Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Gundah Gulana Petani Belang

6 Juni 2017   15:03 Diperbarui: 6 Juni 2017   16:07 426 0 1
Gundah Gulana Petani Belang
Ketut Sunarta, menghaturkan sesajen di pengulu sawah garapannya untuk kelancaran penggarapan bendungan dan senderan. (Dokumen pribadi)

Ketut Sunarta 62 tahun berjalan gontai sambil membawa sabit di pematang sawahnya yang hanya seluas 28 are. Kegundahan membuncah karena tahun ini walau matahari benderang langit biru, dia malahan bermuram durja. Panen di areal persawahannya yang kategori kelas 1 termasuk bagus. Dari garapan seperempat hektar itu dia bisa mendapatkan hampir Rp 5 juta hasil penjualan 2 ton gabah.

“Tapi ini panen terakhir tahun ini, karena 8 bulan ke depan jadi sampai tahun 2018 sawah di desa ini akan dihentikan aliran airnya,” tutur ayah dua anak ini. Perbaikan dam, pembuatan senderan, pendangkalan sungai adalah penyebabnya. Sawah sekitar 500 hektar di subak Belang Gianyar telah berulang-ulang mengalaminya.

Tahun sebelumnya hanya perbaikan bendungan selama 2 bulan, tapi masih ada hujan saat itu, petani bisa menyiasatinya dengan menanam kedelai walau hasil tidak memuaskan. Tahun ini selama 8 bulan selain musimnya juga kemarau tidak bisa menanam kedele, cabai atau kembang.

Belang merupakan kawasan terdekat dengan Ubud jaraknya tak sampai 5 km, tapi berada di bagian barat, tempat yang jarang dikunjungi oleh wisatawan. Di bagian utara dan timur seperti Junjungan atau Pejeng, turis biasanya bertandang untuk melihat petani membajak atau sekadar naik sepeda menikmati pemandangan alam yang masih asri.

Di Belang sebagian terbesar penduduknya mengandalkan pertanian. Tidak ada obyek wisata villa atau yang lainnya seperti toko suvenir yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan. Penduduk yang tidak memiliki lahan pertanian bekerja sebagai buruh bangunan.

“Tapi saya tak punya keterampilan itu, mentok jadi petani sejak kecil sampai sekarang punya cucu,” tuturnya sedih. Walaupun air akan terhenti karena perbaikan dam dan senderan, toh Sunarta tetap melakukan ritual untuk sawahnya. Misalnya walaupun air terhenti, dia tetap melakukan upacara yang disebut mantenin. Ini dilakukan setelah seluruh padi usai dipotong.

“Pada jaman dulu, ketika setiap rumah masih punya lumbung, upacara dilakukan secara meriah, memotong beberapa ekor ayam dan mengundang tetangga atau kerabat,” tuturnya. Begitu juga terhadap areal sawah yang akan terhenti aliran airnya seperti yang dialaminya sekarang ini, petani seperti dia tetap melakukan upacara yang disebut bendu piduka.

Semacam pemberitahuan kepada Dewi Sri sebagai penguasa persawahan menurut keyakinan orang Bali, bahwa untuk masa tanam sekarang ini sawah akan dibiarkan menganggur.

“Tidak ditanami palawija atau padi, sehingga harus dibuatkan sesajen permintaan maaf karena kami harus menghentikan kegiatan menanam padi,” tambahnya. Sesajen terdiri dari canang, segahan, dan haturan lainnya diletakkan di sudut barat daya atau di tempat aliran air di hulu areal persawahan.

Sunarta dan petani lain di Belang melakukannya beberapa hari sebelum aliran air benar benar terhenti. Selain permakluman secara niskala, juga petani mendoakan agar selama penggarapan bendungan dan senderan yang mengalirkan air ke persawahan hujan tidak turun.

“Dan yang terpenting mereka yang mengerjakan perbaikan bendungan itu bekerja dengan selamat tidak sakit atau mengalami kecelakaan sehingga pada musim panen nanti kami bisa menanam padi dengan semangat membara,” tukasnya. Selain menghaturkan sesajen untuk keselamatan pengerjaan bendungan, petani juga melakukan ritual yang bernama mantenin, yakni membuat simbol Dewi Sri dengan mengambil beberapa helai padi yang disimpan di kediaman setiap petani.

“Jaman dulu sebelum adanya padi unggul, mantenin ini juga sekaligus menyediakan gabah untuk dijadikan bibit masa tanam berikutnya,” ungkap Sunarta. Sekarang walau bibit unggul harus dibeli setiap musim panen tiba, mantenin dan runutan ritual yang biasa mereka lakukan di masa lampau tetap dilakukan.