Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Rindu Ramadan Warga Perumahan yang "Ekslusif"

12 Juni 2018   22:09 Diperbarui: 12 Juni 2018   22:22 503 0 0
Rindu Ramadan Warga Perumahan yang "Ekslusif"
Salah satu yang dirindukan dari Ramadan: kebersamaan | dokpri

Sejak kecil tinggal di lingkungan kampung, lantas dalam delapan tahun terakhir setelah berkeluarga menghuni kompleks perumahan, membuat saya tahu bagaimana rasanya suasana Ramadan di kawasan hunian yang katanya "ekslusif".

Ya, tinggal di kompleks perumahan memang berbeda dengan di kampung. Dulu di kampung, semua orang yang se-kampung, rasanya kenal semua. Mungkin hanya warga pendatang saja yang tidak kenal. Rasanya tidak ada malam yang dilewatkan tanpa cangkrukan. Entah sekadar duduk dan ngobrol sebentar di teras rumah warga atau di poskamling, minimal ada interaksi rutin antar warga.

Terlebih di bulan Ramadan, romantisme suasana Ramadan di kampung sangat terasa dari waktu sahur hingga malam jelang waktu sahur. Dari momen membangunkan orang sahur lewat pengeras suara di musholla, hingga membaca Al-Quran setelah tarawih (tadaruz-an) di mushola dekat rumah.

Sementara tinggal di kompleks perumahan, menjadi kebalikannya. Kebiasaan mayoritas warga yang tinggal di perumahan, sepulang dari tempat kerja akan melepas penat di rumah bersama keluarga. Jarang yang keluar rumah. Jadilah malam-malam di perumahan umumnya sunyi.

Situasi itu juga saya rasakan di kompleks perumahan tempat tinggal saya. Jarang ada 'cangkrukan' ketika malam. Palingan di akhir pekan, bapak-bapak di gang saya berkumpul untuk main tenis meja. Makanya tidak heran bila banyak dari kami yang tidak saling mengenal tetangga satu kompleks. Jangankan satu kompleks, tetangga satu blok yang jarang keluar rumah juga tidak kenal. Palingan hanya bertegur sapa dengan menyapa "bapak/ibu" ketika bertemu tanpa tahu namanya. Ekslusifitas seperti itu sebenarnya sah-sah saja karena orang yang memilih tinggal di perumahan memang menginginkan "me time". 

Namun, ekslusifitas dan keegoan warga di perumahan saya tersebut serasa lebur ketika Ramadan datang. Ramadan mengubah stigma ekslusif warga perumahan. Ada beberapa momen selama Ramadan yang mampu mendekatkan keakraban kami sebagai warga perumahan. Beberapa hal ini yang akan saya rindukan di bulan-bulan setelah Ramadan nanti.

Berbuka puasa bersama setiap hari di masjid

Berbuka puasa bersama itu tidak melulu dilakukan di rumah makan di hari-hari tertentu bersama teman-teman kantor. Berbuka puasa juga bisa dilakukan setiap hari di bulan Ramadan bersama tetangga satu kompleks perumahan. Nuansa itu yang muncul di lingkungan hunian kami.

Sepekan jelang Ramadan, takmir masjid bersama pengurus RT sudah membagi jadwal giliran warga yang memberikan takjil untuk berbuka puasa di masjid kompleks. Jadilah setiap hari jelang Maghrib, ada beragam menu takjil yang disiapkan warga. Meski sederhana, tetapi mampu membuat kami akrab untuk "berbuka puasa bersama" sebelum Sholat Maghrib berjamaah.

Selain berbuka puasa bersama di masjid, beberapa warga juga mengadakan buka bersama di setiap gang sembari mengundang anak-anak panti asuhan. Kami menyiapkan masakan bersama dan lantas berbuka puasa bersama. Suasana seperti ini yang akan kami rindukan dari Ramadan.

Ya, hanya Ramadan yang bisa membuat kami berkumpul jelang Maghrib di masjid ataupun di gang depan rumah. Di bulan-bulan lainnya, ada banyak dari kami yang mungkin masih berada di jalan dalam perjalanan pulang kerja menuju rumah. Atau, baru nyampe rumah sehingga sudah telat untuk datang ke masjid.

Ramadan membuat kami bisa saling kenal dan lebih akrab

Tidak semua perumahan beruntung memiliki masjid yang dibangun oleh developer. Perumahan tempat tinggal saya termasuk beruntung. Meski, lokasi masjidnya berada di pojokan belakang kompleks sehingga untuk mencapainya mengharuskan membawa kendaraan. Karena lokasinya yang 'tersembunyi' itulah, tidak semua warga bisa ringan kaki melangkah ke masjid. Terutama di waktu sholat Isya.

Mungkin karena baru pulang kerja dan rasa penat bekerja belum reda atau keluar rumah karena ada keperluan keluarga, jumlah jamaah Isya di masjid kami "paling minim" dibandingkan dengan Sholat maghrib maupun Sholat Shubuh. Namun, selama Ramadan, kebiasaan itu berubah.

Bila di luar Ramadan, yang datang ke masjid orang-orang itu saja, selama Ramadan, ada banyak warga yang antusias sholat Isya dilanjut Tarawih. Pun ketika Sholat Shubuh. Dan, fungsi dari sholat berjamaah di masjid bukan sekadar hablum minallah, tetapi juga hablumminnas alias hubungan antar manusia.

Ya, Ramadan membuat warga perumahan yang ekslusif dan biasanya tidak pernah keluar rumah ketika malam, menjadi lebih sering bertemu dan bertegur sapa di masjid. Seusai Sholat Isya dan Tarawih, kami tidak langsung kembali ke rumah. Tetapi bisa sejenak duduk bersama di masjid sembari mendengarkan anak-anak kecil membaca Al-Quran. Pun, di malam-malam terakhir, kami bergantian "berjaga" menerima zakat fitrah dari warga.

Pendek kata, karena Ramadan, kami bisa lebih sering bertemu dan bertegur sapa di masjid. Sehingga, kami yang sebelumnya ada yang tidak saling kenal, kini bisa akrab. Hebat ya Ramadan.

Suasana-suasana akrab seperti itu yang pastinya akan saya rindukan dari Ramadan. Suasana-suasana itu yang sepertinya sulit untuk terjadi di luar bulan Ramadan. Ya, Ramadan tidak hanya menjadi bulan mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa, tetapi juga menjadi bulan mendekatkan diri dengan sesama. Semoga kita bisa kembali dipertemukan Ramadan di tahun depan dan merasakan kembali hikmah Ramadan. Aamiin.