Politik Pilihan

Reshuffle Kabinet, Selagi Semar Masih Tertawa Mengapa Tidak?

2 Juli 2017   21:03 Diperbarui: 2 Juli 2017   21:19 2193 4 1
Reshuffle Kabinet, Selagi Semar Masih Tertawa Mengapa Tidak?
Tokoh Semar Tertawa. Foto diambil di Museum Pewayangan Kota Tua Jakarta (Dokumen Pribadi)

Reshuffle Kabinet, Selagi Semar Masih Tertawa Mengapa Tidak?

Pascalebaran, isu perombakan kabinet atau reshuffle menguat lagi.  Semar pun tertawa. Dan ia memang tak pernah berhenti dalam berbagai lakon melepaskan tawa. Mulai era yang dikenal Walisongo dengan peran Sunan Kalijaga hingga masa republik ini memasuki Kabinet Kerja.

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo. Ia tergolong dekat dengan umat Muslim di Pulau Jawa. Pengaruhnya luas dalam penyebaran Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.

Kalijaga memanfaatkan kearifan lokal, salah satunya wayang sebagai sarana penyebaran Islam. Tentu saja di dalamnya dimainkan peran tokoh semar. Dan jika dikaitkan dengan kondisi kini, peran tokoh Semar memang tak berubah. Dalam penampilannya, ia selalu menebar senyum dan tawa.

Dan selagi Semar masih tertawa, pemegang hak prerogatif Presiden Joko Widodo tidak perlu khawatir memilih para pembantunya dalam kabinet Kerja.

Loh, kok bisa demikian?

Ya, sebabnya putera-puteri terbaik banyak bertebaran di Bumi Nusantara. Sayangnya, hingga kini Jokowi belum juga menjelaskan secara tegas kapan waktunya perombakan kabinet dilakukan. Cuma, ancer-ancer pascalebaran.

Terkait dengan reshuffle, sikap konsisten presiden diperlihatkan tatkala menjelang perombakan kabinet kerja jilid satu dan dua. Ia pada setiap kesempatan tatkala dimintai penjelasan prihal reshuffle selalu mengemukakan alasan bahwa dirinya tidak berhenti mengevaluasi kinerja para menterinya.

Kalimat dari Presiden yang kini sering melepas senyum dan tawa itu bisa jadi dapat dimaknai sebagai bahwa reshuffle pasti terjadi. Lagi-lagi, kapan pelaksanaannya? Lantas, apa pula kaitan reshuffle dengan Semar tertawa. Ini yang perlu didalami.

Punakawan dan peran semar dalam berbagai lakon (Dokumen Pribadi)
Punakawan dan peran semar dalam berbagai lakon (Dokumen Pribadi)

Dalam dunia persilatan, eh salah, masuksudnya pewayangan, Semar menjadi salah satu anggota punakawan. Para orang tua, terutama dari etnis Jawa dan Sunda - dan mungkin etnis lainnya di Tanah Air - akan mengenal siapa sejatinya anggota punakawan itu terdiri dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Di era digital dan dunia maya sekarang ini, sangat sulit bagi saya yang tak paham tentang dunia pewayangan, mengapa peran punakawan itu dapat mengocak perut penonton dengan banyolannya yang disampaikan sang dalang. 

Dalang selalu memerankan Semar dan anggota punakawan untuk menarik penonton tetap fokus pada alur cerita dengan humor dan nasihatnya. Mengapa tidak menggunakan Bima, Gatot Kaca atau Arjuna yang ganteng untuk mengocak perut penonton? Entah lah.

Realitas ini berlaku pada dalang yang membawakan dengan Bahasa Sunda, Jawa dan bahkan Betawi sekalipun.

Tetapi yang jelas sang dalang - dalam suatu pementasan - selalu memerankan Semar sebagai penyampai nasihat untuk para petinggi pada zaman di negeri entah berantah yang disebut dalang dalam ceritanya.

Saya tak paham tentang pewayangan. Namun, sangat tertarik dengan ketokohan peran Semar. Tokoh ini sering terlibat dan dilibatkan dengan alasan yang masih perlu pendalam lebih lanjut. Tetapi realitasnya, dalam zaman modern ini, sosok Semar dipersepsikan yang memiliki "kelebihan" meski itu sebatas gambar atau dalam bentuk koin. Bahkan, bentuknya dikemas dalam sebuah kaligrafi dan dijadikan hiasan dinding rumah.

Di sebagian kalangan masyarakat awam ada yang menjadikan koin Semar sebagai “jimat” dengan alasan memiliki kekuatan magis. Mitos atau sungguhankah?

Saya bersyukur dapat penjelasan tentang sosok Semar ini. Dari sebuah laman Wong Jowo, dijelaskan bahwa di kalangan masyarakat Jawa tokoh wayang Semar dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi juga bersifat mitologi dan simbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual.

Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa. Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya. Bebadra sama dengan membangun sarana dari dasar. Naya sama dengan Nayaka yang berarti pula sama dengan Utusan mangrasul. Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Dari penjelasan singkat itu, maka dianalogikan bahwa presiden kita, Presiden Joko Widodo, sadar atau pun tidak kini tengah memperhitungkan posisi-posisi mana saja dari setiap kementerian yang perlu dilakukan perombakan. Evaluasi, seperti dikemukakan Jokowi sendiri, dilakukan setiap saat. Tetapi sejatinya lebih dari itu, kini ia tengah mendengarkan masukan dari para pembantunya. Bukan seperti pembantu biasa, tetapi ia adalah tokoh yang dipandang memiliki karomah.

Foto, kaligrafihurufarab.wordpress.com
Foto, kaligrafihurufarab.wordpress.com

Menghadapi reshuffle, di beberapa kementerian kini sudah berhembus isu, si A diunggulkan menjabat menteri Anu.

Sikap kehati-hatian Jokowi dalam merombak kabinet memang perlu dikedepankan. Jelas, itu dilakukan bukan semata untuk membagi kue kekuasaan. Tetapi demi kemajuan bangsa. Siapa pun yang akan duduk di Kabinet Kerja bukan bikin gaduh negeri, tetapi menjadi solusi dari persoalan bangsa dan memacu pembangunan guna mensejahterakan rakyat negeri.

Ki Semar dalam sebuah lamannya mengutip kata-kata mutiara dari Bapak Proklamator, Bung Karno, sebagai pengingat dan penyemangat anak bangsa, yaitu:

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno) 

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

Karena itu, selagi Semar masih tertawa, perombakan kabinet jangan ditabukan di negeri ini.