Gentur Adiutama
Gentur Adiutama Pegawai Negeri Sipil

Pecinta bulutangkis dan pengagum kebudayaan Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Pantang "Puasa Gelar" di Bulan Puasa

11 Juni 2017   06:33 Diperbarui: 11 Juni 2017   10:08 540 0 0
Pantang "Puasa Gelar" di Bulan Puasa
Tim bulutangkis Indonesia tak boleh lagi puasa gelar di Indonesia Open tahun ini. (sumber foto: PBSI)

Turnamen bulutangkis Indonesia Open akan mulai digelar pada hari Senin tanggal 12 Juni 2017. Pertandingan final dijadwalkan pada hari Minggu tanggal 18 Juni 2017. Ajang yang termasuk dalam kategori Super Series Premier pada kalender Badminton World Federation (BWF) ini selalu dinanti-nanti tidak hanya oleh para pemain namun juga seluruh pecinta bulutangkis di Tanah Air.

Dengan total hadiah sebesar 1.000.000 USD, maka sangat wajar bila para pebulutangkis dari seluruh negara mempersiapkan diri untuk tampil di Indonesia Open secara serius dan berharap bisa membawa pulang hadiah yang menggiurkan tersebut. Selain itu, status turnamen sebagai Super Series Premier juga menandakan bahwa semua pemain yang duduk di 10 besar pada peringkat dunia BWF wajib hadir berkompetisi, kecuali sedang didera cedera serius.

Iming-iming hadiah uang 1.000.000 USD bagi para pemain. (sumber foto: CNN)
Iming-iming hadiah uang 1.000.000 USD bagi para pemain. (sumber foto: CNN)

Bagi para fans bulutangkis di Indonesia, menonton langsung pertandingan-pertandingan Indonesia Open di Istora Senayan adalah agenda yang sudah jauh-jauh hari direncanakan. Atmosfer pertandingan yang seru ditambah gemuruh suara para suporter saat menyokong atlet Indonesia bermain adalah hal yang membuat mereka kecanduan. Penonton juga terhibur dengan aksi para pebulutangkis elit dari negara lain seperti Lee Chong Wei, Lin Dan, Carolina Marin, dan lain-lain.

Namun ada dua hal berbeda pada penyelenggaraan tahun ini, yang besar kemungkinan bisa mengubah suasana Indonesia Open. Yang pertama adalah lokasi pertandingan yang bertempat di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC). Hal itu karena Istora Senayan sedang dalam proses renovasi untuk pentas Asian Games tahun depan. Yang kedua adalah jadwal turnamen yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, ketika masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam sedang menjalankan ibadah puasa.

Lokasi baru yaitu di JCC akan menciptakan atmosfer yang baru karena belum pernah ada turnamen bulutangkis yang dilaksanakan di gedung yang umumnya berfungsi untuk pameran dan konferensi itu. Jangankan pemain dari negara lain, bahkan para pemain Indonesia pun tidak pernah merasakan beradu tepok bulu disana. Oleh karena itu, tidak ada keuntungan pengetahuan tentang kondisi lapangan yang dimiliki oleh siapapun.

Plenary Hall JCC yang biasa dipakai untuk konferensi (kiri) sekarang disulap jadi arena bulutangkis untuk Indonesia Open (kanan). (sumber foto: detik.com)
Plenary Hall JCC yang biasa dipakai untuk konferensi (kiri) sekarang disulap jadi arena bulutangkis untuk Indonesia Open (kanan). (sumber foto: detik.com)

Di sisi lain, ada kekhawatiran penonton bakal kurang ramai seperti saat Indonesia Open digelar di Istora Senayan. JCC tidak memiliki kapasitas kursi penonton yang sebanyak Istora Senayan, kendati panitia telah menambahkan tribun temporer bagi penonton. Harga sewa JCC yang lebih tinggi dibanding Istora Senayan juga ditengarai berdampak pada naiknya harga tiket yang dipatok oleh panitia. Dua hal ini bisa berpengaruh pada jumlah penonton yang datang menyaksikan langsung di arena.

Sebagian besar penonton yang sedang menahan lapar dan haus karena berpuasa juga bisa jadi tidak akan terlalu nekad berteriak-teriak dan menyanyikan yel-yel “IN-DO-NE-SIA” dengan penuh semangat sepanjang laga berlangsung. Hal ini memang salah satu konsekuensi yang logis dari pelaksanaan Indonesia Open di bulan Ramadhan. Sayangnya, panitia dari Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sejak awal memang tak bisa mengubah jadwal yang sudah ditentukan oleh BWF itu.

Penonton Indonesia Open tahun ini dikhawatirkan akan tidak semeriah tahun sebelumnya. (sumber foto: okezone.com)
Penonton Indonesia Open tahun ini dikhawatirkan akan tidak semeriah tahun sebelumnya. (sumber foto: okezone.com)

Meskipun berhadapan dengan berbagai tantangan tersebut, namun kita berharap agar Indonesia Open bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan sukses ganda bagi Indonesia: sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi. Yang disebut terakhir ini adalah yang teramat penting karena sudah dinantikan sejak lama. Pebulutangkis Merah-Putih kali ini tidak boleh lagi puasa gelar.

Indonesia terakhir kali merebut gelar jawara di Indonesia Open adalah pada tahun 2013 yaitu lewat pasangan ganda putra: Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan. Setelah itu dalam tiga tahun terakhir Indonesia harus gigit jari karena semua gelar diboyong ke negara lain seperti Tiongkok, Denmark, Korea, Jepang, Thailand, Malaysia dan Taiwan. Pada Indonesia Open di bulan puasa ini, Indonesia harus bisa menghentikan dahaga gelar yang sudah dirasakan oleh semua pemain dan pecinta bulutangkis Tanah Air.

Peluang terbaik bagi Indonesia untuk meraih gelar adalah di nomor ganda putra melalui Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Markus Fernaldi Gideon. Pasangan yang terkenal dengan gaya permainan yang cepat dan penuh dengan intensitas ini sedang dalam performa yang baik tahun ini. Sudah tiga gelar juara di level Super Series dan Super Series Premier yang dikoleksi mereka sejak Januari lalu yaitu di All England, India Open dan Malaysia Open. PBSI menargetkan satu gelar juara dapat disumbangkan oleh pemain yang sedang nyaman bertahta di peringkat 1 dunia ini.

Kevin/Marcus, andalan di ganda putra. (sumber foto: liputan6.com)
Kevin/Marcus, andalan di ganda putra. (sumber foto: liputan6.com)

Apabila kita melihat draw Indonesia Open 2017, langkah Kevin/Markus ke tangga juara penuh dengan tantangan. Di babak pertama, mereka dihadang oleh ganda putra enerjik dari Denmark, Kim Astrup dan Anders Skaarup. Jika mereka berhasil lolos, maka kemungkinan besar akan bertemu dengan peraih medali emas ganda putra di Olimpiade Rio 2016, Zhang Nan yang kali ini berpasangan dengan pemain muda, Liu Cheng. Ulangan final All England melawan Li Junhui dan Liu Yuchen dari Tiongkok bisa tersaji jika kedua pasangan mulus melangkah hingga semifinal.

Indonesia juga berharap bisa mendapat gelar dari nomor ganda campuran lewat Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir atau yang biasa dipanggil Owi/Butet. Pasangan veteran yang menggenggam medali emas di Olimpiade Rio 2016 itu punya keinginan kuat untuk bisa juara di Indonesia Open karena turnamen ini adalah salah satu kompetisi yang belum pernah dimenangi oleh mereka. Jika kondisi lutut Butet yang sempat cedera di akhir tahun lalu sudah kembali normal, maka peluang mereka untuk keluar sebagai kampiun di hari Minggu akan lebih besar.

Owi/Butet, andalan di ganda campuran. (sumber foto: Republika)
Owi/Butet, andalan di ganda campuran. (sumber foto: Republika)

Owi/Butet akan memulai perburuan gelar di Indonesia Open dengan melawan pasangan baru dari Korea, Kim Ha Na/Kim Duk Young. Lawan berat kemungkinan baru akan dijumpai di perempatfinal yaitu Zhang Nan/Li Yinhui dari Tiongkok yang menempati unggulan ketiga. Owi/Butet yang hanya diunggulkan di posisi enam karena peringkat dunianya yang turun dalam beberapa bulan terakhir ini diharapkan bisa menunjukkan performa yang luar biasa seperti saat mereka membalikkan semua prediksi orang untuk akhirnya menggondol medali emas di Olimpiade Rio 2016.

Mari kita ramai-ramai dukung para pemain Indonesia untuk bisa ‘berbuka puasa’ menyudahi dahaga gelar di Indonesia Open tahun ini. Dengan dukungan dan doa dari kita semua dan perjuangan pantang menyerah oleh para pemain, maka target setidaknya satu gelar kampiun bagi Indonesia semoga saja terwujud.

Jayalah Bulutangkis Indonesia!