Cucum Suminar
Cucum Suminar Penulis

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Artikel Utama

Mudik ke Belakangpadang, Menenteng Koper hingga Membawa Motor

9 Juni 2019   04:50 Diperbarui: 9 Juni 2019   07:55 163 13 5
Mudik ke Belakangpadang, Menenteng Koper hingga Membawa Motor
Motor yang dinaikan ke dalam perahu. | Dokumentasi Pribadi

Jarak Pulau Batam dan Pulau Belakangpadang, Batam, Kepulauan Riau, sangat dekat. Waktu tempuh kedua pulau tersebut hanya sekitar 15 hingga 20 menit. Meski demikian, pemudik dari Pulau Batam yang pulang kampung ke Pulau Belakangpadang tak kalah heboh. 

Mereka tak hanya membawa pakaian ganti dan buah tangan yang dimasukan ke dalam koper ataupun tas. Beberapa bahkan ada yang sengaja membawa sepeda motor.

Sebenarnya, membawa sepeda motor dari tempat perantauan ke kampung halaman merupakan hal yang sangat biasa. Banyak pemudik di Indonesia yang melakukan hal tersebut. Hanya saja fenomena tersebut terlihat sedikit berbeda bila dilakukan oleh pemudik yang akan balik ke Belakangpadang.

Boat yang jadi andalan transportasi. | Dokumentasi Pribadi
Boat yang jadi andalan transportasi. | Dokumentasi Pribadi

Pasalnya, Pulau Batam dan Pulau Belakangpadang yang dipisahkan oleh laut lepas, belum ada jalur darat. Alat transportasi juga sangat terbatas. Hanya mengandalkan perahu boat yang berukuran tidak terlalu besar. Alhasil, sepeda-sepeda motor yang dibawa mudik itu dinaikan ke dalam boat untuk diseberangkan.

Menyewa Perahu Boat
Para pemudik yang membawa sepeda motor umumnya menyewa boat untuk menyebrangkan sepeda motor mereka. Harga sewa boat bervariasi. Namun umumnya sekitar Rp200.000/satu kali jalan. Dari Pulau Batam ke Pulau Belakangpadang, atau sebaliknya dari Pulau Belakangpadang ke Pulau Batam.

Diangkat oleh beberapa orang. | Dokumentasi Pribadi
Diangkat oleh beberapa orang. | Dokumentasi Pribadi

Biaya menyeberangkan sepeda motor tersebut dinilai jauh lebih terjangkau dibanding harus menyewa becak atau ojek selama menghabiskan waktu di Belakangpadang. Terlebih bila anggota keluarga yang mudik lumayan banyak. Selain itu, menghabiskan waktu selama beberapa hari dan bolak-balik ke beberapa tempat hingga berkali-kali untuk beranjangsana.

Ongkos becak Rp25.000 per satu kali perjalanan. Sementara ongkos ojek Rp10.000/sekali perjalanan. Sementara kegiatan silaturahmi di Belakangpadang itu sangat kental. Setiap Idulfitri, mereka berkunjung dari satu kerabat ke kerabat yang lain, dari satu tetangga ke tetangga yang lain. 

Becak dan motor yang menjadi andalan transportasi di Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Becak dan motor yang menjadi andalan transportasi di Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi

Mereka umumnya saling balas-membalas kunjungan. Pada hari pertama lebaran, yang berusia lebih muda berkunjung ke rumah kerabat dan tetangga yang lebih tua. Lalu pada hari selanjutnya, giliran kerabat dan tetangga yang berusia lebih tua berkunjung ke kerabat dan tetangga yang lebih muda.

Bila rumah yang dikunjungi lumayan banyak, atau pada hari pertama dan kedua lebaran cuaca kurang bersahabat (baca: hujan), kunjungan dilanjutkan pada hari berikutnya. Tak heran open house di Belakangpadang dilakukan selama berhari-hari. Kue lebaran juga selalu siap tersaji, minimal selama tiga hari.

Jalan tidak terllau lebar, tetapi mulus. | Dokumentasi Pribadi
Jalan tidak terllau lebar, tetapi mulus. | Dokumentasi Pribadi

Meski pulau kecil yang jarak dari satu rumah ke rumah lain relatif dekat, lumayan letih juga bila harus berjalan kaki. Terlebih bila rumah yang harus dikunjungi lumayan banyak, dengan jarak yang sedikit berjauhan. Malam-malam betis dipastikan pegal. Saya pernah merasakan soalnya.

Apalagi bila tidak hujan, shalat Idulfitri juga tidak dilakukan di masjid dekat rumah, tetapi di Lapangan Indera Sakti yang dekat Pelabuhan. Bila rumah di Kampung Jawa atau Kampung Bugis ujung, lumayan juga lho jaraknya. Apalagi saat pagi hari kala lebaran hari pertama, tidak ada ojek ataupun becak yang beroperasi. Sehingga, bila tidak memiliki motor sendiri harus berjalan kaki sekitar 20 menit.

Silaturahmi saat lebaran. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga. | Dokumentasi Pribadi
Silaturahmi saat lebaran. Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga. | Dokumentasi Pribadi

Bila kita berjalan sendirian tanpa membawa krucils mungkin kuat. Namun bila harus sekalian menggendong bayi yang lebih berat dari sekantung beras, lumayan juga pegalnya. Apalagi bila harus dilakukan dua kali, pergi dan pulang. Saat sampai rumah, maunya selonjoran untuk menghilangkan pegal.

Becak dan ojek mudah ditemui di sekitar pasar dan pelabuhan. Namun bila sudah sedikit jauh dari dua pusat keramaian tersebut agak susah. 

Saat hari ketiga lebaran kemarin, saya terpaksa jalan kaki dari rumah nenek mertua ke pasar karena sepanjang jalan tidak menemukan ojek ataupun becak. Ada becak dari arah pasar ke Kampung Jawa, tetapi itupun berpenumpang.

Bisa Sambil Melihat-lihat
Bagi saya yang bukan penduduk lokal, berjalan kaki bisa sekalian dimanfaatkan untuk melihat-lihat dan menikmati suasana. Apalagi ada banyak ornamen seru khas Ramadan dan Idulfitri di sepanjang jalan. Sesekali saya juga mengambil gambar. Lumayan untuk "melupakan" pegal.

Salah satu sudut yang dibangun untuk menyambut Ramadan dan Idulfitri. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu sudut yang dibangun untuk menyambut Ramadan dan Idulfitri. | Dokumentasi Pribadi

Apalagi di sepanjang jalan juga ada banyak rumah-rumah khas Melayu yang dicat berwarna-warni. Sehingga, rasa lelah sedikit terobati. Ada penghiburan. Bila melakukan perjalanan dengan sepeda motor dan becak, belum tentu seleluasa itu mengambil gambar hehe. Salam Kompasiana! (*)