Thrkompasiana Pilihan

Sempatkanlah ke Gedung Bayt Al Quran dan Museum Istiqlal

16 Mei 2019   07:10 Diperbarui: 16 Mei 2019   14:08 61 12 3
Sempatkanlah ke Gedung Bayt Al Quran dan Museum Istiqlal
Gedung Bayt Alquran. Foto | Dokpri


Sepi. Begitu kesan penulis ketika berkunjung ke Gedung Bayt Alquran dan Museum Istiqlal. Tak banyak orang lalu lalang. Padahal di gedung ini banyak memamerkan Alquran dari ukuran besar hingga mungil. Kitab suci di sini selain memiliki kesan antik, unik juga punya nilai sejarah bagi perkembangan Islam di Nusantara.

Lokasinya mudah ditemui. Tepatnya terletak Jalan Raya TMII I, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Kota Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta. Jika Anda masuk dan setelah membayar karcis di pintu utama TMII, tinggal memutar ke arah kanan. Gedung ini memang berada di barisan terdepan, tak jauh dari tugu TMII. Begitu masuk, dari arah pintu, tengok ke kanan sudah nampak bangunannya.

Foto | Dokpri
Foto | Dokpri

Entah apa Gedung Bayt Alquran itu kurang diminati. Padahal, dari sisi tampilan cukup menawan. Kekurangannya, ya pandangan penulis, tak nampak pemandu yang siap menjelaskan satu per satu dari keunggulan Alquran yang diletakan di beberapa tempat.

Karya-karya unggulan para ulama dan intelektual muslim Nusantara sejak abad ke-17 sampai ke-20 yang bernilai historis dapat disaksikan disini. Warisan budaya berupa musyaf, manuskrip Al-Qur'an, arsitektur, seni rupa Islami yang memiliki keindahan seni juga tersimpan. Bayt Al-Qur'an dan museum Istiqlal, memang menghadirkan pesona untuk direnungkan.

Ruang pamer Bayt Alqu'an menghadirkan beragam seni mushaf dari dalam dan luar negeri, seperti mushaf istiqlal yang menjadi primadona pada festival Istiqlal tahun 1995, Mushaf Wonosobo yang merupakan terbesar, hasil karya dua orang santri asal pondok pesantren Al-Asy'ariah, Wonosobo, Jawa Tengah, Mushaf Sundawi yang menampilkan iluminasi ragam hias khas Jawa Barat, dan mushaf Malaysia yang menampilkan ragam hias khas Malaysia.

Ditampilkan pula Alquran standar Kementerian Agama, Alquran biasa dan braille untuk umat Islam tunanetra. Disajikan juga Alquran interaktif dalam bentuk perangkat lunak (software) komputer yang dapat dioperasikan secara digital seperti program-program komputer lainnya.

Ruang peraga museum Istiqlal menyimpan dan menampilkan benda-benda budaya yang telah berabad-abad usianya, menembus peradaban suku, bahasa, daerah dan adat-istiadat di Indonesia.

Kejayaan historis masa lalu dan masa kini berbaur dalam suatu peristiwa. Manuskrip Alquran, benda-benda tradisi dan warisan, arsitek, seni rupa kontemporer, serta benda Islami lainnya, semua tersimpan disini, sebagai hasil implementasi dan aplikasi budaya yang bersumber dari Alquran.

Bangunan ini memiliki 4 lantai dengan lingkungan yang jauh dari polusi. Selain itu, tempat ini juga memiliki fasilitas ruangan yang lengkap seperti ruang serba guna (main hall), auditorium, audio visual, ruang kelas, pameran, balkon, dan lain-lain. Semua itu dapat digunakan untuk mengadakan kegiatan seperti seminar, pertunjukan, pameran, perlombaan, forum ilmiah, syukuran, dan lain-lain.

Sejatinya gagasan membangun Gedung Bayt Alquran dimaksudkan sebagai sarana edukasi tentang beragam koleksi mushaf Alquran. Menteri Agama (Tarmizi Taher) seusai  Festival Istiqlal mendapat pertanyaan terkait penyimpanan Alquran terbesar.

Jawabannya, secara spontan, Bayt Alquran. Lantas, dicarilah lokasi di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII).  TMII merupakan gagasan awal almarhumah Ibu Tien Soeharto. Bersamaan itu pula, dibangunlah Museum Istiqlal (1994) yang menyajikan beragam khazanah Islami, baik tradisional maupun kontemporer. Jadi, ada dua gedung yang menjadi satu kesatuan. Disebut demikian karena ada 'dua dunia' saling melengkapi.

Hadirnya Bayt Alquran dan Museum Istiqlal diharapkan dapat memberikan informasi pendidikan tentang berbagai dimensi kultural Islam. Karena itu, melalui Bayt Alquran dan Museum Istiqlal tidak hanya dituntut untuk mampu menangkap berbagai informasi budaya pada level nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Foto | Mutiarailmu
Foto | Mutiarailmu

Dari catatan yang diperoleh, bangunan tersebut  berdiri di atas tanah wakaf almarhumah Ibu Tien Soeharto, seluas 20.013 meter persegi dengan luas bangunan 20.402 meter persegi. Sesuai rencana, Bayt Alquran dan Museum Istiqlal dibangun sebagai pusat kebudayaan bertaraf internasional, yang mempresentasikan bukan saja khazanah budaya Islam Nusantara, tetapi juga menampilkan khazanah kebudayaan Islam berbagai belahan dunia dengan latar belakang sejarah sosial dan budayanya masing-masing.

Mengapa disebut Bayt Alquran dan Museum Istiqlal?

Alasannya antara lain: Bayt Alquran (Rumah Al-Qur'an) disepakati sebagai pengganti istilah Museum Alquran. Hal itu untuk menghindarkan kekeliruan persepsi sebagian orang yang memahami arti dan makna museum yang sering dikonotasikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kuno dan lapuk. Sebutan Bayt Alquran juga terdengar lebih religius.

Sedangkan nama Museum Istiqlal merupakan kelanjutan dari Festival Istiqlal I tahun 1991 dan Festival Istiqlal II tahun 1995. Istiqlal menurut bahasa Arab berarti proklamasi. Jadi maknanya adalah proklamasi umat Islam Indonesia untuk mempersembahkan karya budayanya kepada seluruh umat manusia.

Dua bangunan ini memberikan makna bahwa Bayt Alquran menggambarkan fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia (Rahmatan lil 'alamin: rahmat bagi semesta alam). Sedangkan Museum Istiqlal menjadi wujud nyata dari hasil pelaksanaan petunjuk Allah dalam kehidupan dan budaya umat Islam Indonesia. 

Karenanya, sempatkanlah berwisata ke gedung ini. Mumpung masih bulan Ramadan. Sungguh tepat pada bulan suci ini mereguk inspirasi melalui wisata relejius di Gedung Bayt Alquran.

Selamat jalani puasa Ramadan.


Sumber bacaan satu dan dua