Lilik Fatimah Azzahra
Lilik Fatimah Azzahra Wiraswasta

Seorang ibu yang suka membaca dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami Artikel Utama

Cerpen | Misteri Tuan Marbot

6 Juni 2018   16:11 Diperbarui: 6 Juni 2018   18:37 2541 11 9
Cerpen | Misteri Tuan Marbot
Sumber: Akun Pinterest Sheikh Saleem

Ia masih muda. Tampan. Berkulit putih bersih. Tatap matanya bening. Tutur katanya lembut dan pembawaannya kalem.

Sebagai ciptaan Tuhan kukira ia adalah mahluk paling sempurna tiada bercela.

Siapakah dia? Entahlah. Tak ada satupun yang tahu dari mana dia berasal. Dia datang begitu saja. Mengaku sebagai musafir yang butuh tempat tinggal untuk berteduh sementara.

Adalah Ayahku, Haji Rahman, yang belakangan ingin memugar surau tua di samping rumah kami. Surau yang sudah lama tidak terurus. Terbengkalai. Walau sebenarnya surau itu sudah diwakafkan kepada penduduk setempat. Tapi tidak ada yang peduli.

Kondisi surau amat memprihatinkan. Kayu kusennya sudah lapuk digerogoti rayap. Langit-langitnya nyaris ambruk. Dindingnya lembab berjamur.

Kehadiran pemuda asing itu tentu sedikit banyak mencerahkan hati Ayah. Paling tidak pria sepuh itu memiliki teman berbincang yang bisa diajaknya berdiskusi merencanakan pemugaran yang sudah lama diinginkannya.

Meski kehadirannya yang tiba-tiba tak pelak menimbulkan tanda tanya bagi tetangga sekitar. Banyak yang sengaja datang ke rumah untuk bertanya langsung kepada Abah---begitu aku memanggil ayahku, tentang siapa sosok tampan yang misterius itu.

Biasanya Abah akan memberi jawaban singkat saja, "Ia utusan Gusti Allah yang akan menemani dan membantuku membereskan surau yang terbengkalai ini."

Sebagian tetangga cukup puas dengan jawaban Abah. Tapi tak jarang yang berkerut kening. Bahkan meminta Abah untuk berhati-hati.

"Sekarang musim teroris berkeliaran, Wak Haji. Ingat peristiwa beberapa tahun lalu? Sebaiknya kita waspada menerima kedatangan orang asing," salah seorang tetangga kami mengingatkan Abah.

"Terima kasih sudah di-eling-kan. Tapi aku yakin Bilal sosok yang baik. Kalau pun ia berniat tidak baik, semoga tinggal bersamaku ia berubah menjadi baik," Abah menyahut bijak.

Ya, Abah memanggil pemuda itu Bilal. Entah siapa nama sesungguhnya.

Bilal menempati kamar kecil yang berada tepat di samping kiri surau. Ia dipercaya oleh Abah sebagai marbot. Diserahi kunci sekaligus diberi wewenang membenahi surau yang sudah lama tidak dipergunakan. 

Di hari pertama yang dia lakukan adalah mengeluarkan semua tikar dan sajadah. Dijemurnya benda-benda itu di depan surau. Lalu mengecat dinding ruangan yang semula berwarna abu-abu menjadi putih bersih. 

Setelah menyapu dan membersihkan debu yang melekat pada kitab-kitab tua termasuk Kitab Suci Al Quran, ia mengganti lampu ruangan dengan bohlam berukuran besar yang sinarnya jauh lebih terang dari lampu sebelumnya.

Di hari-hari berikutnya ia membenahi kusen. Sebagian ditambalnya dengan semen. Sebagian lagi yang tidak tertolong ia ganti dengan ruas kayu yang menumpuk di samping surau.

Dalam kurun waktu satu minggu, wajah surau sudah berubah total. Bersih, rapi dan menyenangkan.

Jelang sore hari, di mana untuk pertama kali surau bisa ditempati, kami melaksanakan Sholat Asar berjamaah. Abah menjadi Imam. Sementara aku dan Bilal menjadi makmum. Tentu saja tempat kami terpisah. Ada sekat terbuat dari kain gorden berwarna putih yang membatasi kami.

Oh, ya. Abah juga meminta Bilal untuk memasang kembali  loudspeaker  yang sudah lama tidak terpakai, yang beberapa kabelnya sudah putus digerogoti tikus.

Anehnya, lagi-lagi di tangan Bilal benda itu bisa dipergunakan lagi.

Suatu Subuh aku terbangun dari tidur lelapku. Suara azan terdengar merdu mengalun dari surau. Itu pasti suara pemuda asing itu. Sungguh, Abah tidak salah memanggilnya Bilal. Ia memang memiliki suara yang sangat indah seperti kisah muazin di zaman Rasulullah.

Tidak ingin tertinggal sholat berjamaah, gegas aku beranjak dari tempat tidur. Meraih hijabku yang tercecer di atas meja. Lalu berjalan tergesa menuju pancuran untuk mengambil air wudhu.

Baru saja hendak melangkah memasuki pintu teras surau, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara hiruk pikuk. Serombongan orang datang berbondong-bondong ingin masuk ke dalam surau.

"Sungguh aneh. Tiba-tiba saja terdengar suara azan dari sini. Dan surau tua ini... wow, terang benderang. Entah siapa yang telah berbaik hati membenahinya," salah seorang dari mereka berseru kagum.

Aku menghentikan langkah. Menatap bingung ke arah orang-orang kampung itu.

Sampai Abah menyentuh pundakku.

"Lis, kau lupa menceritakan siapa diri kita."

Oh, ya, Abah benar.

Aku baru tersadar. Sejak awal aku lupa menceritakan siapa sesungguhnya diri kami. Sebab aku terlalu fokus pada kehadiran pemuda asing yang mengaku dirinya sebagai musafir itu.

Baiklah. Kuperkenalkan. Namaku Lilis. Aku dan Abah sebenarnya sudah mati. Kami menjadi korban ledakan bom beberapa tahun silam yang dilakukan oleh seorang pemuda tak dikenal. Tubuh dan rumah kami hancur lebur. Satu-satunya yang terselamatkan hanya surau tua itu.

Dan yang mengajak Abah bercakap-cakap di awal-awal kisah ini, mereka adalah para korban yang senasib dengan kami.

Tentang pemuda tampan yang kami panggil dengan nama Bilal itu, entah siapa dia. 

Yang pasti ketika orang-orang kampung datang berbondong-bondong hendak melaksanakan Sholat Subuh, ia mendadak raib entah ke mana.

***

Malang, 06 Juni 2018

Lilik Fatimah Azzahra