Cerpen Pilihan

Cerpen | Menunggu Ramadan

22 Juni 2017   16:20 Diperbarui: 23 Juni 2017   22:17 454 9 4
Cerpen | Menunggu Ramadan
pic: robcartwrightphotography.files.wordpress.com

Ini Minggu kedua aku membantu Sarmin berjualan kopi di warung miliknya. Upahku memang tak seberapa, paling tidak bisa menambah uang saku sebelum kembali ke kampung. Orang-orang menyebutnya mudik, tapi bagiku, pulang adalah sesuatu yang memalukan. Aku belum juga menjadi bos seperti yang Emak mau.

Sarmin tak mengizinkanku meracik kopi. Meski bubuk kopinya murahan, namun di tangan Sarmin kopi-kopi itu mampu membuat banyak lidah ketagihan. Bayangkan, segelas kopi miliknya dihargai tiga ribu rupiah, sedangkan pembelinya dalam sehari hampir seratus orang. Makanya dia tak menolak ketika aku mengajukan diri sebagai pencuci gelas di warungnya. Lokasinya yang berada di depan terminal memang sangat menguntungkan.

Yang membuatku heran bukanlah berapa banyak uang yang mampu Sarmin kantongi, namun seorang wanita tua berkebaya biru yang sedari pagi duduk di seberang sana. Beberapa kali wanita tua itu mengusap dahinya, sepertinya berkeringat. Aku juga tak melihatnya makan atau minum, barangkali puasa.

Selama aku bekerja di warung Sarmin, selama itu pula aku melihat wanita tua itu. Aku pikir ia sedang berdagang, namun tak satu pun barang ia pasarkan. Atau mungkin sedang menunggu bus yang akan membawanya pulang dari kota, tapi nyatanya masih kembali juga di tempat itu keesokan harinya. Aku mencegah pikiranku yang mengatai dia gila, yang akhirnya kuputuskan bertanya pada Sarmin.

“Min, siapa wanita tua di seberang sana?”

“Yang mana?”

“Itu, yang duduk di bawah pohon.”

“Berbaju biru?”

“Betul.”

“Mbok Surti.”

“Sehat?”

“Apanya?”

“Jiwanya, lah.”

“Sehat, hanya sering kumat setiap bulan Ramadan.”

“Seperti sedang menunggu dua Minggu ini?”

“Sampai lebaran nanti. Begitu juga dengan tahun-tahun sebelumnya.”

“Kau mengenalnya?”

“Pengurus panti yang menceritakannya padaku. Dulu aku juga penasaran sepertimu. Janggal rasanya melihat Mbok Surti terus menunggu di bawah pohon itu, seperti sedang mengawasi warungku. Akhirnya kuputuskan untuk membuntutinya pulang. Rupanya ia tinggal di panti jompo di ujung gang depan.”

“Di mana keluarganya?”

“Jika terus bercerita, aku akan rugi. Kau mau tak digaji?”

Aku mengalah. Sarmin benar, warung ini menjual kopi, bukan cerita. Kubiarkan tanya-tanya itu mengembang seperti adonan yang diragi di dalam kepalaku. Tentang apa yang Mbok Surti tunggu. Tentang bagaimana kisahnya sampai ia berjodoh dengan panti itu. Tentang siapa keluarganya. Juga keinginannya jelang Ramadan nanti.

Lewat senja, di sela-sela permintaan kopi yang tak pernah sepi, aku melihat seseorang mendekati Mbok Surti. Perempuan berkerudung hitam menarik tangannya, Mbok Surti menolak. Mereka terlibat percakapan yang sepertinya serius. Mbok Surti berteriak-teriak. Perempuan itu memilih mundur, menyandarkan tubuhnya di pintu toko yang baru saja tutup.

“Perempuan itu pengurus panti. Jika Mbok Surti tak kunjung pulang, maka salah satu dari pengurus panti akan menjemputnya. Terkadang Mbok Surti perlu dipaksa pulang, alasannya karena angin malam sangat tidak bagus untuk orang tua sepertinya.”

“O…”

“Kali ini kuizinkan kau mencari jawab atas tanyamu itu.”

Tak kusia-siakan kesempatan. Kutinggalkan cucian. Kuraih beberapa gorengan di meja juga dua gelas kopi.

“Wah, dasar semprul! Belum sebulan di sini sudah membuatku rugi!”

Sarmin berteriak. Aku tak takut melakukan itu, sebab Sarmin adalah orang yang baik. Jika tidak, untuk apa dia menerimaku bekerja di warungnya, sedangkan ia bisa mencuci gelas-gelasnya sendiri?

Aku mendekati Mbok Surti di antara keraguan dan keingintahuan. Setidaknya Mbok Surti tidak mengusirku duduk di sampingnya. Perempuan berkerudung hitam mengamatiku, mungkin takut bila aku mengambil sesuatu dari Mbok Surti. Apa juga yang bisa kucuri dari Mbok Surti? Masa, iya, kondenya?

Kusodorkan beberapa gorengan serta segelas kopi. Satu lagi akan kutawarkan pada perempuan itu setelah curiga luntur dari matanya.

“Gorengan, Mbok?”

Mbok Surti diam. Menoleh pun tidak.

“Kopi? Masih panas.”

“Siapa kau?”

“Sigit, Mbok. Buruh cuci Kang Sarmin, pemilik warung depan.”

“Mau apa kau?”

“Hanya memberi gorengan dan kopi.”

“Aku tak butuh semua itu.”

“Mungkin aku bisa carikan yang lain, Mbok? Nasi goreng?”

“Aku butuh Ramadan!”

“Tapi, Mbok…” belum tuntas jawab, perempuan itu menarik tanganku, memintaku sedikit menjauh dari Mbok Surti.

“Mbok Surti memang keras kepala. Kami pengurus panti harus lebih sabar menghadapinya di bulan Ramadan ini.”

Perempuan itu terlihat sedikit kesal. Sementara aku terus mengamati wajahnya. Jelitanya tak berkurang dengan kerudung hitam itu. Ah, aku tak boleh jatuh cinta. Calon istriku sedang menunggu di kampung.

“Sudah lama tinggal di panti?”

“Siapa? Aku atau Mbok Surti?”

“Mbok Surti,” tawa kami pun pecah di emparan toko.

“Hampir enam tahun.”

“Keluarganya?”

“Itulah yang sedang Mbok Surti tunggu. Ini tahun keenam Mbok Surti menunggu di tempat ini.”

“Lantas mana keluarganya?”

“Tak akan pernah datang.”

“Kurang ajar anak-anak zaman sekarang. Meninggalkan orang tuanya di panti jompo sedangkan mereka bersenang-senang.”

“Bukan begitu. Anak Mbok Surti sangat bertanggung jawab. Sebelum kejadian itu, anaknya masih rajin mengirimi uang dan juga menjenguk untuk kemudian menginap di panti sampai lebaran usai.”

“Kejadian apa?”

“Anaknya tewas tertabrak kereta ketika hendak menjenguk Mbok Surti enam tahun lalu.”

“Dan Mbok Surti masih terus menunggu?”

“Mbok Surti tak mau menerima kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal. Baginya Ramadan masih hidup hingga detik ini.”

“Ramadan?”

“Anaknya. Mbok Surti kerap menceritakan masa kecil anaknya, juga kapan dilahirkan, yaitu pada bulan Suci. Maka dari itu dinamainya Ramadan.”

Kini aku mengerti mengapa Mbok Surti tak pernah lelah menunggu. Ia setia pada rindunya untuk bertemu anaknya, meskipun sesungguhnya rindu itu tak akan pernah tertebus. Aku tak bisa menyalahkan Mbok Surti atas kekerasan kepalanya, sebab rasa kasihnya lebih besar sehingga menolak berita kematian anaknya.

“Kau kembalilah ke panti. Biar aku yang mengantar Mbok Surti pulang.”

Perempuan itu mengangguk lalu pamit meninggalkan kami.

Aku kembali mendekati Mbok Surti, duduk di sampingnya. Kami bersama-sama mengawasi kendaraan lalu-lalang. Bersama-sama memperhatikan pemudik naik-turun badan bus. Bersama-sama mengerti makna Ramadan yang sesungguhnya.

“Mbok, berhentilah menunggu.”

“Bukan urusanmu.”

“Dia tak akan pernah datang.”

“Tapi Ramadan sebentar lagi tiba, kan?”