Edi Santoso
Edi Santoso

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Jenderal Soedirman.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Mengingat Kembali Pelajaran Ramadhan

15 Juni 2018   21:24 Diperbarui: 15 Juni 2018   21:27 879 0 0

Hari ini, satu syawal, kegembiraan kita membuncah, seiring gegapnya suara takbir yang dilantunkan jutaan Muslim. Kita memang layak bergembira, karena terus menjaga harapan bahwa Allah telah menerima amal-amal kita. Karena Allah telah berjanji, akan memberi ampunan melalui puasa kita, sholat malam kita, atau ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan.

Inilah hari, sebagaimana dikatakan para ulama salaf sebagai momen fitri, di mana suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.

Az Zuhri mengatakan, "Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan, tempat pelaksanaan shalat 'ied. Allah akan menyaksikan mereka, dan mengatakan, "Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku."

Sungguh, Ramadhan adalah bulan ampunan, sampai-sampai ulama seperti Qatadah rahimahullah mengatakan, "Siapa saja yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, maka sungguh di hari lain ia pun akan sulit diampuni."

Tapi kesedihan juga hadir, mengikuti takbir-takbir yang perlahan hilang di angkasa, karena menjadi penanda bahwa Ramadhan telah pergi. Begitulah yang dirasakan para Sahabat dan ulama salaf, betapa dada mereka sesak ketika melepas perginya bulan suci ini. Karena, Ramadhan belum tentu kembali, sementara barakah dan ampunan yang dibawanya juga belum tentu sudah melimpah padanya.

Ketika dikatakan kepada mereka, bukankah ini hari kebahagiaan? Mereka menjawab, "Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak."

Pelajaran dari sikap para pendahulu kita itu adalah pentingnya menjaga perasaan harap dan cemas (khouf wa roja). Di satu sisi, tetap menjaga optimisme bahwa Allah akan memberikan ampunan dan pahala. Di sisi lain, tetap khawatir, jangan-jangan amal-amal kita tertolak. Optimisme akan memberikan kebahagiaan dan semangat, sedangkan kekhawatiran akan membuat kita waspada dan berhati-hati....

Dengan segala perasaan kita dalam melepas Ramadhan itu, sikap paling rasional dan bijak adalah mengingat-ingat kembali pelajaran yang telah diberikannya kepada kita, untuk kemudian kita ikhtiarkan menjadi bagian dari sikap kita, karena itulah makna kehadiran Ramadhan sebagai bulan pendidikan (syahrut tarbiyah).

Pertama, Ramadhan mengajarkan kita makna ikhlas. Puasa adalah ibadah istimewa, di mana terjadi hubungan khusus antara hamba dan penciptanya. Kata Ibnu Hajar rahimahullah, "Bahwa puasa tidak terjadi di dalamnya riya' sebagaimana terjadi pada selainnya." Menjadikan ibadah semata karena Allah, itulah ikhlas. Maka, Allah swt memberi ganjaran istimewa bagi mereka yang berpuasa. Dalam salah satu hadist, Rasulullah saw bersabda:

"Setiap amalan anak Adam dilipatkan, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh lipat sampai tujuhratus kali lipat, Allah Azza wa Jalla berfirman: Kecuali puasa, karena sesuangguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku Yang akan mengganjarnya, (karena) ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku."

Kedua, Ramadhan mengajarkan kita makna dari kata 'cukup'. Puasa membatasi kita untuk mengkonsumsi makan dan minuman, meskipun itu milik kita sendiri. Makan tiga kali, menjadi dua kali. Faktanya, kita tidak bermasalah secara kesehatan, bahkan menurut berbagai studi, puasa menjadikan orang lebih sehat. Pembatasan bukan mencelakakan, tetapi justru menyehatkan. 

Ternyata, yang kita butuhkan jauh lebih sedikit dari yang kita bayangkan. Selama ini, yang kita penuhi adalah keinginan, yang sayangnya tak punya batas. Keinginan satu akan bersambung dengan keinginan yang lain, kemudian yang lain lagi, begitu seterusnya. Inilah kunci sulitnya seseorang bersyukur. Dengan mengambil apa yang kita butuhkan, kita akan merasa betapa Allah telah memberikan segala kemelimpahan.

Nabi saw bersabda, "Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak."

Ketiga, Ramadhan mengajarkan makna pengendalian. Puasa Ramadhan tak hanya soal menghindarkan dari hal yang membatalkan, tetapi menjaga keutamaan. Itulah yang disebut Imam al Ghozali sebagai shiyam bathiniyah, di mana orang bisa mengendalikan seluruh bagian tubuhnya. Lisan kita misalnya, bisa menjadikan puasa kita tak berarti manakali yang keluar darinya adalah fitnah, adu domba, caci maki, atau kebohongan. Hari-hari ini, bangsa kita hendak dipecah, diadu domba, lewat persengketaan yang dihembuskan melalui ujaran kebencian dan berita bohong (hoaks) di berbagai media sosial. Dari Ramadhan, diingatkan kembali agar lisan kita lurus, perkataan kita benar.

Allah swt berfirman dalam Qur'an surat al Ahzab, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar."

Keempat, Ramadhan mengajarkan kita makna solidaritas. Melalui puasa kita belajar untuk berempati, merasakan beratnya mereka yang tak selalu mendapati makanan setiap harinya. Budaya berbagi yang menguat saat Ramadhan menyadarkan kita, bahwa kita, orang-orang mukmin adalah saudara. Ibarat satu tubuh, derita mereka adalah derita kita juga. Seperi yang disabdakan Nabi saw, "Orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan kelemahlembutan mereka umpama satu tubuh, jika satu anggota tubuhnya mengeluh sakit, maka sekujur tubuhnya akan ikut merasakan sakit."

Persaudaraan ini tak bisa dibatasi oleh garis-garis kenegaraan atau kebangsaan, apalagi ras atau suku. Hari ini, ketika kita bergembira dengan makanan beraneka rupa atau pakaian baru, mungkin saudara kita di Palestina, di Syiria, Rohingnya, dan negeri-negeri berkonflik lainnya dalam kondisi sebaliknya. Maka, di tengah kegembiraan ini, sisakan empati untuk mereka. Setidaknya, jangan pernah lupa untuk mengirimkan doa untuk mereka.

Pada akhirnya semua pelajaran hanya mungkin terbangun dengan fondasi spritual yang memadai. Itulah rahasia segala amaliah Ramadhan yang semestinya telah kita ikuti, mulai dari puasa, sholawat tarawih, tilawah Qur'an, hingga i'tikaf. Pelatihan selama satu bulan penuh, menurut para pakar pendidikan, adalah periode yang cukup untuk membentuk kebiasaan, atau setidaknya akan memudahkan bagi kita untuk melanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Maka, langkah nyata dan mulia untuk melepas perginya Ramadhan adalah tekad untuk menjadikan bulan-bulan selanjutnya laksana Ramadhan, baik dari sisi ritual ataupun semangatnya. ***