Soraya Hariyani P
Soraya Hariyani P Mahasiswi

Penulis serabutan di negeri antah berantah.

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Akhir Pascasarjana: Menjadi Ibu Rumah Tangga

15 Juni 2017   19:58 Diperbarui: 15 Juni 2017   20:28 232 0 0

Menjadi mahasiswi (lagi) di sebuah PTN tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka yang haus akan ilmu dan diskusi hangat antar golongan. Hal itulah yang setidaknya saya rasakan setahun terakhir ini. Ya, kembali menjadi mahasiswi di PTN yang sama ternyata banyak mengubah pola pikir dan kebiasaan saya dalam melihat kehidupan termasuk di dalamnya banyak cerita yang menjadi peluang dan tantangan untuk dipecahkan di masa depan.

Menjadi mahasiswi pascasarjana bagi saya seperti kesempatan untuk bertemu banyak orang dari kalangan yang lebih berpengalaman, lebih berilmu, dan lebih pandai tentu saja. Pascasarjana bukan lagi bagaimana memeroleh nilai yang baik atau bagaimana memeroleh pekerjaan yang bergaji tinggi. Pascasarjana adalah tentang bagaimana kita melihat hidup ke depannya sebagai sebuah ladang bagi kita untuk berkembang dan mengembangkan lingkungan melalui daya upaya dan usaha yang bisa dilakukan sehingga banyak persoalan strategis yang bisa digarap secara baik dan maksimal sesuai dengan kompetensi.

Bagaimana bila saya bercita-cita menjadi ibu rumah tangga selepas kuliah pasca nanti? Ah, tentu kita semua tahu bahwa profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang diletakkan paling bawah dari berbagai profesi lainnya, bukan? Tapi saya merasa profesi ini banyak menciptakan peluang strategis yang tidak banyak diketahui orang lain.

Bagaimana menciptakan generasi yang tangguh dalam menghadapi perubahan zaman?

Bagaimana menumbuhkembangkan generasi yang sehat secara fisik dan jiwa? Menjadi manusia yang beradab dan berilmu

Bagaimana melatih generasi untuk mampu menjadi pribadi yang bisa bertanggungjawab dalam mengambil keputusan dan merencanakan rencana hidup ke depannya?

Hanya itu? Saya rasa poin utamanya adalah,

Bagaimana menciptakan generasi yang bertauhid, berpengalaman agama secara baik dan benar, mampu mengetahui mana halal dan haram, dan berorientasi pada kehidupan akhirat.

That's the point.

Menjadi alumnus pasca yang bertujuan untuk mendidik generasi dan menyertai keluarga dalam langkah suka dan duka adalah sebuah kebahagiaan luar biasa yang tidak semua orang bisa rasakan. 

Padahal ilmu yang kita peroleh, uang yang kita cari, umur yang kita habiskan, dan waktu yang kita kejar, tak lain dan tak bukan adalah untuk keluarga. Lantas, kenapa tidak kita puaskan ilmu, waktu, dan umur untuk keluarga?

Uang bisa dicari.

Ilmu bisa didapat.

Tapi umur dan waktu akan terus berjalan.

Bukan begitu?