Gordi
Gordi The Pilgrim

Alumnus STF Driyarkara Jakarta 2012. The Pilgrim, La vita è bella. Menulis untuk berbagi. Lainnya: http://www.kompasiana.com/15021987

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Awas, Kanker Telinga Gara-gara Handphone!

3 Juni 2017   13:38 Diperbarui: 8 Juni 2017   04:16 1517 19 10
Awas, Kanker Telinga Gara-gara Handphone!
Bijaklah menggunakan hp, FOTO: dramafever.com

Inilah kekeliruan yang sering diabaikan. Pekerjaan yang mendatangkan uang sekaligus penderitaan. Empat jam yang menegangkan. Lima belas tahun yang memprihatinkan.

Kira-kira beginilah gambaran sebuah kekeliruan yang berujung duka. Kekeliruan itu muncul karena kurang bijak memakai telepon genggam. Banyak korban yang awalnya enggan memerhatikan nasihat bijak mengenai penggunaannya. Jangan heran jika akhirnya menderita kerugian.

Penggunaan telepon genggam-Hp memang bisa merugikan. Terutama, jika salah dan keliru. Hp pada dasarnya merupakan media komunikasi. Sebagai media, penggunaannya pun mesti tidak melampaui bentuknya sebagai media. Itulah sebabnya ada syarat-syarat yang mesti diperhatikan.

Syarat ini bertujuan agar pengguna nyaman memakai hp. Jika syarat diabaikan, perangkat komunikasi itu akan menjadi pembawa malapetaka bagi pengguna. Penggunaan hp yang terlalu lama bisa merugikan kesehatan. Demikian dengan penggunaan alat pendengar di telinga yang melampaui ketentuan, bisa merusak kualitas pendengaran di telinga.

Inilah yang terjadi dengan Roberto Romeo (57 tahun) di kota Ivrea, Provinsi Piemonte, kota Torino, Italia Utara. Romeo bekerja di lembaga “l’INAIL” (l’Istituto nazionale assicurazione infortuni sul lavoro), semacam lembaga asuransi untuk kecelakaan kerja. Di sini, Romeo bekerja selama puluhan tahun. Sekitar 15 tahun terakhir, ritme kerjanya tinggi. Tuntutan kerja pun meningkat. Dia mesti berbicara lewat hp selama 4 jam dalam sehari. Totalnya sekitar 12.000 jam. (Popotus25/4/2017)

Peneliti Media dan Teknologi , FOTO: thetechjournal.com
Peneliti Media dan Teknologi , FOTO: thetechjournal.com

Ritme ini termasuk dalam pekerjaan berat. Bayangkan jika ia mesti menerima panggilan telepon dari banyak klien dari banyak tempat. Boleh jadi pekerjaannya hanya berbicara di telepon saja. Berbicara dalam telepon dalam durasi yang lama seperti ini rupanya bisa menyebabkan kanker. Romeo memang akhirnya mengidap penyakit kanker jenis Neurinoma acustico di telinga bagian Kanan.

Kanker ini memang tidak secara langsung disebabkan oleh penggunaan hp dalam waktu lama seperti ini. Boleh jadi, kanker-nya sudah ada. Namun, kanker ini berkembang menjadi penyakit akut dengan penggunaan hp berlama-lama seperti ini. Jadi, ada andil dari kesalahan ini. Pengadilan di kota Ivrea pun menjatuhkan hukuman kepada INAIL. Pihak pengadilan berpendapat, tuntutan kerja seperti ini membuat Romeo mengidap penyakit kanker ini.

Menurut pihak Rumak Sakit San Rafaele di kota Milan, kanker neurinoma acustico merupakan jenis bibit kanker yang berpotensi menjadi besar. Kira-kira 7-8% dari jenis kanker dalam fase permulaan adalah jenis neurinoma acustico. (http://www.hsr.it). Dalam perkembangan selanjutnya, kanker jenis ini bisa merusak sel otak. Gejalanya bisa dialami dalam waktu lama, dan biasanya pada usia 30-60 tahun. Salah satu gejalanya adalah gangguan pada indra pendengaran. (http://www.farmacoecura.it). Boleh jadi, gejala ini yang sedang dialami oleh Romeo.

Gejala yang dialami Romeo memang menjadi diskusi hangat di antara para medis. WHO makin getol membuat penelitian tentang jenis kanker ini. Penelitian paling gencar terjadi pada 2010 yang lalu. Sekitar 13 negara dilibatkan, dengan total biaya sekitar 19 juta Euro. Wawancara di 13 negara dengan 10 juta orang.

Besarnya penelitian ini tidak membuat masalah kanker ini selesai. Masih banyak pertanyaan dan keraguan yang belum terpecahkan. Itulah sebabnya, pada akhir penelitian pihak WHO membuat kesimpulan berupa saran: “agar pengguna berhati-hati agar tidak rugi dan buat pencegahan sejak dini.” Menurut WHO, kanker jenis ini bisa berkembang ke level 2b. (Popotus25/4/2017). Ini berarti mesti berhati-hati.

Tidur sambil dengar lagi, merusak telinga, FOTO: cbsnews.com
Tidur sambil dengar lagi, merusak telinga, FOTO: cbsnews.com
Salah satu pencegahan yang kiranya bijak adalah melarang penggunaan hp bagi anak-anak di bawah umur. Anak-anak punya kecenderungan untuk mencoba-coba. Kecenderungan ini juga bisa terjadi dengan menggunakan hp secara berlama-lama. Ada banyak negara (Rusia, Amerika Serikat, Australia, Korea) yang menerapkan aturan tertentu dalam menggunakan hp. India adalah salah satu dari negara yang dengan tegas melarang penggunaan hp untuk anak di bawah 16 tahun, dan melarang penjualan hp untuk anak-anak dan ibu-ibu hamil.

Di Italia, peraturan dari India ini bisa diterapkan. Anak-anak SMA rupanya bisa beraktivitas tanpa hp. Ada sensasi tersendiri saat mereka melepaskan hp selama seminggu misalnya. Inilah yang dialami oleh 30 pelajar SMA (15-17 tahun) di “Istituto Dragomari” di kota Prato, Provinsi Toscana, Italia Tengah. (Popotus 18/5/2017).

Percobaan ini bermula dari tantangan yang diberikan oleh dosen mereka Profesor Marcello Contento. Sang dosen memberi penjelasan singkat tentang kehidupan tanpa internet. Dosen Ekonomi ini dengan gesit melontarkan ide yang menantang: di luar internet ada dunia. Maksudnya, meski di internet kita bisa menemukan banyak hal, tetapi dunia nyata hanya ada di luar jangkauan internet. Berarti, dunia nyata lebih besar dari internet. Dunia nyata juga lebih ‘berharga’ dari internet.

Percobaan di kota Prato ini juga diikuti oleh 50 siswa dari SMA yang lainnya “Liceo Scientifico San Niccolò” di kota Toscana. Promotor utama di sini adalah Dosen Filsafat, Profesor Lorenzo Delli. Delli melontarkan 2 pertanyaan mendasar kepada para pelajar ini: Apakah kalian mampu menjadi pahlawan untuk tinggal dalam dunia ‘off line’ selama 7 hari? Lalu, Apa kira-kira yang akan hilang, dan apa kira-kira yang didapat dari kehidupan di dunia tanpa elektronik?

Dua pertanyaan direfleksikan selama 7 hari. Pelajar pun tidak menggunakan hp, tanpa internet, facebook, BBM, whatsapp, youtube, instagram, twitter, dan sebagainya. Kesan mereka pun bermacam-macam. “Ada yang bilang ke saya, kamu gila, mau hengkang dari dunia maya,” tutur seorang siswa laki-laki menirukan ledekan temannya. “Saya meraba-raba saku saya tetapi tidak menemukan hp. Saya khawatir, di mana saya letakkan hp itu,” komentar seorang siswa perempuan.

TInggalkan telepon, dialoglah dengan yang di sebelah, FOTO: sfmnews.com
TInggalkan telepon, dialoglah dengan yang di sebelah, FOTO: sfmnews.com

Pada umumnya, mereka senang. “Bukanlah hal mudah pada awalnya. Tetapi, kami menjadi lebih berhati-hati, lebih berpikir bijak dari biasanya, lebih banyak waktu untuk berjalan atau bercerita bersama Bapak, Ibu, dan saudara-i, lebih perhatian dengan apa yang kami kerjakan,” komentar sebagian besar dari mereka. Profesor Contento sebagai pelopor mengatakan, kegiatan ini bukan model ‘Melawan Penggunaan Internet atau Penggunaan HP’ tetapi lebih pada unsur edukasi, bagaimana menggunakan internet dan hp.

“Pemutusan hubungan dengan internet dan perangkat terhubung lainnya bertujuan untuk merasakan ‘kehidupan yang lebih’ di dunia nyata, dengan visi misi kami bisa bijak mengatur waktu. Seminggu tanpa internet misalnya membuat kami lebih banyak waktu untuk belajar, untuk bermain, untuk jalan-jalan bersama kolega, berkelakar dengan sahabat, dan sebagainya,” jelas Profesor Contento.

Kegiatan ini kiranya bisa ditiru oleh anak-anak remaja kita. Selain mendorong mereka untuk bijak, kita yang dewasa sebaiknya mesti memberi contoh terlebih dahulu. Contoh yang diberikan oleh Profesor Contento dan Profesor Delli kiranya bagus. Mereka mensyaratkan kepada para siswa untuk hidup tanpa internet dan perangkat terhubung selama seminggu, dan mereka juga ikut di dalamnya. Mereka meninggalkan semua perangkat elektronik yang ada. Kegiatan semacam ini bisa mencegah penggunaan hp seperti yang dialami Roberto Romeo di tempat kerjanya.

Mari bijak menggunakan hp dan alat elektronik lainnya.

Sekadar berbagi yang dilihat, ditonton, didengar, dirasakan, dialami, dibaca, dan direfleksikan.

PRM, 3/6/2017

Gordi