Sudirta Lasabuda
Sudirta Lasabuda

Dan hanya jika kau peka, maka akan sering kau sadari bahwa saya selalu ada disaat kau, kalian dan mereka serta manusia manusia lainnya sedang merasa tak mengenal saya.

Selanjutnya

Tutup

Media

Lebih Baik Jadi Wartawan Onlen

2 Juli 2016   01:11 Diperbarui: 2 Juli 2016   01:27 30 1 0

SALAH SATU ide yang pernah merayap di kepala saya, supaya bisa selow bertahan hidup, adalah bisnis sampingan.  Tentu kesadaran soal bisnis sampingan ini, tak serta merta membuat saya kepikiran kalau ada juga bisnis pinggiran, bisnis tengahan, atau bisnis atasan.

Bisnis sampingan, bagi saya adalah, kita sedang menjalankan satu usaha atau profesi berlandaskan profit, dan sekaligus itu pula kita menjalankan satu usaha lainnya yang tujuan utamanya adalah profit alias keuntungan. Kalau di pepatahkan, maka inilah mungkin yang disebut, sambil menyelam minum air.

Yah, apapun istilah dan pepatah yang tepat untuk itu, bisnis sampingan adalah solusi bagi siapa saja yang menginginkan keuntungan berlimpah. Oportinistis dan ambisius. Kira-kira begitu.

Adakah syaratnya?  Tentu ada. Jaman gila begini tak ada syarat? Hubungan asmara aja selalu minta syarat kok (jangan merokok misalnya), masak berbisnis sampingan gak ada syarat. Tapi sudahlah. Saya tak akan membahas itu. Sebab apa? Sebab pengelola media ini pernah berkoar-koar di kantin Pemkab Boltim; tak ada yang saya syaratkan untuk sesuatu yang aku sukai. Makanya saya ragu membahas soal persyaratan, karena siapa mengira, gara-gara membahas itu, tulisan usai sahur ini, tak lulus untuk dimuat.

Tapi biarlah. Saya nekat. Maka dari itu saya berkata;  asalkan bisnis yang dijalani tidak mengganggu pekerjaan Anda, atau sebaliknya, pekerjaan yang mengganggu bisnis Anda, maka itulah syaratnya. *tidak run*

Lanjut!

Sejujurnya, yang namanya bisnis, bukanlah barang baru bagi saya. Jadi ingat bagaimana saya mengawali pekerjaan berbau bisnis. Itu adalah masa ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu.  Saya ditugaskan menjaga  Koperasi Sekolah. Semacam mini warung begitu. Teman saya Suaib Mashanaf pasti tidak akan pernah lupa peristiwa TGR kala itu (TGR : Tuntutan Ganti Rugi). *Apes!

Selain pernah TGR, cibiran dan olok-olok, pernah datang dari teman-teman kelas; “Cieee… Dhyrta macam gadis penjaga toko niyee”. Ada juga yang begini; “Eh bro, jagain koperasi ya? Kenapa bukan siskamling aja sekalian,”. Atau yang dikit pedih memancing emosi diri;  “Cewek cewek, WC sekolah dimana ya?”.

Itu hanya 3 olok-olok dari ribuan olok-olok yang tidak mungkin saya buka dan urai satu-satu di sini.

Meski rintangan dan badai itu datang silih-berganti, saya memilih enggan peduli. Berbisnis memang mengasyikan. Saya jadi tahu seperti apa rasanya pegang duit banyak (cuma pegang) dan bagaimana cara ‘memaksa’ atau merayu konsumen.

Sialnya, pengalaman itu tak membuat saya jadi piuner dalam berbisnis. Entah sudah berapa jenis usaha—dari pengalaman itu— yang pernah saya geluti; buka kursus komputer gratis bagi siswa-siswi SD se-Boltim, buka perpustakaan gratis di rumah, yang jelas saja dari usaha itu, saya gagal menjadi pebisnis. Kenapa? Ya,mana ada keuntungan dari usaha gratis? Padahal, potensi pasarnya cukup besar dan menjanjikan. Tapi setelah diubah jadi berbayar, eh langsung sepi.

Saya akhirnya terjun ke peruntungan bisnis parfum, yakni minyak wangi Arab. Saya dapat dari seorang kawan. Berharap dapat beli emas dari bisnis itu, eh yang ada malah hamir mati lemas. Akhirnya, saya memilih mundur dan tak peduli lagi soal dunia bisnis, setelah memutuskan untuk berkarir sebagai wartawan media online di Sulut.

Suatu ketika saya sempat membaca rubrik teknologi di salah satu surat kabar harian ternama berskala nasional di Indonesia. Isinya adalah tawaran bagaimana cara memperoleh dollar melalui internet (soal bisnis nih). Semacam ajakan yang ditawarkan kepada para pemilik situs atau blog.

Saya tiba-tiba merasa seperti sedang menemukan belahan jiwa yang hilang (dan gagal) selama ini, setelah membaca rubrik itu. Bisnis yang ditawarkan adalah bisnis onlen (online maksudnya/seperti pionner tadi dibaca; piuner).

Pada dasarnya, saya suka internet. Internet itu bagi saya seperti kotak pandora. ketika kita membuka kotak itu, tersembur jutaan informasi. Jadi, pas rasanya kalau saya menjalankan bisnis onlen.

Saya mulai mencari tahu, bagaimana dan seperti apa bisnis onlen ini. Hasilnya? sungguh mengecewakan. Coba simak rayuan berikut ini:

Rahasia hebat, bagaimana cara mendapat uang secara online hanya dalam 30 menit

Perhatian : satu dari rumus bikin duit yang paling canggih, mengesankan, rahasia dan terkenal! Pertama kali di Indonesia

Sungguh kepala saya seperti sedang pelintir mahluk halus dalam tayangan kampret [Masih] Dunia Lain. Mana ada orang mau membongkar rahasia yang rahasia itu mampu membuat si mulut ember itu bisa jadi triliuner? Adakah orang gila di jaman paceklik ini penuh kemuliaan hati membongkar rahasia begini; “Ayo, pergilah ke bawah pohon itu, ambil emas 100 kilo di situ,”. Lha, trus kenapa susah-susah bikin situs onlen lalu jualan di situ?

Simaklah pula berikut ini;

Apakah Anda mengalami masalah dengan pekerjaan kantor?  

Apakah Anda merasa terancam di PHK?

Apakah Anda selama ini sudah begitu kerja keras tapi penghasilan tidak bertsambah?

Anda ingin kaya tanpa kerja keras? 

Anda ingin uang jutaan rupiha tetap mengalir tiap hari, tapi anda hanya ongkang-ongkang kaki di rumah? 

Kalau jawaban di atas semua itu Iya, maka sudah waktunya Anda mengikuti program kami!

Cukup dengan mengeluarkan uang 299.000 rupiah, dijamin hidup Anda akan terbebas dari masalah finansial! 

Nah, hebat bukan? Dan betapa banyak situs – situs onlen yang seliweran seperti serigala yang tak pernah kenyang cari mangsa.

Maka mulai hari ini, tak ada lagi niat tumbuh dari dalam hati untuk menjadi pebisnis. Daripada menerima ajakan menggeluti bisnis onlen, lebih baik saya bertahan menjadi wartawan media onlen. Ini rahasia dan petuah saya pagi ini. Punya Anda mana? Ayo, kirim ke sini.