Gilang Dejan
Gilang Dejan Amateur Football Writer

Football is the art of managing possibilities

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Cristiano, yang Kamu Lakukan ke Buffon Itu Jahat

4 Juni 2017   06:38 Diperbarui: 4 Juni 2017   18:42 3765 11 11
Cristiano, yang Kamu Lakukan ke Buffon Itu Jahat
Photo by cekskor.com

Cristiano! Begitulah orang-orang memanggilnya. Ia terlahir sebagai pemenang sejati dan amat membenci kekalahan. Bahkan, pada suatu hari, ketika Timnas Portugal dibantai oleh Jerman di babak fase grup Piala Dunia 2014, sang Ibu, Maria Dolores sempat khawatir ketika anaknya mengalami kekalahan telak itu. Namun, Ronaldo mencoba menenangkan sang Ibu dengan berkata demikian, “Ini hanya pertandingan sepakbola, bukan perang, tidak akan menyebabkan kematian, besok saya akan menang. Janji!" Itulah sebuah fragmen cerita yang dinarasikan film dokumenter berjudul 'Ronaldo’ (2015) gubahan Emilly Beddard.

Sebagai seorang yang anti-hedonis di dunia sepak bola, sudi rasanya menyaksikan segala hal yang berkaitan dengan Real Madrid. Tapi, entah wangsit apa yang merasuki tubuh penulis di malam jelang final Liga Champions yang di gelar di Cardiff, Wales. Jika benar kegiatan di luar kebiasaan itu merupakan sebuah petunjuk maka penulis akan menyetujui semua tawaran yang disodorkan para Juventini untuk bertaruh malam itu, karena atas dasar film itu hati saya semakin yakin jikalau jiwa pemenang ala Ronaldo bakal memenangkan Madrid di Cardiff. Sayang, ini bulan Ramadan, hal lain yang mempengaruhi keputusan yang saya ambil.

Awalnya, analisa mengenai final ini sedikit banyak memihak kepada wakil asal Italia, Juventus. Jika hitungan matematis berlaku di sepak bola, maka pemenangnya adalah Gianluigi Buffon cs. Banyak faktor yang mengkehendaki penilaian tersebut. Pertama, teamwork (kerjasama tim, red) I Bianconerri lebih baik ketimbang Los Galacticos. Kuncinya sederhana, jika Juve ingin menang tinggal hentikan saja naluri mencetak gol seorang Ronaldo. Dan, Juve punya penangkal tersebut dengan adanya trio bertahan bernama BBC (Bonucci, Barzagli, dan Chielini) ditambah lapisan tembok kokoh; Sang Kapten Gigi Buffon.

Namun, mereka seolah lalai terhadap pergerakan Ronaldo, ketika Alex Sandro maupun Chielini mencoba fokus menghentikan Ronaldo, pemain lain seolah lupa bahwa Madrid punya aktor lain di lini tengah bernama Casemiro. Entah apa yang bisa membuat identitas klub raksasa ini hilang di dua final beruntun, ketika melawan Barcelona beberapa tahun lalu, Bonucci cs seakan kehilangan jati dirinya (catenaccio). Dan, dini hari tadi mereka seolah déjà vu ketika berhadapan klub asal Spanyol.

Faktor kedua, Juve lebih unggul dari Madrid secara postur tubuh para pemainnya. Ini statistik menarik buat Juve, yang mempunyai rata-rata tinggi pemain 1,84 meter – unggul 3 cm ketimbang pemain Madrid. Dalam 9 final Liga Champions terakhir ada 7 gol yang bersarang melalui jalur udara (via sundulan). Trio bek Juve, BBC sangat fasih mengantisipasi serangan lajur udara, sedangkan penyerang macam Mario Mandzukic dan Gonzalo Higuain berbahaya dalam memanfaatkan umpan lambung.

Sementara, data dari La Gazzetta Dello Sport menarasikan ada banyak pemain Madrid yang hanya memiliki tinggi badan 1,80 meter. Sudah barang tentu mereka akan kesulitan dalam menghadapi situasi tendangan bebas atau sepak pojok. Bukan hanya postur tapi juga kekuatan fisik. Sebelas pemain yang masuk starting eleven Allegri di Cardiff memiliki rata-rata berat badan 82,3 kilogram, jauh melebihi pasukan Madrid yang hanya 75,9 Kg. Artinya, Dybala cs akan dengan mudah menguasai permainan dengan mengandalkan kekuatan otot saat berduel.

Namun, di laga ini pada akhirnya tidak tercipta sebiji gol pun dengan sundulan atau bola atas. Itu berarti, Juve tidak bisa memanfaatkan celah yang disediakan kekurangan lawan. Tak ubahnya dengan kekuatan Juve yang pertama mengenai teamwork yang tidak bisa dimaksimalkan, keunggulan postur tubuh juga tidak dimanfaatkan betul oleh mereka. Atau pelatih Zizou dan pasukannya sudah mengantisipasi hal ini?

Faktor ketiga, Dani Alves, ketika berkostum Barcelona Ia cukup punya rapor yang mengesankan ketika menghadapi Sergio Ramos dkk. Setidaknya, Alves sedikit fasih bagaimana cara menghentikan CR7 dan bagaimana cara melewati rekan senegaranya, Marcelo. Bagi Alves, semakin tinggi tensi pertandingan maka semakin bringas pula permainannya. Namun, lagi kita membenturkan semua kelebihan yang ada di tim Juve ini dengan efektivitas dalam arti mereka tidak bisa memaksimalkan atau memanfaatkan potensi yang dimiliki.

Terakhir, Juve seharusnya bisa memanfaatkan tekad kuat para veteran untuk meraih trofi terakhirnya sebagai pemain. Salah satunya adalah Gianluigi Buffon. Berbagai gelar sudah pernah diraihnya, namun hanya satu trofi yang mungkin atau saat ini sudah dipastikan tidak akan bisa direngkuhnya, yakni trofi si kuping besar. Kutukan yang awalnya meneror Benzema dan kolega tentang tidak adanya klub yang mampu memertahankan gelar juara Liga Champions secara berturut-turut seketika beralih begitu saja kepada Buffon. Ya, dia seolah mendapat kutukan yang hampir mirip dengan kasus Ronaldo de Lima yang memenangi pelbagai gelar jawara namun tidak mampu memenangi trofi yang satu ini.

Buffon butuh partner dalam meraih impian terakhirnya, itu menjadi sebuah kelemahan yang tidak bisa ditutupi oleh tim Juve. Karena Trio BBC yang berisikan Bonnuci, Barzagli, dan Chielini saja tidak cukup. Walaupun Buffon punya mentalitas juara, Ia tidak bisa bekerja sendirian. Seandainya masih ada Andrea Pirlo dan Paul Pogba tanpa mengurangi seorang finisher 90 juta Euro (baca: Higuain), maka, lengkap sudah persyaratan untuk pengajuan juara Liga Champions musim ini.

Bagaimana pun juga tim ini pernah dilatih oleh seorang Antonio Conte, pastilah The Confather (Julukan Conte) meninggalkan satu modul bernama efektifitas permainan terutama saat menyerang, di luar daripada sistem bertahan yang sempurna itu. Dalam beberapa momen terlihat Sami Khedira terlalu bertele-tele mengolah bola dari lini tengah, itu bukan identitas permainan klasik ala Italia dan Juve yang mengandalkan efetivitas.

Tapi, semua telah terjadi. Tidak ada pemain yang patut dijadikan kambing hitam, seperti kekuatan di awal bahwa tim ini terbentuk dengan teamwork luar biasa maka ketika kekalahan menimpa pun harus diakui secara tim, ini kesalahan tim. Walaupun Juan Cuadrado melakukan hal yang bisa dikategorikan blunder, Khedira yang minim kreativitas, Alves yang kikuk, atau BBC yang menyediakan celah terlalu menganga di pertahanan malam ini. Semua adalah kesalahan bersama.

Terlepas dari kesalahan internal tim Juve, orang yang paling bersalah dimata Juventini (Tifosi Juventus) adalah Cristiano Ronaldo. Ya, pemain dengan nomor punggung tujuh itu membuat Buffon menanggalkan posnya dari Juventus dengan arwah penasaran dalam sejarah kelam Liga Champions. Apa yang diinginkan Ronaldo hingga dirinya bisa setega itu (mencetak 2 gol) kepada legenda asal Italia bernama Buffon? Padahal, Ronaldo sudah memenangi segalanya, dan Buffon tidak meminta Ballon d’Or. Sang kapten hanya ingin mempersembahkan trofi Si Kuping Besar mendarat di Turin, untuk yang terakhir kalinya dalam karir professional sepakbolanya.

Tapi, Ronaldo adalah Ronaldo. Seperti yang sudah dinarasikan dalam paragraf awal artikel ini. Seorang manusia yang selalu berusaha untuk menang dan benci kekalahan (sampai kapanpun), walau tidak sedikit kamera menangkap air mata di Cardiff berjatuhan dari manusia berbaju putih-hitam itu. Seolah-olah mereka ingin mengatakan: Cristiano, yang kamu lakukan ke Buffon itu jahat!