Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami Artikel Utama

Cerpen | Surat-surat yang Bertebaran di Langit

9 Juni 2018   06:00 Diperbarui: 10 Juni 2018   04:42 2640 12 7
Cerpen | Surat-surat yang Bertebaran di Langit
Ilustrasi (Pixabay)

Di setiap bulan Ramadan tak terhitung banyaknya surat yang dikirim menuju langit. Surat-surat itu bertumpuk, tumpang tindih di gudang kantor pos langit. Para malaikat yang bertugas sibuk menyortir surat-surat itu. Memilih dan memilah surat-surat mana yang dianggap terbaik dan bersifat  emergency  untuk kemudian siap dihantarkan ke hadapan Allah.

Surat-surat yang dikirim dari bumi itu berupa lembaran-lembaran putih yang berisi doa-doa, yang dikemas dengan tampilan begitu menawan. Dipersembahkan dengan bahasa yang santun lagi indah. Sebagai bentuk pengharapan bagi pengirimnya agar suratnya sampai dengan selamat dan termasuk kategori surat yang segera diijabahi oleh Allah.

Seperti malam itu, ketika memasuki bulan Ramadan di hari-hari terakhir, sebuah surat melayang-layang ringan di angkasa. Surat itu dikirim oleh seorang bocah. Yang ditulis dengan bahasa bocah. Dikemas dalam amplop yang sesuai dengan ciri khas bocah.

Sumber:fyersrights.org
Sumber:fyersrights.org

Meski ditulis oleh tangan seorang bocah, surat itu tetap sampai dengan selamat di gudang kantor pos langit. Para malaikat melihatnya. Lalu beramai-ramai memungutnya.

Salah seorang malaikat bahkan membaca dengan lantang isi surat itu.

-------

Kepada Tuhanku, Allah  yang Tersayang

Sebelumnya perkenalkan namaku Ajeng. Usiaku 8 tahun. Aku baru saja menerima rapot kenaikan kelas. Alhamdulillah. Nilaiku bagus-bagus. Ayah dan Ibuku ikut senang.

Tapi Tuhan, Ajeng tadi sore merasa sedih. Ketika tidak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Ibu di ruang tengah. Ayah mengatakan bahwa kontrak kerjanya sebagai buruh pabrik telah habis. Itu berarti Ayah kehilangan pekerjaan. Padahal sebentar lagi lebaran tiba. Tahu sendiri, kan, Tuhan? Di jelang lebaran apa-apa dijual sangat mahal.

Lalu kulihat Ibuku tertunduk. Tapi Ibu tidak menangis. Sebab Ibu memang sudah terbiasa dengan kehidupan kami yang miskin. Ibu cuma berbisik pelan, meminta kepada Ayah untuk lebih menjaga sabar.

Tuhanku yang Maha Baik.

Bisakah aku minta sesuatu?

Di hari lebaran nanti, beri rezeki kepada kedua orang tuaku. Agar bisa membelikan aku mukena baru. Sebab mukenaku yang lama sudah bertambal sulam.

Cuma itu saja permintaanku, Tuhan. 

NB: Oh, ya. Aku minta mukena baru supaya tidak malu lagi ketika sholat di hadapanMu.

Dari Ajeng

Siswa kelas 2 SD

-----

Para malaikat saling berpandangan. Lalu salah satu di antaranya berkata, "Bagaimana kalau surat ini kita jatuhkan lagi ke bumi?"

"Apakah itu tandanya kita menolak surat bocah itu?" salah satu malaikat menimpali.

"Bukan. Bukan begitu. Surat ini kita kirimkan kepada seorang pengusaha busana muslim. Yang kebetulan tempat tinggalnya tidak seberapa jauh dari bocah bernama Ajeng itu."

"Aku setuju!"

Lalu surat kecil itu kembali melayang. Jatuh tepat di hati seorang perempuan usia baya, yang baru saja melakukan sholat tahajud di sepertiga malam.

Hati pengusaha pakaian itu bergetar. Tiba-tiba saja tergerak ingin bersedekah.

Maka pagi itu, tanpa menunda-nunda waktu, usai Sholat Subuh diperintahkannya anak buahnya, para pegawai toko untuk mengemas beberapa busana muslim ukuran anak-anak.

"Akan diantar kemana barang-barang ini, Bu?" salah seorang pegawainya bertanya.

"Kirim ke pemukiman di sekitar Daerah Aliran Sungai Brantas. Kemarin sore ketika melintas di sana, aku melihat sekelompok bocah pergi ke Mushola mengenakan mukena yang sudah lusuh. Bahkan ada yang sudah bertambal sulam."

Dan sore itu, saat azan Magrib berkumandang, dengan mengenakan mukena baru Ajeng berlari-lari kecil menuju Mushola yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Bocah kelas 2 SD itu ingin segera berdoa, ingin mengirim surat lagi kepada Tuhan.

Kali ini surat yang dikirimnya isinya begitu singkat.

---

Kepada Tuhanku, Allah yang Maha Mendengar

Maafkan Ajeng. Di surat yang kemarin, Ajeng lupa mengucapkan terima kasih...


***

Malang, 09 Juni 2018

Lilik Fatimah Azzahra