diyah wara
diyah wara Freelancer Writer

lulusan antropologi

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Celepuk Indonesia yang kian Menyusut

3 Juni 2017   21:16 Diperbarui: 3 Juni 2017   21:41 190 0 0

Setiap tanggal 22 Mei, kita memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia (The International Day for Biological Diversity). Hari tersebut diperingati pertama kali pada tanggal 29 Desember 1993 berdasarkan penetapan Komite Kedua Majelis Umum PBB pada tahun 1993. Tanggal ini bertepatan dengan pelaksanaan Konvensi Tentang Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity /COP).

Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2013, Indonesia memiliki luas wilayah 1,3 % dari luas permukaan bumi dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi (mega biodiversity), yaitu sekitar 17 % dari keseluruhan jenis makhluk hidup yang ada di bumi ini. Tercatat ada kurang lebih 28.000 jenis tumbuh-tumbuhan dengan 7.500 jenis tanaman obat, artinya 10% dari jumlah tumbuhan obat di dunia ada di Indonesia.  yang mana 10 % dari jumlah tumbuhan obat yang ada di dunia. Data WWF menunjukkan 1994-2007 ada lebih dari 400 species baru di dunia sains berada di hutan Pulau Kalimantan.

Sayangnya, jumlah keanekaragaman hayati di Indonesia belumlah terdata seluruhnya. Contohnya burung hantu atau celepuk atau kukuk beluk. Berapa banyak jenis celepuk di Indonesia atau khas Indonesia, dan tersebar dimana saja, serta berapa jumlahnya sekarang ini, belumlah menjadi perhatian pemerintah Indonesia ataupun para pemerhati lingkungan. Padahal, celepuk merupakan hewan predator yang menjaga ekosistem lingkungan hidup. Makanan utama celepuk yaitu tikus, dengan adanya celepuk, jumlah tikus yang seringkali menjadi hama bagi para petani, dapat terkendali.

Jumlah celepuk diduga mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan yang masih marak terjadi di bumi nusantara ini. Habitat alami celepuk di hutan-hutan, baik hutan tropis maupun hutan rawa dan perkebunan, semakin lama semakin berkurang. Ditambah dengan adanya mitos-mitos seram mengenai celepuk, yang dianggap dengan kematian, hal-hal magis atau gaib, ataupun kuburan, membuat keberlangsungan celepuk kurang mendapat perhatian dari masyarakat.

Informasi dari salah satu media, di Sulawesi Selatan, akhir-akhir ini hama tikus semakin sering merusak hasil pertanian, sehingga petani mengalami kerugian yang cukup besar.  Jumlah hama tikus ini dapat diatasi dengan membuat kandang-kandang untuk celepuk, terutama jenis Tyto Alba di daerah Jogjakarta. Hasilnya, hama tikus pun berkurang, hasil pertanian pun tidak mengalami kerugian.

Karena itu, di peringatan hari keanekaragaman hayati 2017 ini, sebaiknya pemerintah Indonesia juga memberikan informasi yang jelas dan akurat tentang species flora dan fauna yang ditemukan di Indonesia atau yang khas Indonesia, untuk dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

#pelstariancelepukindonesia #theOwlWorldofindonesia