Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Lebaran Digital

15 Juni 2018   20:19 Diperbarui: 15 Juni 2018   20:32 1048 7 4
Lebaran Digital
Black and White by Carolina Roepers - foto: pexels.com

Malam dengan takbir riuh menggema melangit. Umat Muslim bersenandung mengagungkan Tuhan dengan takbir. Sedang beberapa masih sibuk dengan layar smartphone mereka.

Beberapa notifikasi berwarna merah menghias muka smartphone. Obrolan dengan keluarga dan rekan berakhir saat kepala menunduk memperhatikan layar gadget.

Swipe, scroll, ketik-ketik mulai mengolahragakan jari-jemari. Dalam jari yang sehat, ada notifikasi yang giat. Kabarnya. Begitupun dengan ratusan notifikasi dan chat berisi ucapan mohon maaf lahir dan bathin.

Dan kawan, ada yang perlu kamu ketahui dari broadcast ucapan Minal Aidzin di era digital seperti sekarang. Setidaknya ada 3 tipe ucapan.

Pertama, ucapan dengan QWERTY alias ketik. Di WAG, ada yang kreatif dengan meng-kopas aksara Arab gundul. Bagi yang pandai membacanya tiada masalah. Tapi bagi yang cuma sampai Iqra 2, dibalas aamiin dan saling meminta maaf cukup. Bagi beberapa, tak ada yang mau ribet membuat sendiri ucapan maaf Lebaran. Cukup kopas teman di grup tetangga. Walau kadang lupa mengganti nama empunya pesan saat sudah kadung di-share.

Kedua, ucapan dengan foto sendiri atau bareng keluarga. Ucapan maaf Lebaran kini selevel lebih maju. Ada foto yang di-caption dengan ucapan Minal Aidzin. Sudah serasa seperti nyaleg atau nyagub jika foto hanya sendiri. Dengan senyum simpul dan busana yang cukup Islami, foto di-share atau di-post di sosmed. Biar kelihatan tidak monoton dan sedikit narsis, katanya.

Ketiga, ucapan dengan video atau gif. Tipe seperti ini butuh perjuangan kawan. Karen beberapa video direkam dengan profesional. Bisa memakai background virtual atau malah outdoor. Adapun yang menggunakan animasi dengan background musik yang bernuansa Islam. Keren. Pokoknya biar kelihatan lebih keren dari yang lain, atau anti-mainstream. Walau kadang malah menyedot data lebih banyak dari gambar atau tulisan.

Kreatifitas mengucap memang hebat, saya akui. Tetapi kadang lupa akan hakikat meminta maaf itu sendiri. Saat perbuatan dan lisan mengucap salah di dunia nyata. Mengapa harus meminta maaf secara online? Sedang satu dua kali mungkin kita sering bertemu langsung dengan orang yang kita chat.

Caption seolah mewakili tulusnya meinta maaf secara langsung. Indahnya diksi puisi dalam ucapan. Runtutnya rima dan rema prosa dalam caption, bukan mewakili isi hati. Apa yang tertulis adalah estetika berucap. Sedang tulus maaf meliputi gestur yang tunduk, tatap mata yang jujur, dan genggam jabat yang mantab. Sulit rasanya caption dengan gambar dan video mewakili semua ini.

Apalagi ucapan Lebaran hanya sekadar kopas atau edit sedikit gambarnya. Seolah tiada tulus yang disertakan dalamnya. Mungkin karena sungkan diam saja di dalam satu grup. Kopas/edit sedikit saja ucapan dari grup sebelah. Toh, mungkin banyak orang yang memiliki ucapan Lebaran yang serupa.

Konvensi dan konteks Lebaran di era digital bergeser dari ketulusan menjadi basa-basi. Ucapan minta maaf kini memenuhi kekosongan keikutsertaan di dunia maya belaka. Namun saya yakin kawan, diantara ribuan bahkan jutaan ucapan tadi ada yang tulus. Yang diketik tulus sembari jatuh airmata. Walau hanya lima belas kata panjangnya.

Salam,

Solo, 15 Juni 2018

08:25 pm