka puasa di hari terakhir Ramadan tahun ini, istri saya lantas berujar bahwa di lemari ada hadiah untuk kakak. Dia pun antusias membuka mainan barunya lantas memeluk mamanya sembari berterima kasih. Ya, setelah berjuang sebulan penuh, dia bisa gembira merayakan kemenangan di hari Idul Fitri.

***

Akhirnya, melalui tulisan ini yang merupakan tulisan terakhir setelah istiqomah berjuang selama 32 hari menuangkan cerita, harapan dan pengalaman melalui tulisan, saya menyampaikan permohonan maaf tulus bila tidak sengaja terbersit salah. Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Salam