Forlan Muda
Forlan Muda

Waktu ku adalah Menikmati Pahitnya Hidup | Dan Berharap Pada Tujuan ada Rasa Manis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Distorsi Kinerja Penegak Hukum

18 Juni 2017   10:59 Diperbarui: 29 Juni 2017   12:52 154 0 0
Distorsi Kinerja Penegak Hukum
pixabay.com

Setiap manusia membutuhkan rasa aman dalam segala hal. Rasa aman tentu diciptakan oleh diri sendiri untuk  mencegah  senjata  tajam yang  ditawarkan orang lain baik secara sengaja maupun tak sengaja.Meski kadang itu sulit untuk dihindari apabila keadaan mengadudomba pribadi seseorang  untuk mencapai kesuksesannya dalam  arena hidup yang tidak halal.Realitas kebisinganpribadiakan kebutuhan rasa aman ini sering mengungkapkan identitas sebagai nilai tertinggi dalam memukau penghargaan orang lain terkhusus masyarakat jelata ,walau ini telah divonis sebagai sebuah masalah yang serius.

Pemicu konflik atau actor tersangka tidak akan pernah hilang akal bila itu telah memaparkan keputusan, bahwa identitasnya merupakan kekuatan penggerak  yang terkontamasi searah dengan menyembunyikan konflik itu  sendiri.Ini salah satu dimensi peribadi yang secara khusus jatuh dalam kenikmatan duniawi.Kenikmatan itu akan tercatatjelas jika kesuksesan dihantui kebahagian semu.

Misalnya realitas pengungkapan kebenaran ditengah kebisuaan konflik  yang sudah dikuburkan.Apbila diungkapkan kembali seorang saksi  yang mana Penegak Hukum pernah bahkan sudah termetabolisme dalam kejahatan yang sama.

Penegak Hukum yang menjadi kekuatan public malahan disoroti sebagai pemicu kemorosotan Instiusinya yang seakan-akan meniadakan visi dan misi Institusinya sendiri.Tidak heran kalau masyarakat merasa diracuni dengan ketidadilan  yang imbasnya adalah masyarakat harus menutup mulut untuk berkomentar.Karena jika dibongkar maka akan menampilkan lukisan  yang  tidak berkualitas bagi nama-nama Institusi seluruh Penegak Hukum dan masyarakat dijadikan persangka sebab telah melecehkan nama baik Institusi tersebut.

Kamuflasedalamprasangka

Menjadi pertanyaan,dimanaletaksuatukebenarantanpamenilai  kedudukan yang dijadikankamuflasedalamperjalananHukumselanjutnya?Menjawab pertanyaan ini membutuhkan renovasi prestise akan substansi Institusi Hukum terhadap oknum-oknumnya itu sendiri.Tentu ini butuh wakktu  yang cukup panjang  karena telah berakar segala ketidakadilan ini dimata masyarakat.Dan jika ini sulit untuk diungkapkan maka sudah nyata ada kerjasama  yang  secara tidak langsung oknum-oknum Penegak Hukum demi memulihkan nama baik Institusinya.Lebih menyakitkan pemulihan itu dilakukan dengan melontarkan  kata ‘’maaf’’,atau berbagai alasan dengan berjalan bisu untuk tanpa kelanjutan  yang meyakinkan masyarakat.Apa  yang  terjadi kemudian nanti? Semakin  rumit  kebenaran  ditemukan tentu semakin terisolasinya kejahatan/ ketidakadilan mengenai kinerja kerja oknum-oknum Hukum  yang  tidak berprinsip akan harapan masyarakat.Fakta ini mengguncang keamanan dan keadilan  yang diimpikan masyarakat karena masyarakat sadar bahwa mereka diadili sesuai Hukum sedangkan Penegak Hukum  yang  terlibat kejahatan hanya bersembunyi untuk menetralkan situasi  yang menimpa eksistensinya.

Dari  itu, pengakuan hak untuk mendapat keamanan dan keadilan diragukan sebab kejujuran ditanggalkan.Kejujuran yang  menjadi poin utama  yang mencerminkan keutamaan dalam keadilan sudah pergi ,melepaskan diri dari cita-cita pemerintah dalam menghargai kedaulatan bangsa.Kualitas bangsa semakin tenggelam .Mungkin bagaikan actor ketidakadilan dibalik layar pementasan  drama kehidupan yang  sebenarnya.Bangsa-bangsa lain akan menilai bangsa ini sebagai makhluk  yang tidak ber-TUHAN  tapi ber-tuan.Tuan untuk katidakjujuran  yang  melahirkan generasi-generasi baru yang telah tidak berkualitas tetapi munafik  yang  bermental instan.Mental instan yang terjalin meluas hingga merambat kesudut-sudut menciptakan manusia  yang terperangkap pada pembatasan pendapat dan terisolasi dalam mengambil tindakan membela  kebenaran.

Refenemen Kinerja Instistusi  Hukum

Mencapai suatu kepuasan perlu refenemen kinerja Institusi  Hukum yaitu ketegasan akan kejujuran dan keterbukaan seharusnya dimiliki oleh Pimpinan Institusi Penegak Hukum dalam pembangunan kembali citra kerja oknum-oknum Hukum.Apabila ini sejalan apa yang diharapkan publik,alhasil dapat memuaskan persepsi publik yang selama ini negatif.Sebab publik selalu mengklaim kebenaran yang tegas dan itu harus dilihat dengan mata kepala publik sendiri.Sehingga perlu diketahui bahwa suatu bangsa akan dikatakan manusiawi bila Bangsa itu mampu memanusikan Bangsanya dengan menghargai setiap indivdu didepan Hukum dengan adil yang bermartabat.

My Blog